Dari Buruh Jadi Pemilik Bank Terbesar Dunia

Dari Buruh  Jadi Pemilik Bank Terbesar  Dunia

AP Giannini berasal dari keluarga miskin dan masa remajanya terpaksa bekerja pada ayah tirinya. Dengan keuletan dan keteguhan, dia telah menjadikan pemilik salah satu bank terbesar di dunia.

Bank of America merupakan bank terbesar kedua di Amerika Serikat. Asetnya mencapai US$ 2,223 triliun pada 2009. Bank yang berpusat di 100 North Tryon Street, Charlotte, North Carolina, Amerika Serikat itu memiliki net income mencapai US$6.276 miliar, sedangkan revenue-nya US$150,45 miliar (2009).

Dengan kepak sayapnya yang terus berkembang, Bank of America telah melayani nasabahnya melintas wilayah Amerika Serikat. Bahkan nasabahnya tersebar di lebih dari 150 negara. Tak pelak lagi, Bank of America menjadi perusahaan kelima terbesar di ‘Negeri Paman Sam’. Sebagai perusahaan non-perusahaan minyak, bank yang terkemuka itu telah pula dikukuhkan menjadi perusahaan yang terbesar kedua.

Majalah Forbes telah memasukkan Bank of America menjadi perusahaan terbaik ketiga di dunia. Bank termasuk dalam bank tersehat di dunia itu mempekerjakan 284,000 karyawan pada tahun lalu. Berbicara mengenai prestasi yang ditorehkan Bank of Amerika bisa dikatakan tak bisa digambarkan

secara sekilas.
Namun kesuksesan suatu perusahaan atau bank tidak bisa sosok yang merintisnya. Siapa sosok di balik berdiri dan berkembangnya Bank of America? Orang tersebut tak lain Amadeo Peter Giannini atau lebih dikenal sebagai AP Giannini.

Giannini dilahirkan 6 Mei 1870 di San Jose, California, Amerika Serikat. Ayah ibu Giannini tak lain imigran asal Italia. Masa kecil Giannini tak sebahagia anak-anak yang lain. Ketika menginjak usai tujuh tahun, dia harus berpisah dengan sang ayah yang berasal dari Genoa, Italia.
Di saat tengah membutuhkan kasih sayang dan figur seorang ayah, Giannini harus berpisah dengan ayah kandungnya selamanya. Dengan meninggalnya sang ayah, dia berharap mendapat kasih sayang dari ibundanya.

Namun kebersamaan dengan ibunya tak bisa bertahan lama. Karena, ibunya memutuskan menikah lagi dan memutuskan pindah ke kota San Francisco, AS. Dia pun hidup bersama ibu dan ayah tirinya.
Sebagai anak yang ditinggalkan ayahnya, Giannini bukanlah anak cengeng dan manja. Bahkan saat usianya menginjak 12 tahun, dia telah bekerja pada usaha milik ayah tirinya.

Pagi-pagi saat anak-anak lain masih terlelap tidur, Giannini telah bangun. Jadi sebelum berangkat ke sekolah, dia pergi ke dok kapal di San Francisco untuk menunggu pengiriman barang. Dengan waktu sedikit, dia telah memanfaatkan waktu secara berguna.
Kendati masih muda, Giannini telah memiliki filosofi tentang kehidupan dalam bisnisnya. “Saya memutuskan bahwa seorang pria yang ingin mencapai posisi puncak agar menjaga catatannya tetap bersih,” katanya.

Giannini juga mengatakan bahwa seseorang tidak dapat melakukan sesuatu yang membuatnya malu atau mungkin muncul pada waktu mendatang untuk mempermalukannya. “Saya juga menyimpulkan bahwa Anda harus membuat penanda untuk dicapai. Putuskan apa yang menjadi keinginan Anda dan kejarlah, pukul, dan raih.”

Untuk remaja seusianya, Giannini tergolong berpikir lebih maju. Dia dikenal cerdas dan selalu memiliki semangat untuk terus belajar. Sayangnya memasuki usia 14 tahun, dia harus putus sekolah dan terpaksa bekerja purnawaktu pada usaha ayah tirinya.

Kendati begitu, Giannini selalu berpikir bahwa untuk maju harus banyak belajar. Dia pun terus belajar cara berbisnis dari pengalaman yang didapatnya dan yang tak ditemukan di bangku sekolah.
Setelah itu, Giannnini memutuskan berangkat ke wilayah California untuk menemui sejumlah petani. Kendati masih muda, dia tahu cara berbisnis yang jujur, harga yang bagus, dan memperlakukan mitranya dengan hormat. Tak lupa pula untuk selalu menepati janji.

Tak mengherakan, saat usianya memasuki 19 tahun, Giannini menjadi mitra kerja ayah tiri sepenuhnya. Belasan tahun kemudian bisnisnya berkembang dan menjual sahamnya kepada pegawai yang berniat pensiun.

Giannini sendiri lalu bergabung sebagai dewan direksi Columbus Saving & Loan pada 1902. Namun di tempat kerjanya yang baru, dia kerap berbeda pendapat dengan anggota dewan direksi lain.
Penyebabnya, Giannini yang pernah menjadi kuli berpendapat bahwa tabungan dan pinjaman diberikan kepada orang biasa dan hidupnnya untuk membuat mereka tetap bertahan hidup. Dia melihat peluang itu belum dimanfaatkan.

Anggota dewan direksi lain lebih memerhatikan kelompok kelas menengah atas, pasar tradisional, dan pasar eksklusif untuk bank. Dengan perbedaan pendapat, Giannini tak bisa bertahan lama dan memutuskan mengundurkan diri. “Saya akan membuka bank sendiri,” ucapnya.
Ia pun membangun bisnisnya dalam waktu singkat diberi nama Bank of Italy. Bak tersebut inilah yang menjadi cikal bakal dari Bank of America.
Pada 1906, San Francisco dilanda gempa dan kebakaran. Sebagian besar berantakan dan bankrut. Tetapi tidak dengan Bank of Italy. Giannini justru membangun gerai banknya di atas papan d antara dua tong di distrik North Beach.
Giannini meminjamkan uang kepada nasabahnya berdasarkan telapak tangan. Jika telapak tangannya keras, berarti calon nasabah itu mampu membayar cicilan. “Kami tidak kehilangan satu dolar pun dan justru kami memperoleh banyak teman,” katanya.
Bank of Italy terus berrkembang dan membuka kantor cabang di mana-mana. Bank of Italy pun menjadi bank pertama yang membuka cabang terbanyak dan tersebar luas di berbagai wikayah.
Pada 1928, Giannini membentuk Trans America Corp sebagai perusahaan induk untuk lembaga finansial. Tak hanya itu, dia juga membeli Bank of America yang dikenal sebagai tertua di New York, AS.
Dalam buku In the World of Great Business Leaders yang ditulis Julie Fenster dikatakan bahwa Giannini tidak mengubah caranya berbisnis. “Bahkan setelah Bank of America menjadi bank terbesar di dunia pada 1940, meja kerja Giannini tetap di tempat terbuka lantai utama,” kata Fenster.

“Giannini mempertahankan posisi berdiri sehingga setiap orang dapat datang untuk melihatnya. Dari mulai pemegang saham yang mengajukan pertanyaan hingga nelayan yang ingin meminta pinjaman,” papar Fenster. Tidak hanya itu, Giannini meyakini bahwa menjalankan ‘kapal perusahaannya’ yang lebih aman dengan bersikap lebih terbuka kepada konsumen dan pegawainya.

“Saya menganggap bahwa sangat mungkin untuk melepaskan sebagian besar perhiasan yang dianggap perlu oleh sebagian eksekutif,” katanya.
“Mungkin, saya tidak dapat memberi kesan kepada orang lain sebanyak yang saya mampu. Tetapi saya yakin bahwa saya dapat menyelesaikan pekerjaan dengan lebih banyak tanpa perhiasan itu,” tambahnya.

Kunci Giannini dalam memecahkan masalah adalah sederhana dan langsung. Caranya dia berkonsentrasi pada sebuah masalah dan kemudian mengalihkan fokus pada kekhawatiran lain selama beberarap saat. Sebelum memeriksa kembali masalah semula. Kunci inilah yang memberperspektif bagi Giannini.

Dalam menyusun ren­cana atau ide, Giannini kerap menggunakan apa yang disebut sebagai metode intermittent atau datang dan pergi sesuai interval. “Saya memikirkan masalah dengan serius, kemudian meninggalkan beberapa waktu, dan kembali lagi. Metode ini memungkinkan saya untuk menghasilkan ide untuk sebuah masalah tertentu dan ide-ide berasal dari refleksi yang matang.”

Author :

Tags : Motivasi

26 Komentar

Berikan komentar anda

Top