Batubara untuk Ketahanan Energi

Author : Administrator
Batubara untuk Ketahanan Energi Kebutuhan pasokan listrik komersil dan industri 60% dihasilkan dari energi fosil. Bagaimana se­benarnya  potensi pe­manfaatan kon­versi ener­gi CBM dan Gasifikasi?


Minyak bumi, batu bara, dan gas alam masih menjadi primadona untuk memenuhi sebagian besar kebutuhan energi listrik. Padahal, stok bahan bakar fosil sebagai sumber energi saat ini terus berkurang.
Menurut Direktur Energi Primer PLN, Nur Pamudji, pemerintah per­lu  mengakomodir percepatan  pengem­bangan dan pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) diversifikasi dari coal and gas. Hal ini dianggap se­bagai solusi jitu untuk mengatasi masalah elektrifikasi nasional. PT PLN (Persero) juga gencar memanfaatkan energi EBT untuk pembangkit listrik. Misalnya tenaga hydro, batu bara, panas bumi, gas alam, dan tenaga surya. Meski tetap fokus utamanya pada pengembangan energi listrik dari batubara dan gas.

Kebutuhan listrik nasional diperkirakan akan meningkat hingga 8 kali lipat dalam 25 tahun, dari 124 TWh pada tahun 2005 sampai dengan 970 TWh pada tahun 2030. Kondisi ini didorong oleh pertumbuhan ekonomi yang pesat serta peningkatan pemasangan tenaga listrik dipedesaan. Oleh karena itu, pemanfaatan infrastruktur Sumber Daya Air (SDA) dan energi matahari menjadi penting.  

Kekhawatiran  akan habisnya sumber energi berbasis fosil  bukan tanpa alasan. Berdasarkan data, kebutuhan tenaga listrik nasional sebagian besar dipasok dari pembangkit listrik berbahan baku batubara kurang lebih 50 persen dan sumber lainnya dipasok dari pembangkit listrik berbahan bakar fosil lainnya, panas bumi dan Pembangkit Listrik Tenaga Air.

Kondisi tersebut, diproyeksikan akan meningkat seiring dengan meningkatnya kebutuhan akan listrik. Sedangkan pada tahun 2030, diperkirakan pemakaian batubara untuk memasok tenaga listrik akan mencapai 645 TWh, atau 66% dari total kebutuhan pada tahun tersebut atau sekitar 720 TWh.
“Dukungan dari pemerintah dan DPR sangat signifikan mendorong pengembangan renewable energy. Yang jadi persoalan, kita masih harus terus belajar dan menyiapkan infrastrukturnya. Potensi batubara untuk dikonversi menjadi energi melalui gasifikasi dan coal bed methane (CBM) juga harus diandalkan  untuk diprioritaskan memenuhi kebutuhan energi di dalam negeri, jangan dihabiskan untuk konsumsi ekspor,“ kata Nur Pamudji.
Kini, sejumlah negara memperebutkan cadangan energi fosil yang kian menipis. Indonesia bisa dikatakan berbeda sebab mempunyai kekayaan beragam energi khususnya CBM (gas methane yang ada di dalam lapisan-lapisan batubara di dalam tanah). Lumbung energi gas methane di Indonesia ada di Sumatera, tepatnya Sumatera Selatan (Sumsel) dan Kalimantan.

Dalam penerapan energi baru, PLN berniat memanfaatkan CBM melalui kerjasama dengan produsen CBM.
“Saat ini PLN telah menandatangani MoU dengan tiga produsen CBM di Banjarmasin, melakukan studi bersama bagaimana pemanfaatan CBM. Sehingga pada saat diproduksi  bisa diserap oleh PLN. Operator dari ketiga produsen itu dilaksanakan oleh Exxon. Kita juga melakukan hal yang sama dengan produsen pemegang konsesi lainnya," papar Nur.

  Potensi sumber Coal Bed Methane  (CBM) batubara lainnya ada di perut bumi Andalas, dengan kandungan 183 triliun kaki kubik (Tcf). CBM di Sumsel menjadi nomor satu di dunia, namun yang baru dimanfaatkan sangat minim.Pemanfaatan CBM untuk pembangkit tenaga listrik dari operator terkait masih dalam tahapan proses produksi pemanfaatannya.

Tantangan dan kendala bagi pengembangan CBM adalah proses dalam mencari bentuk, baik bagi produsen maupun pemerintah sebagai regulator. PLN juga harus memgetahui bahwa karakteristik CBM itu berbeda dengan gas. Intinya kita belajar bersama dari mulai regulasi, produksi sampai pemanfaatan. Intinya,semua masih dalam learning process sehingga pengembangannya membutuhkan waktu.    

Diversifikasi bentuk energi dari batubara adalah gasifikasi. Gasifikasi berjalan sukses pada batubara berkalori tinggi (batubara thermal). Sementara dari sisi teknologi tidak bisa cepat dikembangkan karena kita masih konservatif. Menurut catatan redaksi, masalah infrasruktur tidak ada kendala karena ada 2 alternatif bagi batubara untuk digasifikasi di tempat maupun lewat pipa, berupa LNG dan SNG (synthetic natural gas). Kedua infrastruktur ini harus dikembangkan secara terintegrasi.

Menurut data Dirjen Energi Baru Terbarukan (EBT), sumber energi listrik lainnya yang perlu dikembangkan adalah panas bumi (geothermal). Sebanyak 40 persen gas bumi di dunia ada di Indonesia. Tapi, sebanyak 70 persen dari 40 persen itu tersimpan di Sumsel. Potensi ketiga adalah batu bara. Sebanyak 48,45 persen cadangan batu bara Indonesia ada di Sumsel dan bisa habis dalam 4.700 tahun. Tapi, baru dieksplorasi 10-12 ton per tahun.
Luas Indonesia yang dikuasai lautan juga jadi sumber energi. Energi hydro power sekitar 75.670 Megawatt. Energi arus laut sebesar 35.000 MW justru belum termanfaatkan sama sekali.

Mantan GM PLN P3B Jawa-Bali ini memaparkan, tantangan pengembangan sektor ESDM antara lainnya adanya miss match kebutuhan dan sumber pasokan energi, aksesibilitas energi yang belum sepenuhnya memadai, terbatasnya daya beli masyarakat, serta energi untuk pemenuhan kebutuhan domestik dan pendapatan negara
Penyediaan energi primer untuk pembangkitan dari EBT meningkat dari 37,9 ribu setara barel minyak (SBM) pada 2005 menjadi 41,2 ribu SBM pada 2010.

Namun secara persentase dalam bauran pembangkit, turun dari sebesar 15,9 persen menjadi sebesar 10 persen. Sampai saat ini, EBT terbesar hanya disumbang tenaga air dan panas bumi, sedangkan peranan EBT lain sangat kecil.
Pemerintah, sangat konsisten mengembangkan EBT terkait wacana penghapusan subsidi energi. Laporan Kemenkeu, penggunaan subsidi BBM meningkat dari 38,59 juta KL menjadi 40,49 juta KL. Selain itu, policy pricing yang tepat dan undang-undang yang mengakomodasi kepentingan semua pihak diperlukan sehingga orang senang berinvestasi di bidang energi.
Pengembangan  sumber-sumber EBT yang tepat seharusnya dapat berkontribusi positif dalam memelihara lingkungan. Pemerintah bersama DPR, akan menciptakan ketahanan energi khususnya batubara. UU No. 4 Tahun 2009 mengamanahkan pemerintah berkewajiban menyiapkan konsensi cadangan batubara untuk kebutuhan listrik di masa yang akan datang, kita butuh sumber energi primer dalam jumlah besar dan jangka waktu lama.

Engineer lulusan ITB yang me-lanjutkan kuliah pascasarjananya di University Of New South Wales Australia dan memperoleh gelar Master of Public Management dari National University Singapore, sangat yakin PLTB akan memegang peran yang sangat diandalkan bagi PLN, karena pasokan listrik komersial dan industri 60 persen adalah dari konversi energi batubara, sementara sisanya diperuntukan bagi kebutuhan rumah tangga. Menurut Nur Pamudji, tidak ada kendala yang signifikan bagi pengembangan energi baru dan terbarukan hanya butuh kesesuaian. Misalnya PLTS hanya cocok untuk memasok kebutuhan listrik dengan skala kecil di daerah kepulauan.

Investasi untuk pengembangan energi alternatif masih dianggap mahal, tidak sesuai dengan nilai jual yang diadopsi oleh pemerintah. Pijakan regulasi pembelian energi listrik yang dihasilkan dari pengembangan EBT tertuang pada Permen No. 31 tahun 1999 mengenai harga ditentukan oleh pemerintah. PLN membeli tanpa negosiasi. "Kita harus tetap optimis mengembangkan renewable energy dengan pemikiran  dan kerja keras. Batubara dan gas harus tetap jadi andalan utama, menjadi cadangan energi nasional. Pemerintah harus membuat buffer (penyangga) bagi ketersediaan batubara dan gas," ungkapnya. ■ Deddy Heryadi Hassan


0 voters

0 Komentar

Loading

Berikan komentar anda

Nama
Email
Website
Komentar
 
Masukkan kode diatas