Komitmen Kuat PLN Menanamkan Budaya K3

Author : Franki Dibuat : Jul 23, 2019

Komitmen Kuat PLN Menanamkan Budaya K3
Antonius RT Artono, Excecutive Vice President Health, Safety, Security and Environment PLN
Listrik Indonesia | Dalam sebuah perusahaan, pengelolaan aspek Health, Safety, Security, Environment (HSSE) atau Kesehatan, Keselamatan, Keamanan, dan Lindung Lingkungan (K3LL)/K3 tidak boleh dipandang sebelah mata. Pasalnya, mis-management dalam elemen K3LL dapat berdampak pada terganggunya operasional. Bahkan terhadap hidup-matinya perusahaan, jika dampaknya besar dan masif.

Atas dasar itu, PT PLN (Persero), BUMN yang menjadi salah satu tulang punggung energi negeri ini, terus melakukan upaya peningkatan mutu pengelolaan K3.

Seperti dipaparkan Antonius RT Artono, EVP Keselamatan, Kesehatan Kerja, Keamanan dan Lingkungan PLN. “Kami menyadari vitalnya aspek K3, karena bagi kami karyawan dan dukungan masyarakat sekitar area operasional khususnya, ini adalah aset terpenting perusahaan.”

Menurut Anton, penyebab dari kecelakaan kerja umumnya disebabkan oleh dua aspek, yakni unsafe action dan unsafe condition. Karena pengabaian terhadap peralatan dan prosedur keselamatan kerja. Misalnya, pekerja lalai memakai alat perlindungan diri (APD), seperti helm, rompi, sepatu bot, sarung tangan, dan sebagainya.

Sementara aspek kedua karena lingkungan kerja yang tidak aman seperti jalan licin, jalan berlubang, ataupun infrastruktur kerja yang kurang lengkap.

Kecelakaan kerja itu sendiri biasanya merupakan buah dari pengabaian terhadap puluhan kali insiden near miss, atau hampir celaka.

“Kita harus aware kejadian-kejadian penyebabnya kalau ada nyaris celaka. Dari data statistik dunia, satu kali kecelakaan kerja itu, sebetulnya sebelumnya diawali dari 30 kali jenis kecelakaan yang injury, yang mengkibatkan korban meninggal atau berakibat fatal menjadi satu kecelakaan," jelas Anton.

Indikator keberhasilan budaya K3, terdiri atas lagging indicator dari empat aspek, yakni Loss of Life, Loss of Production, Loss of Productivity, dan Loss of Asset. “Jika ada karyawan yang meninggal, maka sebetulnya perusahaan kehilangan produktivitas. Bisa saja kecelakaan kerja mengakibatkan produksinya berhenti atau bahkan asetnya rusak. Tahun ini lagging indicator keempat aspek ini mulai kita ukur di PLN,” pungkas Anton.

Menerapkan berbagai upaya tersebut memang tak mudah. Terlebih PLN merupakan ‘kapal induk’ dengan jenis dan area operasi yang sangat luas, baik dari aspek jenis bisnis, area pembangkitan transmisi, distribusi dan sebagainya. Meski demikian Anton yakin dengan upaya bersama dan keinginan untuk menjadikan organisasi yang lebih baik, maka terwujudnya zero accident di PLN pada tahun 2023 akan dapat tercapai. (AM/Fr)



0 Komentar

Berikan komentar anda

Top