Kejar Target Efisiensi Energi, Peralatan Listrik yang Boros Akan Dilarang

Author : listrikinfo@gmail.com Dibuat : Nov 13, 2019

Kejar Target Efisiensi Energi, Peralatan Listrik yang Boros Akan Dilarang
Listrik Indonesia | Demi mencapai target efisiensi energi 17 persen pada 2025, nantinya peralatan listrik rumah tangga yang boros energi akan dilarang beredar.

Sektor energi memiliki target di Nationally Determined Contribution (NDC) untuk menurunkan emisi sebesar 314 juta ton di tahun 2030. Dari angka tersebut program-program konservasi sudah  diinline-kan, yang akan mensupport target 17 persen efisiensi pada tahun 2025.

Hal ini disampaikan Direktur Konservasi Ditjen Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi, Sumber Daya Mineral (ESDM), Hariyanto.

"Kami targetkan tahun 2025 bisa mengatur 12 peralatan rumah tangga yang hemat energi. Sekarang baru 2, lampu lampu swabalast dan AC," ungkapnya di Kementerian ESDM, beberapa waktu lalu.

Karena itu, diharapkan dengan kebijakan ini, masyarakat akan teredukasi memilih peralatan yang hemat energi, sehingga berdampak ke penghematan energi nasional.

Hariyanto belum merinci secara pasti peralatan apa saja yang boros energi. Namun dirinya menyebutkan beberapa alat yang akan diatur adalah lampu swa ballast, AC, kulkas, motor listrik, blender, setrika, rice cooker, mesin cuci, dan kipas angin.

"Jadi peralatan yang beredar di pasaran harus memenuhi minimum penggunaan energi. Tidak boleh melebihi batas penggunaan energi. Bila lewat maka termasuk kategori yang boros maka tak boleh beredar," imbuhnya.

Lebih lanjut dirinya mengatakan, nantinya tidak ada lagi alat abal-abal yang harganya murah namun boros energi. Koordinasi akan dilakukan dengan Kementerian Perindustrian. "Karena ini terkait dengan kluster industrialisasi lokal, kemampuan industri lokal di mana sih, sehingga bisa kita akomodasi. Impor kita batasi yang efisien saja," terangnya.

Dirinya mencontohkan beberapa negara lain yang sudah membuat aturan semacam ini, sepeti Singapura, Malaysia, dan Vietnam.
"Misalnya lampu hemat energi Rp 25 ribu, kalau abal-abal Rp 10 ribu atau Rp 5 ribu. Tapi masyarakat tidak menyadari kalau itu boros," paparnya.

Pihaknya mengaku akan fokus mengejar target ini demi mencapai efisiensi energi 17 persen pada 2025. Menurutnya kontribusi penggunaan listrik rumah tangga selama ini cukup besar. Kalau  bisa regulasi itu dijalankan, maka penggunaan di sektor rumah tangga akan semakin hemat. (CR)

Tags : News


0 Komentar

Berikan komentar anda

Top