Menggunakan Kabel Bawah Laut, AREH Sambung EBT ke Indonesia

Author : Franki Dibuat : Nov 30, 2017

Menggunakan Kabel Bawah Laut, AREH Sambung EBT ke Indonesia
Listrik Indonesia | Proyek pembangkit tenaga angin dan matahari berkapasitas hingga 6 GW yang dinamakan The Asian Renewable Energy Hub (AREH) berada di Pilbara, Australia Barat. Nantinya, proyek ini akan memasok listrik ke Indonesia.

Proyek ini berencana memasok produksi tenaga listrik energi ke Indonesia melalui kabel elektrik bawah laut. Saat ini, proyek AREH ini sedang dikembangkan oleh satu tim yang terdiri dari beberapa perusahaan, yaitu CWP Energy Asia dan Inter Continental Energy (pemimpin pengembang proyek energi terbarukan) dan Vestas (pemimpin solusi energi berkelanjutan dunia). Pada tahun 2025, proyek AREH akan mampu menyediakan tenaga listrik yang bisa diandalkan dan memiliki harga terjangkau, juga membantu mengatasi tantangan terkait pasokan energi jangka panjang.

Lokasi proyek AREH yang berdekatan dengan Indonesia, dikombinasikan dengan kemajuan teknologi kabel bawah laut, memungkinkan transmisi listrik dengan jarak jauh secara hemat biaya. Dengan demikian, ada kesempatan terciptanya jaringan energi terbarukan untuk kawasan Asia Tenggara. Tahap pertama, proyek AREH diperkirakan memerlukan biaya awal sebesar USD 10 trilliun, di fase selanjutnya yang akan memasok energi terbarukan ke negara-negara lain di Asia Tenggara.

Memiliki sumber daya angin dan matahari yang luar biasa sehingga mampu menghasilkan energi terbarukan dengan daya dan volume besar. Didukung peralatan yang mumpuni seperti  turbin angin, panel surya beserta peralatan lain yang dibutuhkan. Sudah  tiga tahun AREH mengembangkan ide strategis ini. Kini  AREH sedang melakukan pengembangan EBT terkait, oleh tim yang terdiri dari para mitra dan investor, bekerja sama dengan pemerintah Indonesia, Australia dan Denmark. Karena  negara tersebut yang memiliki pengalaman banyak dalam mengembangkan EBT.

Tim Yang Berpengalaman
Tim yang bekerja untuk proyek AREH memiliki banyak pengalaman dalam hal pembuatan dan pembangunan proyek energi terbarukan di Australia, Indonesia dan di seluruh dunia. Rekam jejak yang telah terbukti ini, ditambah dengan masukan dari para konsultan ahli, mitra teknologi, dan pemegang saham berpengetahuan luas, yang dapat menghasilkan pengembangan dan pembangunan yang strategis secara resmi. Mitra teknologi yang terdiri dari Prysmian dan Swire Pacific Offshore membantu pelaksanaan kajian kelayakan proyek, dan akan terus terlibat dalam proyek ini. Prysmian adalah pemimpin dalam hal teknologi kabel bawah air, sedangkan Swire Pacific Offshore kontraktor lepas pantai terkemuka di dunia.

Alexander Tancock, Managing Director Inter Continental Energy, mengungkapkan, pihaknya telah menghabiskan dua tahun untuk mengeksplorasi kondisi pantai di Barat laut Australia, dan akhirnya menemukan lokasi yang sangat baik. Tempat ini mempunyai karakteristik geografis dan topografis yang sangat unik, yang dapat menghasilkan sumber daya angin dan matahari yang lebih dari ukuran standar.

“Langkah paling penting dalam pengembangan suatu proyek adalah menemukan lokasi yang tepat,” ujarnya.

Dengan menjalankan proyek ini sangatlah cukup untuk mengakomodasi pembangunan infrastruktur baru di Indonesia, sehingga menciptakan energi terbarukan berbasis industri yang dapat mengurangi biaya pengeluaran energi di Indonesia, dan membuka ribuan kesempatan kerja. (GC)

Tags : News


0 Komentar

Berikan komentar anda

Top