Benarkah Hydropower Dapat Merusak Lingkungan?

Benarkah Hydropower  Dapat Merusak Lingkungan?

PLTA memang lebih murah dan potensinya luar biasa. Tetapi dampak lingkungan yang ditimbulkannya meresahkan beberapa pihak. Seperti apa dampaknya?
● Erika Putri

Keberhasilan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di sejumlah wilayah di Indonesia tidak selalu menuai pujian. Kritik dan ketidakpuasan seringkali muncul. Apa­lagi yang berkait dengan isu lingkungan. Sumatra Selatan misalnya, melayang­kan protes pembangunan PLTA di Kabupaten Kepahyang, Provinsi Bengkulu, yang menyebabkan menyusutnya debit air di hulu Sungai Musi.

Air yang digunakan untuk PLTA ter­sebut sangat banyak sehingga menye­dot debit air Sungai Musi dalam jumlah besar. Bila tidak segera diatasi, ancaman kekeringan Sungai Musi bisa terjadi. Pembangunan PLTA di Kepahyang, Bengkulu memang dianggap  menyalahi prosedur.    

Seharusnya, air yang telah dikelola dikembalikan lagi ke Sungai Musi, bu­kan dibuang ke laut. Hal itu dianggap akan mengancam kelestarian ekosistem di Sumsel dan Palembang. Selain itu, gun­dulnya hutan di sepanjang bantaran Sungai Musi menyebabkankeberadaan fungsi hutan  sebagai penyerap air tanah dan hujan dapat berkurang.
PLTA juga ternyata bermacam-macam, mulai yang berbentuk micro hydro dengan kemampuan memberikan energi listrik untuk beberapa rumah saja, sampai yang berbentuk raksasa seperti bendungan yang dapat menyediakan listrik untuk berjuta-juta orang.

Dalam PLTA ada beberapa unsur seperti bendungan yang berfungsi menampung air dalam jumlah besar untuk menciptakan ketinggian jatuhnya air agar tenaga yang dihasilkan juga besar. Bendungan juga berfungsi untuk pengendalian banjir. Selain itu ada turbin, generator, dan jalur transmisi yang berfungsi mengalirkan energi listrik dari PLTA menuju rumah-rumah dan pusat industri.
Besarnya listrik yang dihasilkan oleh PLTA tergantung dua faktor yaitu, semakin tinggi suatu bendungan, semakin tinggi air jatuh maka semakin besar tenaga yang dihasilkan. Dan semakin banyak air yang jatuh maka turbin akan menghasilkan tenaga yang lebih banyak. Jumlah air yang tersedia tergantung kepada jumlah air yang mengalir di sungai.

Menurut oleh Ir. Efi Juwita,  pemerhati masalah energi dan lingkungan, kondisi sungai sebelum ada bendungan untuk kepentingan PLTA memungkinkan adanya variasi debit alami sepanjang tahun. Kondisi yang bervariasi ini, baik debit maupun suhu air, memungkinkan kelangsungan hidup berbagai organisme dan vegetasi di sepanjang aliran sungai.
Pada saat bendungan selesai di­bangun, debit air akan berubah sesuai dengan pengaturan yang diinginkan oleh manusia. Air bendungan yang dialir­kan secara terkontrol, akan datang dari bagian bawah bendungan di mana suhu airnya relatif lebih dingin dan konstan.

Perubahan suhu air ini, yang ta­di­­nya bervariasi sesuai dengan mu­sim dan menjadi konstan, akan meru­bah ekosistem di sungai. Selain itu, juga dikenal dampak perubahan kom­posisi kimia dari air dengan adanya ben­dungan, di mana air yang dilepas dari bendungan ke sungai downstream cen­derung me­­miliki kandungan garam terlarut yang lebih tinggi dan kandungan oksigen yang lebih rendah dibandingkan dengan komposisi air di sungai tanpa bendungan.

Selain itu, masih ada dampak dari penguapan (evaporasi) dari bendungan. Permukaan air di bendungan pada umumnya begitu luas, jauh lebih luas daripada sungai tanpa bendungan. Per­luasan permukaan ini mempermudah timbulnya penguapan air. Oleh karena itu, diperlukan pasokan air yang lebih banyak lagi untuk memelihara jum­lah air di dalam bendungan agar ben­dungan tersebut dapat berfungsi secara sempurna. “Apakah Bendungan dan PLTA masih menjadi pilihan untuk sumber energi di negeri tercinta ini?, “ ujarnya.

PLTA juga dianggap mampu merusak iklim. Menurut pakar lingkungan yang juga konsultan dari Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), Eric Duchemin, imej yang "green" untuk PLTA (hydro power) adalah imej yang salah. PLTA, selain memproduksi listrik, juga memproduksi karbondioksida (CO2) dan metana (CH4) dalam jumlah yang besar.
Bahkan, dalam beberapa kasus, di­temukan fakta dimana PLTA mem­pro­duksi CO2 dan metana sebagai bahan baku gas rumah kaca (Green House Gas) dalam jumlah yang lebih besar daripada pembangkit listrik berbahan bakar fosil (minyak, gas, batubara).

Penyebab utama dari Green House Gas datang dari pelepasan kandungan karbon dalam jumlah yang besar dari tanaman dan pohon-pohon yang teren­dam air dan membusuk pada saat bendungan dialiri dengan air.
Tanaman dan pohon-pohon ini mem­­­busuk di dasar bendungan tan­pa meng­gunakan oksigen dan meng­hasil­kan timbunan methane (gas rawa) di dalam air. Gas Metana ini lepas ke atmosfer pada saat air bendungan dialirkan ke turbin air.

Namun, ini tentu saja tidak berlang­sung terus menerus. Sesuai dengan musimnya permukaan air bendungan akan terus berubah, naik turun sesuai dengan debit pasokan air. Pada saat permukaan air bendungan rendah (musim kemarau) tanaman di sekitar bendungan akan mulai tumbuh lagi, dan pada saat permukaan air bendungan naik, tanaman-tanaman ini akan teren­dam dan terulang proses yang sama.

PLTA atau juga dikenal dengan Micro hydro (untuk skala rumah tangga) saat ini memasok kurang lebih 20% dari kebutuhan listrik di seluruh dunia. Dari sisi penghematan energi, PLTA dianggap lebih murah dari pada pembangkit listrik dari bahan bakar fosil.
Sebagai contoh, pembangkit listrik modern dengan batubara sebagai bahan bakar hanya mampu memakai 50% dari energi yang dihasilkan untuk dirubah menjadi listrik. Sedang PLTA modern saat ini mampu menghasilkan 90% energi listrik. PLTA juga mencegah pembakaran batubara sekitar 120 juta ton tiap tahun.

Bagi mereka yang pro PLTA, PLTA dianggap pembangkit yang paling efisien. Teknologi terbaru PLTA nilai efisiensinya mencapai 90%, bandingkan dengan pembangkit fosil terbaik yang hanya mencapai 50%.
Selain itu manfaat PLTA bukan hanya sebagai pembangkit listrik. Banyak PLTA berfungsi ganda, sebagai tempat rekreasi dan membantu perekonomian masyarakat sekitar dengan budidaya perikanan. ■

Author :

Tags : Fokus Utama

0 Komentar

Berikan komentar anda

Top