Kembangkan Teknologi Turbin Angin Untuk Pembangkit

Author : Yusuf Dibuat : Sep 14, 2017

Kembangkan Teknologi Turbin Angin Untuk Pembangkit
Listrik Indonesia | PT Siemens Indonesia terus mengembangkan teknologinya di sektor ketenagalistrikan, pasalnya saat ini pihaknya berencana ingin mengembangkan potensi angin yang selama ini terabaikan dan akan disulap menjadi tenaga listrik melalui turbin angin.

Account Manager Energy Management Division Vertical Sales Utility Power Transmission PT Siemens Indonesia, Martinus Lase mengungkapkan, dengan teknologi kincir angin, potensi angin yang tadinya terabaikan kini dapat dimanfaatkan menjadi listrik.

Salah satu wilayah yang telah menggunakan pembangkit listrik tenaga angin /bayu (PLTB) yakni kabupaten Sidrap, Jeneponto, Sulawesi Selatan (Sulsel). "Sidrap dan Jeneponto yang ada di Sulawesi Selatan, kita akan pasangkan turbin angin berkapasitas 75 MW, masing-masing menghasilkan 3,5 - 4,3 MW," ungkapnya kepada listrik Indonesia saat di temui di event Indonesia EBTKE ConEx ke -6 di Balai Kartini Jakarta, Kamis (14/09).

Ia mengatakan, saat ini tengah memasuki tahap kontruksi dan diharapkan akhir 2018 mendatang dapat dioperasikan. Nantinya akan dipasang sebanyak 20 turbin angin yang masing dapat menghasilkan sekitar 3,5 - 4,3 Megawatt (MW), sehingga totalnya mencapai 75 MW.

"Skemanya, setelah keluar arus listrik dari turbin, lalu dialirkan melalui trafo, baru dinaikkan melalui jaringan listrik PLN yang ada di wilayah tersebut, entah 150 kV atau 20 kV, kemudian step a transformer, sehingga terkoneksi dengan sistem jaringan power yang ada," bebernya.

Ia mengungkapkan, menurut data, wilayah Sulawesi berpotensi terhadap anginnya, sehingga sangat cocok untuk dikembangkan PLTB, meski demikian bukan berarti wilayah lainnya tidak berpotensi terhadap aliran anginnya.

"Bukan hanya mengandalkan kecepatan angin saja, akan tetapi melihat kontinuitasnya atau terus menerus, sehingga dapat menghasilkan aliran listrik. Lain halnya dengah solar panel, yang hanya dapat menyimpan tenaga matahari pada siang hari dan digunakan malam harinya," paparnya.

Lebih jauh, ia mengungkapkan kendalanya dalam mengembangkan kincir angin yakni faktor alam, jikalau tidak adanya angin yang berhembus, akan menyebabkan kincir tidak dapat berputar dan tidak dapat menghasilkan energi listrik. 

"Life time-nya bisa mencapai 20 - 25 tahun," imbuhnya.

Sekadar informasi, PLTB Sidrap sendiri pemasangannya telah dilakukan tahun lalu, sementara PLTB Jeneponto pemasangannya dimulai sejak Februari 2017 lalu. "Sekarang sedang under Contruction, dan ditargetkan selesai pada 2018 akhir mendatang," tandasnya.
(RG)


 



0 Komentar

Berikan komentar anda

Top