Kesiapan Listrik MRT dan LRT Jakarta

Author : Franki Dibuat : Nov 6, 2018

Kesiapan Listrik MRT dan LRT Jakarta
Listrik Indonesia | Dalam hitungan beberapa bulan lagi moda transportasi baru warga Jakarta yakni Mass Rapid Transit (MRT)  dan Light Rail Transit (LRT) akan segera beroperasi, lalu bagaimana persiapan di sistem kelistrikannya.

MRT diperkirakan dapat mengangkut sekitar 2000 orang di tiap rangkaian yang terdiri dari 8-10 kereta. Progres konstruksi pada fase 1 koridor selatan – utara atau dari Lebak Bulus sampai Bundaran HI telah mencapai 95,96% adapun proses pengerjaannya Depo dan Elevated Section sudah mencapai 94,41% dan Underground Section mencapai 97,52%. Juga untuk koridor Timur juga tengah di persiapkan perlintasannya melewat tiga Provinsi yaitu Banten, Jawa Barat dan Jakarta.

Daya listrik yang dibutuhkan MRT untk fase satu Lebak Bulus – Bundaran HI sebesar 1500 VDC, High Density Poly Ethylene (HDPE) atau kabel tegangan tinggi sudah telah terpasang yang bersumber dari dua gardu induk PLN yaitu gardu induk Pondok Indah dan CSW,  juga perangkat sumber listrik tambahan seperti UPS juga telah terpasang. Untuk pengoperasian MRT dibutuhkan 150 KVA dengan sistem Gardu Induk Terpusat.

Berbeda dengan MRT, daya tampung LRT lebih kecil dari tiap rangkaian kereta yang terdiri dari maksimal 3 kereta, LRT hanya bisa mengangkut maksimal sekitar 700 penumpang saja. Progres pembangunannya juga signifikan, dengan panjang jalur 5,8 kilometer mulai dari stasiun LRT Kelapa Gading Boulevard menuju Velodrome, dengan enam stasiun dan satu depo. Total progres pekerjaan telah mencapai 89,45%, juga kesiapan Sumber Daya Manusianya sudah 95%.

Sistem kelistrikan untuk LRT menggunakan metode Third Rail atau penggunaan traction power substation. Metode Third rail sebagai penyediaan tenaga listrik untuk kereta, melalui konduktor yang ditempatkan di samping atau di antara rel dari jalur kereta api, dengan tegangan 750 VDC . Pada umumnya Prinsip kerja sistem kelistrikan sama-sama menggunakan tegangan Direct Current (DC) atau arus searah. Kebutuhan pengoperasian LRT sebesar 20 KVA dengan sistem gardu induk pada setiap stasiun, antisipasi untuk mencegah terjadinya shutdown.

Untuk mengurusi sistem kelistrikannya ada sekitar 450 orang untuk pengoperasian dan perawatan MRT. Sedangkan, untuk LRT jumlah SDM yang dibutuhkan lebih sedikit karena LRT telah menggunakan sistem konstruksi jaringan yang lebih sederhana. Biaya yang dikeluarkan untuk menunjang sistem kelistrikan diperkirakan Rp 30 miliar per bulan untuk MRT dan LRT lebih mahal karena menggunakan sistem Gardu pada tiap stasiun dan sistem jaringan Third Rail dengan biaya power supply sekitar Rp 1,4 triliun. (GC)

Tags : News


0 Komentar

Berikan komentar anda

Top