Memimpin “Kids Jaman Now”

Author : Franki Dibuat : Jan 7, 2018

Memimpin “Kids Jaman Now”
Listrik Indonesia | Di perusahaan, generasi digital menginginkan komunikasi dua arah. Mereka juga sangat menghargai perusahaan dan bos yang punya visi yang jelas, terutama visi untuk membuat dunia yang lebih baik. Seperti apa mengelola generasi digital di dunia kerja?

Pernah mendengar ungkapan “kids jaman now”? Ya, mereka inilah yang kini dikenal sebagai generasi digital atau generasi milenial. Generasi ini diidentifikasi berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya. Generasi digital juga dikenal sangat dekat dengan teknologi.

Memang mereka terlahir dengan begitu banyak pilihan, semua serba mudah dan cepat. Generasi ini juga mempunyai ciri memiliki aspirasi yang sangat tinggi alias kritis. Ini juga bukan generasi yang mencari kestabilan hidup dan mengharap­kan ­soal uang, fasilitas semacam mobil, KPR, asuransi, atau lainnya. Generasi ini selalu butuh tantangan baru, ingin ide dan inovasinya didengar dan bisa dieksekusi oleh perusahaan.

Generasi digital ini juga cenderung menyukai ekspresi diri dan berhubungan dengan satu sama lain melalui teknologi digital. Mereka menggunakan teknologi untuk mengakses, menggunakan informasi bahkan menciptakan pengetahuan baru.

Untuk orang-orang muda ini perangkat teknologi digital terbaru seperti ponsel pintar dan laptop adalah media utama hubungan antar manusia melalui koneksi internet. Melalui perangkat ini, mereka menunjukan siapa diri mereka, dan terkadang memanipulasi informasi pribadi mereka untuk bisa berekspresi.

Jika generasi sebelumnya mengandalkan orang tua, guru, dan buku untuk belajar, hal ini tidak lagi berlaku bagi generasi digital. Generasi ini hidup dengan kemudahan akses informasi yang begitu luas dan lebih cepat dari apa yang diajarkan oleh orangtua maupun gurunya.

Tidak heran, generasi digital sering dianggap tidak mau diajari. Sebenarnya, mereka tetap bisa ‘diajari’. Hanya saja cara yang harus dilakukan harus lebih kreatif. Orang tua dan guru tidak lagi bersikap sebagai sumber informasi, melainkan fasili­tator dan manajer informasi. Begitu pula ketika mereka berada dalam lingkung­an pekerjaan.

Dalam konteks pekerjaan, sayangnya banyak perusahaan yang tidak menyadari hadirnya generasi digital di perusahaan mereka. Akhirnya, mereka diperlakukan ala generasi lama. Padahal sebenarnya, perlakukan terhadap generasi ini haruslah berbeda. Terutama ini harus disadari oleh pengelola sumber daya manusia (SDM) perusahaan atau human resources department (HRD).

Bila ini bisa terkelola dengan baik, perusahaan akan mampu menyesuaikan dengan perkembangan zaman bahkan mungkin melakukan banyak inovasi. Namun bila generasi ini terlewatkan, tidak mengherankan perusahaan minim inovasi, banyak ketertinggalan bahkan kemudian bisa jadi tidak mampu melihat tantangan yang sesungguhnya ke depan.

Perusahaan perlu memikirkan lebih jauh bagaimana memimpin generasi baru ini. Apalagi mereka mempunyai beberapa ciri yang tidak dimiliki generasi sebelumnya dalam dunia kerja. Salah satunya yang menonjol adalah tidak mudah menyerah, analisis yang kuat dan selalu berpikir alternatif solusi, dibandingkan hanya mengeluh.

Beberapa bank asing bahkan kini sudah memperbolehkan kerja dari rumah. Begitu pula dengan beberapa perusahaan lainnya yang sudah memberlakukan jam kerja yang fleksibel. Tentu saja hal seperti ini tidak bisa diberlakukan ke semua pekerjaan.

Misalnya tim yang berhubungan langsung dengan konsumen. Seperti teller, customer service, pekerja pabrik dan lainnya. Tapi di divisi-divisi lain seharusnya sistem ini tidak menjadi masalah, asal diberikan saja standar dan deadline yang jelas kapan sebuah pekerjaan harus diselesaikan.

Kebebasan berkarya juga menjadi idaman generasi ini. Generasi digital harus diakui lebih kreatif, inovatif dan melek teknologi. Perusahaan cukup memberikan garis besarnya saja kemudian tantang mereka untuk memecahkan masalah dengan berkolaborasi. Maka biasanya mereka akan menggunakan internet untuk mencari informasi dan  belajar dari pengalaman ribuan orang dari seluruh dunia.

Terakhir, jangan lupakan transparan­si. Generasi digital ini sangat kritis, dan ingin tahunya sangat tinggi. Mereka juga menganggap siapa pun itu sejajar. Sudah tidak mungkin membungkam dengan kata-kata sakti. “Lakukan saja jangan banyak bertanya!!!” Bila dilakukan ke generasi digital, maka mereka akan memberontak, menganggap bosnya otoriter dan hal paling ekstrem yang jamak dilakukan adalah mereka tanpa pikir panjang, resign saja walaupun belum ada pekerjaan baru. (EP)

Tags : SDM
Terakhir disunting : Jan 7, 2018


0 Komentar

Berikan komentar anda

Top