Mesin Olah Sampah IPI, Buatan Lokal Berkiprah Internasional

Author : Franki Dibuat : Oct 26, 2018

Mesin Olah Sampah IPI, Buatan Lokal Berkiprah Internasional
Listrik Indonesia | Sampah masih menjadi pekerjaan rumah (PR) kita semua sebagai warga masyarakat. Rendahnya kesadaran masyarakat terhadap sampah, tidak sedikit yang masih membuang sampah sembarangan.

Inovasi untuk memanfaatkan sampah tak henti dilakukan, seperti dengan memanfaatkan sampah menjadi bahan baku energi listrik yaitu biogas, meski belum dilakukan secara masal.

Untuk itu, PT Indopower International (IPI) menciptakan satu teknologi yang khusus menjadikan sampah sebagai bahan baku energi pembangkitan listrik.

Adalah mesin Advance Waste Conversion System (AWS) buatan IPI yang berhasil menjadikan sampah sebagai bakar utama untuk menghasilkan energi listrik. Tidak hanya listrik, hasil pembakarannya juga dapat menghasilkan air panas, gas panas, dan pupuk.

Chief Executive Officer (CEO) PT Indopower International (IPI), Harun Al Rosyid mengungkapkan, pihaknya pada Jumat, (26/10), telah melakukan commisioning mesin di workshop-nya di Jl Joglo Raya No. 11, Jakarta Barat.

Dalam commisioning tersebut, beberapa investor dan partner dari berbagai negara turut hadir guna menyaksikan dimulainya uji coba pengoperasian mesin untuk pertama kalinya.

"Kita kedatangan investor dari berbagai negara, ada partner kita dari Jepang, Philipina, Malaysia, Singapura, dan India. Partner kita yang dari Jepang mau pesan satu, yang awalnya untuk dikirim ke Nepal, jadinya dikirim ke Jepang," jelasnya kepada listrikindonesia.com di lokasi, Jumat (26/10).

Ia melanjutnya, partner dari India, ingin membuat manufacturing di sana dengan lisensi IPI. Selain itu, partner yang dari Belgia, juga datang ke sini untuk kerjasama agar mesin tersebut dapat diinstal di negaranya untuk menghasilkan listrik.

"Partner kita dari Philipina, mereka showcase mau dipasang satu di sana dengan kapasitas AWS 50. Akan tetapi mereka juga tertarik untuk di instal kapasitas besar seperti IPI AWS 100 dan IPI AWS 200," tuturnya.

Dikatakan olehnya, untuk kapasitas AWS 50 ini membutuhkan sampah satu kubik per jam, sehari jika di total-total kalau full sekitar 24 kubik. "Kalau empat kubik perjam kira-kira menghasilkan listrik sebesar 350 kilo watt hours," ungkapnya.

Ia mengungkapkan, untuk mesin AWS tipe 50 ini investasinya tidak sampai Rp 500 juta. Mesin ini cocok untuk di instal di daerah-daerah terpencil yang kekurang pasokan listrik.

Harun mengatakan, mesin tersebut selain dapat menghasilkan listrik, abu dari sisa pembakarannya juga dapat digunakan sebagai pupuk dan sementara air panas yang dihasilkan juga dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan hotel maupun rumah sakit.

"Kalau di Jepang kan, hasil air panas dari mesin tersebut digunakan untuk kolam pemandian air panas di sana. Sebab disana kan terdapat musim dingin (salju), jadi sangat cocok untuk diaplikasikan, partner kami di sana juga mengatakan sudah mempunyai beberapa mesin seperti ini, tapi buatan sana."

Penuhi Kebutuhan Dalam Negeri
Harun menuturkan, selain untuk dikirim ke luar negeri, mesin tersebut juga memenuhi kebutuhan dalam negeri. Salah satunya yakni di Kelurahan Pondok Kelapa, Jakarta Timur, yang berencana menginstal mesin tersebut untuk mengatasi permasalahan sampahnya.

Pasalnya, di wilayah Pondok Kelapa sendiri mempunyai tiga tempat penampungan sampah sementara (TPS) yang kemudian nantinya sampah-sampahnya diangkut ke tempat pembuangan akhir (TPA) Bantar Gebang.

"Tadi perwakilan tim dari Kelurahan Pondok Kelapa datang ke workshop kami untuk melakukan konfirmasi dan melakukan uji emisi. Mudah-mudahan Kelurahan Pondok Kelapa jadi contoh untuk kelurahan lainnya," papar Harun.

"Hari ini mereka datang konfirmasi, kemudian dalam beberapa waktu ke depan kita duduk bersama untuk menindaklanjutinya," sambung dia.

Pihaknya berharap dapat secara signifikan membantu mengatasi permasalah sampah nasional dengan biaya yang seringan mungkin.

"Sampah ini kan longtherm ya, karena sampah itu kan semakin lama semakin meningkat, contohnya seperti di TPA Bantar Gebang, meskipun di sana sampahnya dimanfaatkan menjadi biogas, akan tetapi masih meninggalkan bentuk nyata," imbuhnya.

Selain di Pondok Kelapa, di salah satu Komplek Real Estate Bekasi juga telah diinstal mesin tersebut untuk mengatasi masalah sampah di wilayahnya.

Dikatakan olehnya, Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) mesin tersebut bisa dikatakan semuanya produk anak bangsa sendiri. Tidak ada bahan-bahan impor yang melekat di mesin tersebut. "Semuanya produk dalam negeri, dari desain hingga lisensi, itu semuanya pure milik kami (Indopower International)," jelasnya kembali

Lebih jauh, Harun mengatakan, untuk perakitannya sendiri pihakya membutuhkan waktu sekitar dua setengah bulan (2,5 bulan) selesai hingga commisioning.

Sementara, perwakilan dari LMK (Lembaga Musyawarah Kelurahan) Kelurahan Pondok Kelapa Wisnu dan Saiful yang datang ke lokasi mengatakan, pihakya saat ini sedang studi kelayakan mengenai mesin tersebut.

"Sudah tiga kali ke sini (workshop) melihat mesin pengolahan limbah. Tinggal nanti yang putuskan itu Bu Lurah (Siska Leonita, Lurah Pondok Kelapa, Jakarta Timur)," katanya.

Rencanya Kelurahan Pondok Kelapa ingin mendatangkan satu unit mesin tersebut untuk mengatasi sampahnya yang ada di wilayah Pondok Kelapa.

Selama ini, sampah di Kelurahan Pondok Kelapa masih di olah secara konvensional yakni sampah masyarakat diangkut oleh petugas ke tempat penampungan sampah sementara, kemudian baru diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir Bantar Gebang. (RG)

Tags : News
Terakhir disunting : Oct 27, 2018


0 Komentar

Berikan komentar anda

Top