Bakal Seperti Apa Kebijakan Tarif EBT?

Author : listrikinfo@gmail.com Dibuat : Feb 21, 2020

Bakal Seperti Apa Kebijakan Tarif EBT?

Listrik Indonesia | Perkembangan energi baru dan terbarukan (EBT) yang cenderung tersendat, salah satu diantara penyebabnya diperkirakan karena persoalan tarif. Tarif listrik yang dihasilkan dari pembangkit EBT sepertinya masih belum membuat puas investor yang bergerak di bidang pembangunan pembangkit EBT.

 

Pemerintah pun sepertinya sadar hal tersebut. Di tengah upaya menggenjot kapasitas EBT yang ditargetkan 23% pada 2025 dalam bauran energi nasional, pemerintah kini tengah merancang aturan baru terkait harga beli dari pembangkit listrik  EBT yang akan menggunakan skema feed in tariff dengan mekanisme berjenjang (staging) untuk kontrak baru.

 

Targetnya, aturan baru tarif EBT dalam bentuk Peraturan Presiden (Perpres) tersebut akan terbit pada paruh pertama 2020 ini.  Menurut Direktur Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Rida Mulyana,  dalam aturan Perpres itu nanti  akan diatur soal harga lima jenis EBT. Mulai dari PLTA mikrohidro, PLTS, PLTBm, dan juga pembangkit listrik tenaga angin. Hanya saja, Perpres tersebut tidak akan mengatur tentang pemanfaatan panas bumi atau geothermal.
 

Panas bumi rencananya akan diatur khusus. Mengapa? Karena menurut dia, geothermal atau panas bumi  sifatnya dinilai berbeda dari jenis EBT yang lain, sebab  risikonya dianggap lebih tinggi.  Jadi,  pemerintah tengah memikirkan skemanya yang dianggap cocok.  Yang menarik, Rida Mulyana menjelaskan dalam skema dalam harga EBT di luar panas bumi tersebut, harga listrik yang akan dibebankan di awal akan lebih tinggi. Ia bilang setelah tahun ke 12, harga listrik yang dibeli oleh PT PLN (Persero) pada pengembang EBT akan turun dan seterusnya tidak akan berubah hingga masa kontrak berakhir. Masa kontrak tersebut bisa 30 tahun ataupun 25 tahun

 

Rida, mengemukakan dibalik penetapan harga yang lebih tinggi di awal,  yakni supaya pengembang diharapkan dapat  balik modal lebih cepat. Sejalan dengan upaya meningkatkan kapasitas EBT, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) juga menargetkan  investasi sektor EBT dan konservasi energi (EBTKE) bisa mencapai US$ 20 miliar hingga tahun 2024 mendatang.

 

Menurut Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM, Agung Pribadi, pemerintah berupaya menambah kapasitas pembangkit EBT hingga 9.051 megawatt (MW) dalam lima tahun. Tahun 2020 ditargetkan meningkat 687 MW, lalu menjadi 1.001 MW pada tahun 2021, naik lagi  mencapai 1.922 MW di tahun 2022, kemudian  naik sebesar 1.778 MW. Puncaknya,  pada 2024 ada  penambahan kapasitas pembangkit EBT mencapai 3.664 MW. (AB)

 


Tags : News


0 Komentar

Berikan komentar anda

Top