Mall, My Second Home

Mall, My  Second Home

Mall   bukan lagi  sekedar tempat belanja. Ke mall bahkan  sudah menjadi gaya hidup sebagian besar masyarakat Ja­karta. Apa saja kini da­pat dilakukan di mall.
 >Erika Putri

Mau bukti? Lihat saja aktivitas warga Jakarta ketika weekend atau musim liburan tiba. Aktivitas liburan banyak dihabiskan di mall. Mulai dari belanja kebutuhan sehari-hari, bertemu dengan teman-teman lama (reuni), belajar sampai mengajak liburan anak melalui berbagai area bermain di mall.  

Simak saja pengalaman Mawar (29) yang mengerjakan tugas kuliah di mall. "Kami sedang mengerjakan tugas kuliah," ujarnya sambil sibuk mengetik dengan laptop. Didepannya ada Rita (30) yang juga serius memelototi layar laptopnya. Keduanya mengaku mahasiswi program magister manajememen di sebuah universitas negeri di Jakarta.

Adegan yang seharusnya ada di perpustakaan kampus itu terjadi di salah satu restoran di sebuah mall Jakarta Selatan. Sambil bekerja, sesekali keduanya makan makanan kecil dan menikmati segelas juice buah. Mengerjakan tugas sambil rekreasi? Bagaimana mereka bisa bekerja di tengah mall yang ramai?

”Kami sudah biasa. Bahkan cepat bila menulis di keramaian. Kalau di rumah, bawaannya bosan. Belum lagi disibukkan urusan rumah tangga dan anak. Kalau agak jenuh, kan bisa beli makanan atau jalan-jalan,” kata Rita.

“Saya sudah biasa cuci mata, ma­kan, belanja, kerja, sampai rapat di mall. Semuanya bisa dalam satu kali kunjungan. Saya selalu bawa laptop meski tujuan awalnya belanja. Mall sudah jadi bagian dari hidup saya,” tambah Mawar.

Memang pusat perbelanjaan atau mall di Jakarta saat ini, bisa dikatakan semakin marak dan tumbuh di luar kendali. Ini kabarnya membuat Jakarta menjadi kota dengan mall terbanyak di dunia. Dengan jumlah pusat perbelanjaan mencapai 170 lebih, dapat dikatakan Jakarta memiliki mall yang melebihi batas ideal dari jumlah penduduknya.

Bahkan dalam rangka menciptakan Jakarta sebagai kota tujuan wisata belanja, pemerintah mengadakan program “Enjoy Jakarta”. Program ini salah satunya diadakan di pusat-pusat perbelanjaan yang terdapat di Jakarta.

Untuk mewujudkan Jakarta se­ba­­gai tujuan wisata belanja yang unggul, pemerintah saat ini sedang mengembangkan poros Casablanca-Satrio sebagai poros wisata belanja. Di poros ini, selain sudah ada pusat perbelanjaan Mall Ambassador dan ITC Kuningan, nantinya juga hadir pusat perbelanjaan Ciputra World, Kuningan City, dan Kota Casablanca. Rasuna Epicentrum yang tak jauh dari poros itu, akan diintegrasikan ke dalam poros wisata belanja Casablanca-Satrio.

Pemerintah DKI Jakarta gencar membangun pusat-pusat perbelanjaan modern sejak awal tahun 1910. Saat ini Jakarta merupakan salah satu kota di Asia yang banyak memiliki pusat perbelanjaan. Beberapa pusat perbelanjaan modern di Jakarta memiliki luas yang cukup besar (lebih dari 100.000 m2), dan beberapa luasnya di bawah 100.000 m2. Di pusat-pusat perbelanjaan tersebut hadir berbagai waralaba internasional seperti Starbucks, Sogo, jaringan restoran siap saji McDonalds. Selain itu, perusahaan-perusahaan waralaba nasional juga memenuhi ruang pusat-pusat perbelanjaan tersebut, seperti Es Teler 77, J.Co dan Bakmie Gajah Mada.

Banyaknya jumlah mal membuat masyarakat Jakarta kerap menjadikan mall sebagai tempat berkumpul baik bersama keluarga maupun teman serta rekan kerja. Mall sudah menjadi gaya hidup warga Jakarta, bahkan Indonesia. Salah satu faktor penyebabnya adalah Indonesia tidak memiliki taman kota sebagai pusat hiburan di luar ruangan Mall memberi kenyamanan untuk ma­kan, bekerja, olahraga bahkan tem­pat bermain anak.

Dilihat dari segi ekonomi, mall juga menyediakan beragam pilihan sesuai kelas dan jenis. Terdapat mall dari kelas atas, menengah, hingga bawah. Begitu juga dengan variasi makanan, mulai dari makanan berkelas hingga harga kaki lima. Kebutuhan ibu rumah tangga tersedia di pasar swalayan. Intinya gaya hidup mall dapat membuat pengeluaran lebih banyak. Karena, segala keperluan hidup ada di sana dan itu dapat membuat orang menjadi lebih konsumtif.

Melihat fenomena itu, pengelola mall di Jakarta berbenah, membangun berbagai fasilitas. Tak saja penampilan dipoles agar lebih memikat, juga di­bangun ruang-ruang baru untuk me­nam­pung beragam kebutuhan. Mall FX Jakarta misalnya memiliki 12 ruang meeting di lantai dua yang bernama POD. Ukurannya beda-beda dan bentuknya dinamis, seperti oval, bulat, dan kurva.

Ruangan ini dilengkapi peralatan kantor canggih, seperti mesin faksi­mili, printer, internet connection, telecommunication & conference net­work, inhouse secretary, atau in-focus. Dinding ruangannya berupa kaca transparan.

Berbeda lagi dengan mall lain, Plaza Senayan, juga memproklamasikan diri sebagai pusat mode dan tempat pertemuan. Corporate Marketing and Communication Manager Plaza Senayan Natalia Anita Hatmarini menuturkan, mall ini memperbanyak tempat pertemuan yang menyebar di beberapa lantai.

Mulai dari foodcourt di basement dan lantai tiga, berbagai kafe di lantai satu, hingga restoran di lantai dua dan tiga. Ada juga tempat dengan akses tersendiri sehingga bisa buka lebih pagi dari jam operasi mall. Beberapa tempat makan juga menyediakan waktu 24 jam buka operasional. Anda tertarik ke mall yang mana? ■

MENGGERUS RUANG PUBLIK
Pada masyarakat perkotaan, mall saat ini sudah menjadi tempat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sekarang, mall tidak hanya dirancang sebagai tempat belanja, juga digunakan untuk tempat hang out banyak kalangan. Sarana lengkap mulai resto, butik fesyen sampai salon spa, membuat mall seperti ‘rumah kedua’ bagi banyak orang terutama kaum hawa.

Untuk mendukung pola gaya hidup ini, tak heran jika pengelola mall merancang dengan konsep yang memadukan lifestyle dan entertainment. Misalkan dengan pertunjukan live music sampai event khusus seperti nonton bareng, bahkan untuk rekreasi. Banyak juga yang pergi ke mall untuk sekadar untuk mencari suasana yang lain atau datang ke mall karena memang suka dengan suasana mall yang nyaman. Apalagi di mall ia bisa melihat-lihat produk fesyen dan lainnya.

Mall sebagai tempat rekreasi dinilai banyak kalangan positif. Namun, harus dipertimbangkan aspek lokasi dan dampaknya pada kehidupan perekonomian di daerah dan kota sekitarnya. Di luar negeri, katakanlah Amerika, mall sebagai tempat rekreasi sangat positif dan banyak diminati. Hanya saja, lokasinya di pinggir kota, atau berjarak 20-40 km dari pusat kota.
Menurut pengamat budaya dari Universitas Indonesia, Bagus Takwin, perkembangan ini menggembirakan sekaligus memprihatinkan. Di satu sisi, mungkin warga semakin kreatif membajak pasar untuk kepentingan lebih produktif.

Di sisi lain, semua itu terjadi karena kota tidak lagi punya ruang publik - seperti taman, trotoar, lapangan, atau ruang terbuka lain - yang nyaman. Tentu saja ini semakin menggerus ruang publik. Apalagi bila mall sudah didirikan dibanyak tempat, tanpa mempertimbangkan kepentingan masyarakat lagi.

Pada saat bersamaan, mall menyediakan ruang di tengah kota yang lebih menarik, enak, dingin, dan banyak obyek untuk dilihat. Dengan lokasi di titik-titik strategis, mall lebih mudah diakses di tengah lalu lintas yang macet. Wajar saja jika akhirnya banyak orang suka nongkrong di mall. Namun, terlalu sering ke mall, tanpa diimbangi kesadaran bisa menggoda siapa saja untuk terseret dalam putaran konsumsi. Kita tentu tidak ingin bukan? ■

Author :

Tags : Lifestyle

0 Komentar

Berikan komentar anda

Top