Blackout Mirip Kecelakaan Pesawat

Author : Franki Dibuat : Aug 12, 2019

Blackout Mirip Kecelakaan Pesawat
Listrik Indonesia - Jakarta | Mengenai padamnya listrik yang terjadi pada 4 Agustus lalu, Ketua CIGRE Indonesia (Conseil International des Grands Reseaux Electriques) atau Dewan Internasional untuk Sistem Listrik Besar, Herman Darnel Ibrahim berpendapat bahwa kondisi kelistrikan Indonesia bisa dianalogikan dengan badan manusia atau pesawat terbang.

"Orang yang sehat yang selalu menjaga kesehatannya dengan olahraga teratur dan medical checkup secara periodik kan bisa juga meninggal secara mendadak. Dan sebuah sistem tenaga listrik yg kuat yg sudah disiapkan untuk beoperasi secara andal juga bisa mrngalami gangguan meluas atau blackout. Itulah gambaran terkait peristiwa padam listrik yang terjadi pada sistem jawa bali" jelas Herman Darnel Ibrahim kepada Listrik Indonesia.com, Senin (12/8).

Sistem listrik di wilayah Jawa ini adalah sistem yang paling kuat di Indonesia. Sistem besar dengan interkoneksi yg masif memiliki lebih 220 unit pembangkt, sekitar 500 unit gardu induk saling tersambung secara masif dengan sekitar 17000 kilometer sirkit jarungan transmisi adalah sistem yang solid yang tak rentan terhadap blackout. Pasokan dari sitem lustrik Jawa Bali sangat andal nyaris tanpa gangguan yang berarti sejak blackout terakhir yang terjadi 10 tahun lalu, 18 Maret 2009.

"Black out ini juga mirip dengan kecelakaan pesawat. Seperti pada operasi pesawat sistem listrik Jawa Bali dikendalikan dari detik ke detik di pusat pengendalian di Gandul dengan fasilitas pengendaluan berbasis komputer. Setiap hari dibuat rencana operasi dengan prinsip untuk keandalan, menjaga mutu listrik dan biaya yang ekonomis. Risiko dan ketahanan terhadap blackout dianalisa dengan program Contingency Analysis. Semuanya di cek meghindarkan adanya  gangguan dan menjaga agar ketahanan sistem memenuhi kriteria yang ditetapkan” ujarnya.

Ia mengatakan, sistem listrik Jawa sebenarnya tidak rentan terhadap gangguan, dan sudah ada langkah-langkah mitigasi untuk antisipasi terjadinya insiden seperti blackout yang bisa mengancam pasokan listrik. Mulai dari sistem transmisi, pembangkit, yang semuanya sudah diatur dan diamankan dengan mengikuti aturan jaringan (Grid Code) yg ditetapkan Pemerintah, dan juga Standard Operation Procedure (SOP) yang di sempurnakan terus menerus, emuanya sudah jelas dan dilakukan dengan baik. Sesuai perencanaan dan peinsip prinsip pengendalian operasi.

Namun kejadian kemarin, jika dilihat dari kronologis yang dipaparkan oleh PLN, penyebabnya ada beberapa kemungkinan dan tidak tunggal. "Gangguan pertama memang dari transmisi 500  kilovolt Ungaran-Pemalang dan itu sudah di clearkan dengan beroperasinya proteksi dengan baik mengisolasi gangguan tersebut. Sistem kemudian bertahan tanpa pemadaman  atau pengurangan beban. Berselang swkitar15 menit kemudian terjadi lagi gangguan saluran kedua pada jalur yang sama Ungaran Pemalang.  Sistempun masih bertahan namun beberapa menit kemudian disusul dengan terlepasnya  saluran transmisi 500 kilovolt Tasikmalaya-Depok sehingga sistem bagian barat Jawa, yaitu sebagian Jabar Jakarta dan Banten terpisah membentuk pulau operasi tersendiri.

Terlepasnya transmisi Tasikmalaya-Depok yang memisahkan Jawa bagian Barat dan Timur kemungkinan besar karena terjadinya suatu fenomena siatem lustrik yang disebut power swing, (semacam ayunan). Dengan situasi tersebut dimana sistem barat dengan beban sekitar 12000 Megawatt mengalami defisit sekitar 2000 Megawatt. Mengahapi konsisi semacam ini sebenarnya sudah disiapkan mitigasi mencegah gangguan berlanjut yaitu:  Pertama pelepasan beban secara otomatis menggunkan skema UFR atau under frequency relay untuk membalance kelurangan pasokan, kedua merespon turunnya frequency akibat kelebihan beban dengan cadangan panas pembangkit yang  mungkin masih tersisa (jika ada). Ketiga adalah pengamanan melalui Islanding yaitu memisahkan siatem memjadi benerapa cluster (semacam pulau) khususnya islanding Jakarta yang Protapnya harus diamanksn dari Blackout dengan prioritas paling tinggi. Keempat adalah pelepasan beban secara manual oleh Dispatcher pengendali sistem Jawa Bali tang mungkin masih bisa dilakukan dengan cepat.

Namun tak berselang lama setwlah terpisahnya Sistem Barat dan Timur, terjadi lagi gangguan 1 unit penbangkit lepas yang seharusnya bisa tetap bertahan karena sesuai grid code pembangkit harus bertahan sampai frequency 47.5 Hertz. Setelah itu sesuai penjelasan pihak PLN beberapa pembangkit kain ikut lepas dan terjadilah bencana blackout tersebut. Secara teknis kmungkinan penyebab adalah gagal nya salah satu atau lebih dari  keempat skema pengaman yang telah disiapkan tersebut. Namun tidak tertutup kemungkinan penyebab lain yang bisa terungkap dari hasil investigasi.

"Jadi sebenarnya penyebab blackout itu bukanlah pohon. Gangguan pohon itu sesuai catatan PLN telah diisolasi. Pohon itu bisa jadi pemicu tapi kepastian seluruhnya baru dapat disimpulkan dengan suatu investigasi, layaknya melakukan visum untuk memastikan penyebab terhadap seorang yang sehat yang meninggal secara mendadak”  pungkas Herman Darnel. (DH)

Tags : News


0 Komentar

Berikan komentar anda

Top