ASEAN Power Grid, Mewujudkan Integrasi Sistem Kelistrikan ASEAN

ASEAN Power Grid, Mewujudkan Integrasi Sistem Kelistrikan ASEAN

Permintaan terhadap listrik di kawasan Asia Tenggara pada 2025 mendatang akan mencapai 189 ribu MW.  Ada sekitar 16 proyek yang disiapkan untuk memenuhi kebutuhan permintaan listrik di kawasan Asia Tenggara tersebut.

Hasil studi dari The Association of Southeast Asia Nastions (ASEAN) Intergrated Masterplans Study ke-2 (AIMS-II) pada 2010 menghasilkan sekitar 16 proyek interkoneksi kelistrikan di kawasan ASEAN.  Ke-16 proyek itu disebut ASEAN Power Grid Interconnections atau dikenal sebagai ASEAN Power Grid. Nota kesepahaman kerjasama atau Memorandum of Understanding (MoU) mengenai ASEAN Power Grid tersebut ditandatangani oleh 10 negara anggota ASEAN pada 23 Agustus 2007 di Singapura.

Di Indonesia, ASEAN Power Grid atau Jaringan Transmisi Tenaga Listrik ASEAN secara legal dituangkan ke dalam Peraturan Presiden (Perpres) Republik Indonesia Nomor 77 Tahun 2008 Tentang Pengesahan Memorandum of Understanding On The ASEAN Power Grid (Memorandum Saling Pengertian Mengenai Jaringan Transmisi Tenaga Listrik ASEAN)”.

Menurut Syaiful Bakhri, Secretary in Charge dari Head of ASEAN Public Utilities and Agency (HAPUA) Indonesia, posisi Indonesia dalam kerjasama kelistrikan ASEAN sangat strategis. Indonesia yang dalam HAPUA diwakili oleh PT PLN (Persero), memiliki konsumen paling besar di ASEAN. Ke-16 proyek ASEAN Power Grid tersebut sangat penting dalam rangka mengatasi kebutuhan permintaan listrik di kawasan ASEAN dalam 13 tahun mendatang. “Hasil studi tersebut (AIMS-2) menunjukkan bahwa demand electricity di ASEAN pada 2025 akan mencapai 189 ribu MW (Megawatt),” terang Syaiful.

Studi AIMS-2 juga menunjukkan bahwa pada 2025 mendatang, diperkirakan total daya beli listrik di ASEAN akan mencapai 19.576 MW dengan sekitar 3 ribu MW interkoneksi yang terjadi di seluruh kawasan ASEAN. Integrasi jaringan yang dihasilkan di ASEAN juga diperkirakan menghasilkan sekitar 788 MUSD net saving dengan kapasitas terpasang sebesar 2.013 MW.

Dari sisi pengguna listrik,  total konsumen listrik di Indonesia pada 2009 berdasarkan data dari HAPUA ada sebanyak 34,559 juta dengan pangsa pasar sebesar 39,98% atau merupakan yang terbesar di ASEAN dari sisi pangsa pasar. Dalam periode yang sama kapasitas terpasang energi di kawasan ASEAN mencapai 143.810 MW dengan total penjualan energi listrik sebanyak 454 terrawatt hours (TWh)

Di samping memiliki jumlah konsumen paling besar di ASEAN, kerjasama energi ASEAN juga sangat membutuhkan kehadiran Indonesia. Pasalnya, Indonesia memiliki sumber bahan bakar energi batu bara dan gas alam yang notabene memang sangat dibutuhkan oleh seluruh negara-negara di kawasan ASEAN untuk  fuel mix. 

Hasil studi AIMS-2 yang dilakukan oleh working group atau Kelompok Kerja dalam HAPUA menunjukkan bahwa Liquid Petroleum Gas (LPG) merupakan sumber bahan bakar energi listrik yang paling dibutuhkan oleh negara-negara di kawasan Asia Tenggara. “Keduanya (sumber energi batu bara dan gas alam) dimiliki Indonesia, sehingga masa depan ASEAN sangat bergantung pada Indonesia,” imbuh Syaiful.

Secara umum, ada beberapa komitmen kerjasama lain yang disepakati oleh negara-negara ASEAN dalam bidang energi dan kelistrikan. Diantaranya potensi kerjasama interkoneksi pembangkit hydro sekitar 12%; 4,9% geothermal, kerjasama interkonesi pembangkit minyak bumi sekitar 4,2%, natural gas sebesar 11,6%, dan batu bara sebesar 67%. 

Author :

Tags : Manca Negara

0 Komentar

Berikan komentar anda

Top