Aviliani: Rencana Kenaikan TTL Tak Berdampak Pada Inflasi

Aviliani: Rencana Kenaikan TTL Tak Berdampak  Pada Inflasi

Demikian diungkapkan pengamat ekonomi Aviliani, pada akhir Agustus 2012. Menurutnya, dampak kenaikan Tarif Tenaga Listrik (TTL) tidak akan menyebabkan inflasi double digit seperti ketika pemerintah menaikan harga BBM. Jika ingin menekan subsidi, menaik-an TTL merupakan langkah paling tepat dan mudah ketimbang pemerintah menaikan harga BBM.

Rencana kenaikan harga TTL sendiri sebenarnya dipicu oleh meningkatnya penggunaan listrik di kalangan masyarakat ekonomi menengah. Kalangan ini yang menyebabkan subsidi energi, khususnya listrik terus meningkat.

Sementara untuk BBM, sepertinya pemerintah tidak berani menaikkan harganya. Hal itu bisa dilihat dengan kebijakan pemerintah yang akan menaikan estimasi jumlah penggunaan-nya mencapai 42 juta kiloliter hingga saat ini. Jika BBM yang dinaikan, daya beli masyarakat jadi tinggi dikhawatirkan overheat-nya berimbas pada tingginya inflasi sehingga berujung pada nilai tukar rupiah yang menjadi lemah.

Kendati demikian, Komisaris Independen BRI ini berharap agar pemerintah mengambil langkah untuk meningkatkan investasi asing/Foreign Direct Investment (FDI) untuk mengantisipasi tertekannya nilai tukar rupiah.

Pengamat Ekonomi Aviliani mengusulkan kenaikan tarif listrik dibebankan pada semua golongan. Syaratnya pengenaan kenaik-an ke semua golongan tidak disamakan. Misalnya, jika pemerintah memberikan kenaikan 10 persen untuk pengguna kelas atas dan pengguna kelas bawah cukup dikenakan 5 persen.

Dia menilai kenaikan pada Industri, akan berpengaruh pada tingkat inflasi yang tinggi. Industri akan mematok harga jual barang yang tinggi. Sehingga, masyarakat kelas bawah pun akan terganggu daya belinya. Karena kenaik-an tersebut akan dibebankan kembali kepada masyarakat kalangan bawah. 

Sekretaris Komite Ekonomi Nasional (KEN) ini menegaskan, dampak inflasi masih cukup kecil dibandingkan jika harus menaikkan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Ini karena transportasi itu lebih terkena cukup besar. Tapi listrik diproduksi makin besar, makin kecil biaya rata-rata.

Sementara subsidi energi yang nilainya triliunan rupiah bisa ditekan untuk bisa dialihkan ke sektor pangan. Sebab, pangan akan menjadi persoalan penting tahun depan. Bila TTL dinaikkan, subsidi listrik atau subsidi energi secara keseluruhan bisa ditekan hingga Rp30 triliun. Nah, dana itu bisa dialihkan ke sektor lain khususnya pangan.

Wanita yang kerap disapa Avi ini memprediksikan bahwa sektor pangan pada tahun 2013 akan bergejolak. Persoalan ini akan jadi persoalan penting karena pemerintah akan mengendalikan fungsi Badan Urusan Logistik (Bulog). Ini akan menjadi pengaman bagi bulog dengan cara menjaga stabilisasi harga.

Meskipun demikian, tidak tertutup kemungkinan dana penghematan subsidi listrik itu dialihkan ke sektor lainnya. Sebagai contoh, dana subsidi energi sebagian bisa dialihkan untuk pengembangan energi terbarukan.

Sebelumnya, pemerintah merencanakan akan menaik-kan tarif listrik secara bertahap per kuartal pada tahun 2013 nanti. Langkah ini diambil untuk menghemat pengeluaran anggaran subsidi bahan bakar minyak (BBM) dan listrik.

Rencana tersebut sehubungan dengan makin besarnya besarnya beban subsidi yang harus ditanggung pemerintah. Berdasarkan hitungan Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan, total subsidi listrik bisa mencapai Rp 590 triliun dalam lima tahun mendatang, apabila tidak ada pengaturan atau pengendalian dalam produksi ataupun konsumsi listrik. Subsidi sebesar itu dikarenakan pasokan bahan bakar yang tak kunjung pasti bagi PLN serta alotnya kenaikan tarif karena sulit mendapat restu dari DPR. 

Author :

0 Komentar

Berikan komentar anda

Top