Komitmen Indonesia Power Jadikan Bali sebagai Center of Excellent Renewable Energy

Author : Franki Dibuat : Dec 14, 2017

Komitmen Indonesia Power Jadikan Bali sebagai Center of Excellent Renewable Energy
Listrik Indonesia, Klungkung | Pemerintah terus mengejar pemanfaatan energi baru terbarukan sebesar 23% hingga 2025 mendatang. Hal tersebut sudah tertuang di dalam Kebijakan Energi Nasional (KEN).

Direktur Utama PT Indonesia Power (IP), Sripeni Inten Cahyani mengungkapkan, selama ini IP memproduksi listrik dengan energi konvensional yakni batu bara Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dan minyak solar dari Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD).

Ia mengatakan, sampai dengan tahun 2014, IP masih menggunakan solar, setelah itu pertengahan tahun 2015 barulah IP menggunakan gas dari mini LNG (Liquified Natural Gas).

Ia menyebut, Provinsi Bali merupakan yang pertama kalinya menggunakan mini LNG yang berlokasi di Pesanggrahan, Bali dengan kapasitas sebesar 200 Megawatt (MW), menggantikan PLTD yang selama ini menunjang kelistrikan wilayah Bali.

Sebagai anak perusahaan PT PLN (Persero), lanjut Inten, dirinya sangat mendukung mengenai program Renewable Energy. Meski jika dilihat mini LNG bukan masuk kedalam kategori Renewable Energy, tetapi masuk ke dalam kategori energi yang ramah lingkungan (bersih). Sehingga ini mendukung komitmen dari provinsi Bali, untuk menjadikan Bali sebagai Green Provinsi.

Selain di Pesanggaran dengan kapasitas 200 MW merupakan revitalisasi 75 MW yang pembangkitnya sudah lama di operasikan tahun 1960-an, kemudian diganti dengan 200 MW mesin yang baru yang efisien. "Kami juga mempunyai pembangkit berkapasitas 130 MW Gilimanuk dan 80 MW di Pemaron. Memang saat ini statusnya standby karena sudah ada pembangkit listrik tenaga batu bara di Celukanbawang," terang Inten.

Dirinya berkomitmen untuk menjadikan Bali sebagai center of excelent Renewable Energy yang dikelola oleh Indonesia Power.

"Insya Allah. Awal Januari 2018, kami sudah mulai kontruksi 1 MW potofoltaik (solar pv) yang letaknya ada di Pemaron," ungkap Inten disela-sela peresmian Listrik Kerakyatan di Klungkung, Bali (12/12).

Saat ini pihaknya sedangkan melakukan studi pembangunan pembangkit listrik tenaga bayu (PLTBayu) yang akan terletak di Gilimanuk. "Meskipun ini masih bersifat feasibility study, karena skalanya 1 MW. Kami berkomitmen mendukung Bali sebagai destinasi wisata yang Green," ungkapnya.

Tersengat Listrik Kerakyatan
Baru-baru ini, Pemerintah Daerah Kabupaten Klungkung, Bali, bersama dengan Sekolah Tinggi Teknik PLN (STT PLN).

Pihaknya merasa terpanggil dalam pengimplementasian Listrik Kerakyatan (LK) di wilayah Klungkung Bali. Di mana Bupati Klungkung meminta STT PLN untuk dapat mengolah sampah yang akan dijadikan bahan baku energi melalui tempat olah sampah setempat (TOSS).

"Kami juga disenggol oleh STT PLN untuk bersinergi di Klungkung ini dalam mendukung rekan-rekan STT PLN dan Bupati beserta seluruh warganya yang mendukung program Tempat Olah Sampah Setempat (TOSS)," jelasnya.

Secara pribadi dan management Inten, mengucapkan terima kasih atas sinergi dari STT PLN, PLN sebagai (induk PT Indonesia Power), Bupati Klungkung dan seluruh masyarakat yang membantu menorehkan satu aktivitas yang berkaitan dengan Renewable Energy.

"Di luar dugaan, sebenarnya ini lebih kongkrit, lebih cepat, dapat menjadi solusi terhadap permasalah sampah," paparnya.

Beberapa teknologi pembangkit listrik tenaga sampah menurut Inten, masih menyisakan TPA sebagai tools menjaga kontinuitas dari sampah itu sendiri. Namun, pendekat yang dilakukan oleh STT PLN dengan inovasi yang luar biasa, memperpendek waktu dalam mengelola sampah melalui metode peyeumisasi. "Dari yang sebelumnya tiga bulan untuk menghasilkan energi dari sampah, dengan metode peyeumisasi hanya 10 hari sudah dapat menghasilkan energi dari sampah. Ini merupakan satu inovasi luar biasa yang dapat memberikan efek yang konkret untuk bisa melakukan proses penyediaan listrik lebih cepat," terang Inten.

Selain itu, pellet juga bisa menjadi bahan bakar kompor hemat energi yang dapat digunakan untuk memasak. Setelah dilakukan penelitian laboratorium, pellet yang dihasilkan dari sampah dengan metode peyeumisasi, sama dengan batu bara low rank coal (nilai kalor rendah)

Pihaknya juga akan berencana untuk menggunakan pellet sebagai bahan bakar untuk salah satu di PLTU-nya. "Kita akan melihat seperti apa efeknya terhadap peralatan, mudah-mudahan jika ini tidak berefek ini luar biasa. Berarti sampah bisa menjadi solusi yang kongkrit dan bisa dimanfaatkan dengan benar-benar ramah lingkungan. Jadi waste management dan waste energy," imbuhnya.

Dengan kontribusi Indonesia Power dalam hal ini kami menyediakan gasifier yang dipakai untuk mengubah pellet menjadi shine gas yang dipakai untuk pembangkit listriknya, mudah-mudahan ini bisa membantu masyarakat untuk bisa menjadi listrik.

"Ini merupakan bagian dari komitmen kami untuk menjaga ekosistem lingkungan, dan kami menyadari benar bahwa keberlangsungan IP tergantung pada ekosistem lingkungan, dan ini menjadikan IP tumbuh dan berlangsung dalam jangka panjang," ucapnya. (RG)

Tags : News


0 Komentar

Berikan komentar anda

Top