GM Disbali: Jadikan Bali Sebagai Provinsi Clean dan Green Energy

Author : Franki Dibuat : Dec 14, 2017

GM Disbali: Jadikan Bali Sebagai Provinsi Clean dan Green Energy
Listrik Indonesia | Permasalahan sampah menjadi Pekerjaan Rumah (PR) kepala daerah selama ini, tidak hanya di Bali, melainkan di wilayah lainnya di Indonesia. Untuk itu, General Manager PT PLN (Persero) Distribusi Bali Nyoman Suwarjoni Astawa mengatakan, Provinsi Bali telah mencanangkan, sebagai provinsi yang Clean dan Green Energy, kemudian mengarah ke provinsi yang mandiri energi.

"Saya kira, dua cita-cita yang sudah dicanangkan provinsi Bali itu sudah terjawab dengan adanya Tempat Olah Sampah Setempat (TOSS)," jelasnya saat peresmian Listrik Kerakyatan di Klungkung, Bali (12/12).

Ia mengungkapkan, TOSS merupakan program yang dicanangkan oleh Bupati Klungkung, I Wayan Suwirta dengan Sekolah Tinggi Teknik PLN (STT PLN). Yang mana program tersebut dengan memanfaatkan sampah untuk dijadikan bahan baku energi dengan metode Peyeumisasi.

Ia mengungkapkan, pertama isu clean and green energy, maka pengolahan sampah menjadi bahan baku yang nantinya akan digunakan oleh pembangkit milik PT Indonesia Power benar-benar ramah lingkungan.

Kedua berkaitan dengan mandiri energi. "Kalau Bali memang ingin mandiri energi listrik, maka pembangkitnya harus ada di Bali, tetapi saya harap juga mandiri energi bukan hanya listriknya tetapi juga energi primernya. Karena kalau menjadi mandiri energi mudah, bangun PLTU besar-besar di Bali, datangkan batu baranya dari Kalimantan, selesai. Tapi kalau mandiri energi sampai ke energi primernya maka, bangun pembangkit menggunakan energi baru terbarukan, dan berdayakan masyarakat sekitar," tambahnya.

Pihaknya menyaksikan penandatanganan tempat pengolahan sampah setempat (TOSS) antara Bupati Klungkung dengan STT PLN, yang akan dijadikan bahan baku energi.

Pihaknya akan memberikan kebijakan khusus yang bagaimana nantinya output dari tempat pengolahan sampah setempat ini (briket-nya dan pellet-nya) bisa dijadikan bahan bakar utama pembangkit, yang nanti akan dibeli oleh PLN, sehingga semuanya akan sama-sama sustainability.

"Sustain dari sisi PLN sebagai penyedia listrik yang diharapkan semakin lama semakin murah untuk masyarakat, sustain untuk IP yang akan menjual energi listriknya kepada PLN, sustain juga kepada masyarakat yang mengolah sampah ini. Jangan sampai mengolah sampah ini membutuhkan biaya Rp 10 ribu, tapi menjual kepada PLN dan IP Rp 8 ribu, ini tidak ada sustain. Maka ini kita harus berbicara bersama-sama Pemerintah Daerah, masyarakat, IP sebagai off taker yang nantinya dari pellet yang dihasilkan teknologi olah sampah setempat ini, dan PLN Distribusi Bali sebagai off taker dari listrik, yang dihasilkan," paparnya.

"Kita sangat mengapresiasi terkait pemanfaatan tempat olah sampah setempat yang akan menjadi solusi terhadap permasalahan sampah yang kian menggunung dan ini dapat dijadikan sebagai energi alternatif," tandasnya. (RG)

Tags : News


0 Komentar

Berikan komentar anda

Top