Konsumsi Energi Butuh Perubahan Paradigma

Author : Administrator
Konsumsi Energi Butuh Perubahan Paradigma

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menilai konsumsi energi bangsa Indonesia masih terlalu boros dibandingkan dengan angka pertumbuhan ekonomi nasionalnya, dengan nilai elastisitas di angka 2,02.

"Bandingkan dengan Jerman, Jepang dan berbagai negara lainnya yang elastisitasnya minus satu. Artinya sangat efisien dalam mengonsumsi energi," ungkap Kepala BPPT Marzan A Iskandar pada Temu Mitra dan Workshop Strategi Penurunan Elastisitas Energi.

"Setiap negara di dunia saat ini berlomba-lomba membuat nilai elastisitas energinya terus turun, demikian pula Indonesia yang pada 2025 menargetkan nilai elastisitasnya di bawah satu," ujarnya.

Di skala rumah tangga, ia mencontohkan, masyarakat Indonesia memang boros energi, sering membiarkan lampu menyala ketika ruangan tidak digunakan atau menggunakan AC dengan suhu 18 derajat Celcius tetapi juga menggunakan selimut.

Sementara itu di skala industri, pemborosan juga tidak kalah besarnya akibat peralatan yang tidak terawat, kebocoran peralatan, atau pemanfaatan energi yang tidak hemat.

Nilai intensitas energi adalah perbandingan antara total penggunaan energi dengan produk domestik bruto (PDB).
Sementara itu,menurut Kepala Balai Besar Teknologi Energi BPPT Dr Soni Solistia Wirawan, Indonesia pada 2008 memiliki nilai intensitas energi 382 TOE (tonne of oil equivalent) per juta dollar AS.

 "Itu berarti untuk menghasilkan sejuta dolar AS GDP (gross domestic pro-duct), Indonesia harus mengonsumsi 382 TOE, suatu angka yang sangat tinggi," paparnya.

Bandingkan dengan negara-negara maju seperti Inggris yang hanya 110, Jerman 127, AS 199, serta Jepang yang hanya 115, dan Singapura 240, sedangkan konsumsi energi primer per kapitanya hanya 0,53 TOE. Sedangkan Malaysia sekitar 3,7 TOE.

BPPT, berupaya menawarkan program penurunan elastisitas ini dengan pene-rapan sistem manajemen energi, penerapan teknologi hemat energi, pengujian dan standarisasi efisiensi energi, pengembangan kawasan hemat energi dan kajian strategi penurunan elastisitas energi nasional.

Upaya untuk percepatan konservasi energi  dilakukan oleh Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (DJEBTKE), dengan  menyelenggarakan Pekan Efisiensi Energi  dengan dukungan dari Pemerintah Denmark, dalam bentuk kerjasama antar-pemerintah melalui kegiatan Energi Efficiency in Industrial, Commercial and Public Sector (EINCOPS) serta International Finance Corporation (IFC).  Roadshow Pekan Efisiensi Energi di Medan merupakan penutup rangkaian kegiatan Roadshow Pekan Efisiensi Energi yang berlangsung di Sembilan Provinsi di Indonesia (Jakarta, Makassar, Bali, Batam, Semarang, Surabaya, Banjarmasin, Palembang dan Medan).

Pekan Efisiensi Energi akan diselenggarakan selama empat hari. Kegiatan hari pertama ditujukan untuk eksekutif/ top manajemen perusahaan untuk meningkatkan pemahaman mengenai potensi efisiensi energi di industri. Sedangkan kegiatan hari kedua hingga keempat ditujukan bagi manajer energi sebagai pembekalan untuk mekanisme sertifikasi manajer energi tingkat nasional.

“Konservasi energi, membutuhkan perubahan paradigma pengelolaan energi yang baru yaitu Demand Side Management yang mengutamakan peningkatan efisiensi pada pengguna energi. Indonesia termasuk negara yang masih boros dalam penggunaan energi, hal ini dapat dilihat dari angka elastisitas energi yang masih lebih besar dari 1. Dalam menggalakkan konservasi energi ini, diperlukan peran serta seluruh pihak, khususnya pihak industri.

Dari keseluruhan kelompok pengguna energi, pengguna energi terbesar adalah kelompok industri yang mencapai 40% dari total konsumsi energi.

“Pada tahun 2006-2009, JICA bekerjasama dengan Kementerian ESDM telah melakukan studi audit energi di sektor industri dan diperoleh hasil bahwa total konsumsi energi  adalah 27 Juta TOE per tahun, dengan potensi penghemat-an energi sebesar 18%. Penghematan ini sebesar 5 Juta TOE atau setara 58 TWh per tahun. Apabila penghematan ini berhasil dilakukan maka akan sama halnya dengan menunda pembangunan pembangkit listrik sebesar 58 TWh / (24 X 365) = 6.600 MW,” ungkap Ir Maryam Ayuni.

Mr. Tim Mac Hansen - Counsellor-Trade and Development Royal Danish Embassy, menegaskan memperkenalkan efisiensi energi merupakan elemen yang sangat penting dalam menghadapi tantangan perubahan iklim sekaligus untuk mengurangi produksi energi sehingga menjadi tujuan yang sangat ekonomis dan bermanfaat untuk mengurangi pengeluaran pemerintah secara keseluruhan dalam usaha untuk menyediakan energi untuk sektor rumah tangga, bisnis dan kantor pemerintah sendiri.

 Denmark mempunyai sejarah panjang untuk efisiensi energi dan  mampu menjaga konsumsi energi nasional secara konstan selama hampir 30 tahun (dari pertengahan tahun 70-an hingga per-tengahan 2010-an) yang nilainya hampir dua kali lipat Produk Domestik Bruto dalam periode waktu yang sama. Perilaku lebih efisien dalam pemanfaatan energi menjadi faktor utama.

Sementara itu Melany Tedja Co Tem Leader EINCOPS menambahkan, menurut data Master Plan Pembangunan Ketenagalistrikan 2010-2014, yang dibuat oleh Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral, pada tahun 2009 kondisi tiga sistem yang memasok tenaga listrik ke Sumatera Utara berada dalam kondisi 'defisit' (terjadi pemadaman sebagian pelanggan karena daya mampu lebih kecil dari kebutuhan beban puncak). Sampai dengan tahun 2011, rasio elektrifikasi di Sumatera Selatan baru mencapai 79.05%. Sementara itu, permintaan energi listrik diperkirakan akan terus tumbuh rata-rata sebesar 7.3% per tahun untuk mengimbangi pertumbuhan penduduk (diperkirakan rata-rata 1.0%/tahun) dan pertumbuhan ekonomi (diperkirakan rata-rata sebesar 6.7%/tahun).

 “Oleh karena itu, tidak cukup untuk Sumatera Utara hanya menambah pembangkit dan mengatasi sisi suplai energi. Diperlukan juga upaya untuk mengatasi pertumbuhan konsumsi tanpa mengimbangi pertumbuhan ekonomi dengan efisiensi energi, khususnya di sektor rumah tangga dan sektor Industri, kedua sektor yang mengkonsumsi listrik paling besar menurut data BPS 2004-2009.” Ungkapnya.

Sumatera Utara memiliki banyak industri yang mengkonsumsi energi cukup besar, memiliki pertumbuhan energi yang tinggi dan akan sangat terbantu dengan program konservasi energi dalam pemenuhan permintaan listrik provinsi ini. Itu sebabnya, Pekan Efisiensi Energi ini dilakukan di Sumatera Utara, yang juga merupakan penutup dari rangkaian Sembilan provinsi dari Roadshow Pekan Energi Efisiensi ini.

Pengguna energi terbesar di Indonesia adalah sektor industri dengan pertumbuhan 39,6% di tahun 1990 menjadi 51,86% pada tahun 2009, atau lebih dari setengah penggunaan total energi nasio-nal. Pengguna terbesar berikutnya adalah sektor transportasi dengan 30,77%, diikuti dengan sektor rumah tangga sebesar 13,08% dan sektor komersial seba-nyak 4,28.

Saat ini penyediaan energi Indonesia masih sangat tergantung pada energi fosil yang disubsidi (95.21%). Sementara konsumsi energi naik sebesar 7% setiap tahunnya Sedangkan energi terbarukan hanya dipandang sebagai alternatif dan penggunaan energi dilakukan secara tidak efisien. Untuk itu diperlukan perubahan paradigma  yang memfokuskan pada konservasi energi pada sektor pengguna dan pemanfaatan energi terbarukan secara optimal.

Pekan Efisiensi ini adalah salah satu kegiatan untuk mensosialisasikan efisiensi dan konservasi energi di Indonesia. Peran aktif ini dilakukan oleh Energy Efficiency and Conservation Clearing House Indonesia (EECCHI) yang diluncurkan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral didukung oleh Pemerintah Denmark melalui DANIDA (Danish International Development Assistance) . Untuk mengembangkan program efisiensi dan konservasi energi di Indonesia, pemerintah Denmark , telah memberikan bantuan dana senilai US$ 10 Juta untuk kurun waktu empat tahun program.

Audit Energi

Dalam UU No. 30/2007 tentang Energi tanggung jawab mengimplementasikan program konservasi energi ada dipundak pemerintah dan masyarakat.  

Berbagai upaya terus dilakukan untuk menggali potensi effisiensi energi, salah satunya adalah memberikan kesempatan melakukan audit gratis untuk 30 gedung pemerintah melalui Program Kemitraan Konservasi Energi. Program audit energi ini merupakan tindak lanjut Instruksi Pre-siden No. 13 Tahun 2011.

Program audit energi bertujuan untuk membantu pengelola bangunan gedung pemerintah untuk melakukan upaya-upaya penghematan energi. Kegiatan audit akan dilakukan pada bulan Juli-Oktober 2012 oleh tim auditor yang kompeten dan kredible dibidang konservasi energi.Biaya yang diperlukan untuk audit energi akan ditanggung oleh Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukkan dan Konservasi Energi.

Instansi-instansi yang berminat untuk mendapatkan bantuan audit  energi gratis dapat menyampaikan surat pemberitahun terlebih dahulu kepada Direktorat Jende-ral Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi, dan disertai dengan membuat surat pernyataan komitmen untuk mengikuti kegiatan audit energi.

Progran audit energi merupakan tindak lanjut instruksi Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono yang menginstruksikan untuk melakukan penghematan energi dan air kepada seluruh rakyat Indonesia termasuk jajaran pemerintah baik pusat maupun daerah untuk menghemat penggunaan energi dan air.

Langkah-Iangkah dan inovasi penghematan energi dan air di lingkungan Kementerian-Kementerian utama akan dipantau untuk mencapai target penghematan 20 hingga 30 persen.



0 voters

1 Komentar

Loading

Berikan komentar anda

Nama
Email
Website
Komentar
 
Masukkan kode diatas