HLN ke-72, Kilas Balik Kelistrikan Indonesia

Author : Franki Dibuat : Oct 28, 2017

HLN ke-72, Kilas Balik Kelistrikan Indonesia
Listrik Indonesia | Sejak 1945 hingga kini, sudah 72 tahun diperingati Hari Listrik Nasional yang jatuh pada 27 Oktober. Kelistrikan nasional mempunyai track record panjang dalam menerangi negeri ini. Dalam sejarahnya, listrik di Indonesia sudah ada sejak zaman kolonial.

Pada 1897 ketika berdiri perusahaan listrik pertama yang bernama Nederlandche Indische Electriciteit Maatschappij (NIEM) di Batavia, yang berkantor pusat di Gambir. Pada masa kolonial, NIEM menggandeng pihak swasta untuk membantu membuat pembangkit, yaitu Algemeene Nederlandsche Indische Electriciteit Maatschappij (ANIEM).

ANIEM sangat berkontribusi melistriki seluruh daerah, seperti Jawa, Bali, Lombok, Sumatera dan Kalimantan. Hampir 40 persen menguasai listrik di Indonesia masa itu. ANIEM juga mempunyai anak perusahaan untuk membantu mendirikan pembangkit di daerah-daerah. Jumlah investasi asing di Indonesia pun terus mengalami kenaikan. Pada masa itu, jumlah investasi asing mencapai US$ 318 juta, dan pada 1937 sudah meningkat menjadi US$ 2.264 juta. Namun sayang, pada 1942 ANIEM diambil alih oleh Jepang dan diubah namanya menjadi Djawa Denki Djigjo Kosja.

Pengelolaan listrik oleh Djawa Denki Djigjo Sja berlangsung sampai Jepang menyerah kepada Sekutu dan Indonesia merdeka. Ketika Jepang menyerah kepada Sekutu, para pekerja yang bekerja di Tobu Djawa Denki Djigjo Sja berinisiatif untuk menduduki lembaga pengelola listrik tersebut dan mencoba mengambil alih pengelolaan. Untuk menjaga agar listrik tidak menjadi sumber kekacauan, pada tanggal 27 Oktober 1945 pemerintah membentuk Jawatan Listrik dan Gas Bumi yang bertugas untuk mengelola kelistrikan di Indonesia yang baru saja merdeka. Kapasitas pembangkit tenaga listrik saat itu sebesar 157,5 MW.

Tanggal 1 Januari 1961, Jawatan Listrik dan Gas diubah menjadi BPU-PLN (Badan Pimpinan Umum Perusahaan Listrik Negara) yang bergerak di bidang listrik, gas dan kokas dengan kapasitas pembangkit tenaga listrik sebesar 300 MW. Tahun 1972, Pemerintah Indonesia menetapkan status Perusahaan Listrik Negara sebagai Perusahaan Umum Listrik Negara (PLN). Tahun 1990 melalui Peraturan Pemerintah No. 17, PLN ditetapkan sebagai pemegang kuasa usaha ketenagalistrikan.

Tahun 1992, pemerintah memberikan kesempatan kepada sektor swasta untuk bergerak dalam bisnis penyediaan tenaga listrik. Di tahun 1994 status PLN dialihkan dari Perusahaan Umum menjadi Perusahaan Perseroan (Persero). PLN hingga kini menangani berbagai jenis pembangikit seperti PLTA, PLTD, PLTU, PLTG, PLTGU, PLTD serta Energi Baru Terbarukan (EBT). Dalam menjalankan pembangkit-pembangkit tersebut PLN dibantu dengan anak-anak perusahaanya dan pihak swasta. Ditambah, target dari pemerintah 35.000 MW.

Bangsa ini mempunyai perjuangan yang panjang untuk dapat mengalirkan listrik ke berbagai daerah. Dari jaman kolonial hingga kini, kelistrikan Indonesia terus berkembang dan semakin maju. Sudah sepatutnya, selain menikmati listrik kita juga harus bisa menghemat energi listrik dan semua sumber dayanya. (GC/f)

Tags : Feature
Terakhir disunting : Oct 28, 2017


0 Komentar

Berikan komentar anda

Top