Gedung Hemat Energi, Mungkinkah?

Author : Administrator
Gedung Hemat Energi,  Mungkinkah?Gedung hemat energi belum banyak di Indonesia. Salah satu penyebabnya karena tarif listrik masih relatif murah. Tetapi beberapa kantor sudah mencobanya.

Belum lama ini, di Jakarta, Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (DJEBTKE), Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral bersama Pemerintah Den­mark melalui DANIDA (Danish Inter­national Development Assistance) meluncurkan Energy Efficiency and Conservation Clearing House Indonesia (EECCHI). EECCHI adalah salah satu komponen dari Program Efficiency in Industrial, Commercial and Public Sector (EINCOPS).

Salah satu komponen dari  Program EINCOPS adalah program Gedung Hemat Energi. Salah satu kegiatan riilnya adalah melakukan retrofitting atau up-grade pada Gedung Annex lantai 5 Kantor Ditjen Ketenagalistrikan yang menjadi gedung kantor EECHI.

Kegiatan konstruksi Kantor Hemat Energi dimulai bulan Oktober 2010. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk memberikan percontohan teknologi dan desain yang efisien pada bangunan yang mudah direplikasi sehingga dapat diterapkan di kantor dan gedung-gedung di Indonesia.

Efisiensi energi memang bisa dicapai melalui perancangan interior yang peduli pada penghematan energi tetapi tetap memperhatikan tingkat kenyamanan penggunaan ruangan. Kantor hemat energi menggunakan desain interior yang memaksimalkan penggunaan energi alami tetapi tetap kondusif untuk bekerja.s elain itu optimalisasi sistem cahaya melalui teknologi pemanfaatan  cahaya alami. Penggunaan sistem tata udara yang hemat energi juga digunakan. Misalnya dengan COP tinggi dan kW/TR rendah. Terakhir, selalu melakukan monitoring dan evaluasi penggunaan energi.

Hemat energi di perkantoran
Kantor hemat energi pertama ada di Paris perancis. MVRDV, sebuah perusahaan properti, sukses menyajikan desain unik untuk gedung Slab di Paris, Perancis. Bangunan seluas 19.000 m2 ini menjadi bangunan hemat energi pertama yg direalisasikan di Paris, dengan konsumsi energi sangat rendah dan produksi energi hampir 200.000kWh setiap tahunnya.

Konstruksi bangunan 35 juta Euro ini dikerjakan oleh pengembang proyek Prancis ICADE dengan desain bangunan yang menggabungkan teknologi efisiensi energi dan kemewahan fasilitas didalamnya. Pushed Slab terinspirasi dari tindakan mendorong atau menekuk bangunan yang menciptakan distorsi antar lantai, sehingga menciptakan atau memunculkan beberapa teras yang dapat langsung diakses dari wilayah kerja maupun dari tangga eksternal.

Selanjutnya, teras dan balkon ini akan dilengkapi dengan pohon yang ditanam dalam pot besar sehingga menawarkan lingkungan yang ramah dan sangat nyaman untuk bersantai.
Di Indonesia sendiri kantor hemat energi masih susah diwujudkan. Padahal bila gedung atau kantor hemat energi diwujudkan, bukan hanya untuk saat ini tetapi akan berjangka panjang.

Selain itu, bangunan yang menerapkan strategi energi yang baik harus dimulai dari manajemen pengelolaan itu sendiri. Manajemen energi dapat dijalankan dengan membentuk tim energi yang bertanggung jawab terhadap pengelolaan energi pada bangunan. Agar tim energi ini dapat bekerja dengan baik maka diperlukan komitmen bersama, mulai top level manajemen sampai staf yang paling bawah.

Ada beberapa beberapa hal yang bisa dilakukan agar sebuah kantor atau gedung hemat energi. Antara lain sudah diaplikasikan pada Gedung Annex lantai 5 Kantor Ditjen Ketenagalistrikan yang menjadi gedung kantor EECHI. Fitur-fitur pada kantor hemat energi haruslah meliputi seluruh rancangan, material, desain interior, sistem operasional dan teknologi yang digunakan adalah yang hemat energi.

Ada beberapa fitur khusus dari kantor ini yang membuatnya hemat energi yaitu, satu, penggunaan langit-langit yang lebih tinggi serta pengorganisasian ruangan dan partisi guna memaksimalkan cahaya alami dan distribusi AC yang lebih baik.
Dua, penggunaan AC dengan Variable Refrigerant Volume (VRV) multi split system yang bisa menghemat energi hingga 30-40% dibandingkan AC biasa. Tiga, pengendalian udara segar melalui pengukuran jumlah air kondensat yang keluar dari unit AC serta pengukuran kandungan CO2 yang dapat membantu untuk mendeteksi kebocoran.

Empat, penggunaan lampu jenis T5 yang hemat energi dengan pengontrol cahaya dan sensor okupansi. Lima, penggunaan reflektor cahaya pada dinding horisontal luar jendela untuk menahan panas. Enam, penggunaan material-material yang ramah lingkungan seperti bahan lantai yang terbuat dari bambu dan cat rendah VOC.

Dalam pelaksanaan gedung hemat energi  dilakukan  retrofitting atau upgrade terlebih dahulu. Kondisi Kantor EECCHI misalnya, sebelum retrofitting mempunyai Indeks Konsumsi Energi sebesar 170 kWh/m2/tahun.
Selain itu, suhu ruangan dan RH lebih tinggi dari nilai yang direkomendasikan terutama setelah AC sentral dimatikan pada jam 15:00, suhu ruangan tinggi pada saat jam kantor, umumnya di atas 26°C dan tingkat kelembaban tinggi pada jam kantor, umumnya antara 60-70%.

Kadar CO2 yang tinggi di dalam ruangan mengindikasikan bahwa terlalu banyak udara segar di ruangan akibat tingginya tingkat kebocoran udara melalui pintu, jendela dan celah partisi (infiltrasi udara luar). Tingkat kebisingan dalam ruangan juga diperhitungkan dengan rata-rata 70 dBA, yaitu jauh di atas ambang batas standar Internasional untuk perkantoran.
Karenanya harus dilakukan perbai­kan dan inovasi pada ruaangan. Antara lain dengan desain interior yang memak­si­­malkan penggunaan energi dan kenya­manan dipadu dengan teknologi.

Misalnya pengorganisasian ruangan dan partisi untuk mengoptimalkan ca­haya alami. Selain itu,langit-langit yang diting­gikan untuk penetrasi cahaya alami, penggunaan lidah pemantul cahaya dan distribusi AC yang lebih baik. Jadi,sudah siapkah kita dengan kantor atau gedung hemat energi?      

Perlu Konsep Bangunan “Hijau”
Sebagian besar properti yang ada saat ini di Indonesia membutuhkan energi besar untuk sistem pendingin ruangan. Karena memang iklim tropis yang relatif panas sepanjang tahun menyebabkan ruangan membutuhkan sistem pendingin yang optimal. Yang pada akhirnya membuat biaya listrik bisa membengkak.

Tetapi sebenarnya banyak langkah yang bisa dilakukan dan disiasati. Salah satunya adalah dengan membangun Tentunya, konsep bangunan 'hijau' dengan rancang bangun akan meng­hemat biaya, terutama sistem pendingin yang boros energi.
Menurut Direktur RMX Holcim Indo­nesia Derek Williamson penggu­naan energi untuk sistem pendingin bangunan saat ini masih sangat tinggi. "Umumnya, sistem pendingin mengonsumsi 70 persen total konsumsi energi," kata Derek pada seminar bertajuk Indoor Climate Solution: Menuju Masa Depan yang lebih Sehat di Hotel Gran Melia, Kuningan, Jakarta, awal April lalu.

Padahal desain gedung yang hemat energi dan ramah lingkungan, menu­­rut dia, akan dapat menghemat 35-90 persen energi. Salah satu yang disarankan Williamson adalah teknologi Indoor Climate Solution (ICS) dari Uponor dan FloCrete dari Holcim. Ini merupakan sebuah teknologi yang menggunakan pendingin di bawah lantai serta mengalirkan air melalui pipa di bawah lapisan beton. Cara ini, dinilai sangat efisien untuk menekan beban pendinginan gedung.

Teknologi ICS, menurutnya, telah banyak digunakan gedung-gedung di beberapa negara seperti Hearst Tower di Amerika Serikat, BMW World di Jerman, Bandara Suvarnabhumi di Thailand, serta Marina Bay Garden di Singapura.
Di Indonesia, menurutnya, gedung dengan sistem ini belum ada. Kedepannya, diharapkan akan ba­nyak gedung-gedung baru akan meng­gu­nakan inovasi ICS agar tercipta sustainable construction (konstruksi berkelanjutan)


0 voters

1 Komentar

Loading

Berikan komentar anda

Nama
Email
Website
Komentar
 
Masukkan kode diatas