Indonesia Menuju Industri 4.0 yang Lebih Kompetitif

Author : Franki Dibuat : Apr 19, 2018

Indonesia Menuju Industri 4.0 yang Lebih Kompetitif
Listrik Indonesia | PT Schneider Electric menilai revolusi industi 4.0 harus didukung, begitu pun dengan Indonesia yang memasuki industri 4.0 agar lebih kompetitif. Hal tersebut diungkap Country President Indonesia Schneider Electric, Xavier Denoly, dalam acara "Innovation Summit 2018".

Menurutnya, dunia usaha kini tengah berlomba menuju industri 4.0 untuk daya saing ekonomi dan bisnis, tak terkecuali Indonesia yang juga sudah dicanangkan oleh pemerintah.

"Schneider Electric berkomitmen untuk terus mendukung dunia usaha melakukan transformasi digital, terutama dalam pengelolaan energi dan otomasi untuk akselerasi ekonomi dan industri 4.0 menjadi lebih kompetitif, melalui pengelolaan sistem energi yang efisien," jelas Xavier Jakarta, (18/04).

Ia mengungkapkan, transformasi digitalisasi, akan mengubah cara berbisnis dan berinteraksi dengan pelanggan. Hal ini terjadi di banyak negara di dunia, di mana mereka juga tengah berupaya mendorong dunia usaha dan bisnis menuju industri 4.0.

Untuk itu pihaknya mendukung pemerintah Indonesia yang telah menjadi hal ini sebagai agenda prioritas melalui program "Making Indonesia 4.0", termasuk pengelolaan energi dan otomasi.

Melalui digitalisasi, lanjutnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan dapat mencapai US$ 150 miliar per tahunnya pada 2025.

"Kami menyadari bahwa era teknologi disruptif menuntut para pemangku kepentingan untuk berpikir dan bertindak dengan cara yang berbeda dari sebelumnya. Solusinya adalah visi dan gagasan yang berani (‘bold idea’) untuk mengelola energi secara aman, andal, efisien, terhubung dan berkelanjutan. Dengan pengelolaan energi yang tepat akan berdampak langsung pada efisiensi biaya operasional dan memberikan nilai tambah dalam proses produksi," paparnya.

Senada dengan Xavier, Executive Vice President International Operations Schneider Electric, Luc Remont menambahkan, transformasi digital merupakan solusi untuk efisiensi karena pada 20 tahun dari sekarang diperkirakan konsumsi energi akan meningkat 1,5 kali dan disaat yang bersamaan harus mengurangi setengah dari total emisi karbon dan melakukan efisiensi 3 kali lebih besar dari saat ini.

Dikatakan olehnya, dalam penyelenggaraan Innovation Summit ini, Schneider Electric akan menampilkan inovasi terbaru sebagai layer ketiga dari EcoStruxure yaitu EcoStruxure Power Advisor, Building Advisor, dan Asset Advisor yang memberikan analisis komprehensif dari pengelolaan energi.

Di antaranya mencakup identifikasi kemungkinan terjadinya masalah dan memberikan laporan secara teratur sehingga memungkinkan perusahaan untuk membuat keputusan yang lebih terinformasi dan cepat.

Ia mengungkapkan, EcoStruxure merupakan platform IOT-enabled, plug-and-play, arsitektur terbuka dari Schneider, yang memberikan solusi end-to-end dalam enam area domain – Power, Teknologi Informasi, Bangunan, Mesin, Pabrik dan Jaringan (grid) untuk empat sektor pasar yaitu Bangunan, Pusat Data, Industri dan Infrastruktur.

"Di Indonesia, EcoStruxure telah banyak digunakan oleh para pelaku industri. Dalam 3 tahun terakhir, hampir 50 % proyek bangunan baru terhubung dengan EcoStruxure Building, 80 % pelanggan pusat data kami dikelola dengan EcoStruxure IT, dan lebih dari 1.200 gardu listrik PLN dimonitor dengan dukungan dari EcoStruxure Grid," imbuhnya.

Lebih jauh ia memaparkan, solusi EcoStruxure memungkinkan perusahaan untuk meningkatkan kinerja bisnis melalui efisiensi operasional dan pengurangan biaya energi hingga 60%, pengurangan biaya integrasi hingga 50% dan pengurangan hingga 30 % biaya operasional.

"Solusi ini sudah diimplementasikan di RS Indriati (RS swasta yang di Solo) dapat menjadi contoh yang baik tentang bagaimana EcoStruxure dapat membantu pelanggan kami, memastikan ketersediaan dan keandalan distribusi energi dalam kegiatan operasional dengan efisiensi biaya," jelasnya.

"Dengan EcoStruxure, RS Indriati diharapkan dapat mengurangi downtime hingga 40%, karena pemadaman listrik, dan dapat menghemat energi dan biaya operasional hingga 30% per tahun. Kami berharap dapat membantu lebih banyak pelanggan seperti RS Indriati untuk mencapai kinerja terbaik mereka tanpa khawatir akan masalah pengelolaan energi," tandasnya. (RG)

Tags : News


0 Komentar

Berikan komentar anda

Top