Empat Universitas Malaysia Berkunjung ke STT PLN Jakarta

Author : Franki Dibuat : Aug 3, 2018

Empat Universitas Malaysia Berkunjung ke STT PLN Jakarta
Listrik Indonesia | Government Linked Universities (GLU)  berkunjung ke Sekolah Tinggi Teknik PLN (STT PLN) Jakarta, guna menjajaki kerjasama di bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat, Kamis (2/8).

GLU yang merupakan Aliansi Perguruan Tinggi dari Malaysia yang terdiri dari Universiti Kuala Lumpur (#UniKL), Multimedia University (#MMU), Universiti Teknologi Petronas (#UTP), dan Universiti Tenaga Nasional (#UNITEN) diterima langsung oleh  jajaran Pimpinan STT PLN, di antaranya Supriadi Legino (Rektor), Djoko Paryoto, Luqman Umar, Sely Karmila, dan Bambang Isti Eddy.

Menurut Supriadi, kedatangan GLU merupakan suatu kehormatan bagi STT PLN. "STT PLN yang merupakan perguruan tinggi yang fokus pada bidang energi dan ketenagalistrikan, tentunya dapat berkolaborasi dengan universitas yang tergabung dalam GLU, terutama terkait dengan inovasi distributed power generation dalam metoda Listrik Kerakyatan dan Tempat Olah Sampah Setempat," ujarnya.

Sama seperti keempat universitas Malaysia tersebut, STT PLN juga tergabung dalam Aliansi Perguruan Tinggi Berbasis Badan Usaha Milik Negara (APERTI-BUMN).

Selanjutnya juru bicara GLU, Prof. Dr. Mohamed Ibrahim Abdul Mutalib menyatakan, pertemuan dengan STT PLN merupakan langkah yang baik dalam hubungan kerjasama internasional kedua belah pihak.

"Di era modern saat ini, wawasan dan jaringan pertemanan antarmahasiswa harus ditingkatkan. Oleh karena itu, program pertukaran pelajar, internship pada perusahaan yang erat kaitannya dengan universitas sangat diperlukan," sambungnya.  

Kunjungan GLU ke STT PLN juga untuk mengetahui program Listrik Kerakyatan dan Tempat Olah Sampah Setempat. Setelah melakukan perkenalan dan ramah-tamah, selanjutnya Pimpinan STT PLN mengajak GLU ke laboraturium LK-TOSS serta laboratorium Solar Panel.

Supriadi bersama jajaran mendemonstrasikan seluruh proses LK-TOSS dan menjelaskan keberhasilan program ini di Klungkung, Bali. Pihak GLU sangat antusias dan mengatakan menyolusikan sampah dengan metode sederhana namun menghasilkan produk berupa pelet yang memiliki nilai kalori setara batu bara adalah sesuatu yang brilian dan mampu menjadi solusi terutama di negara berkembang di Asia.

Prof. Bahisam Yunus mengatakan bahwa sebagian besar negara berkembang masih mengandalkan pembangkit listik tenaga uap.

"Dengan nilai kalori 3300 kcal/kg, saya rasa akan mampu menjadi energi masa depan. Apalagi yang saya dengar dari Pak Supriadi, dapat diproses kurang dari 10 hari. Sedangkan batu bara saja terproses alam dalam waktu jutaan tahun," ungkap Prof. Bahisam terkagum kepada LK-TOSS. (AM/f)

Tags : News
Terakhir disunting : Aug 3, 2018


0 Komentar

Berikan komentar anda

Top