Negara-Negara Di DUNIA Penyumbang Limbah

Negara-Negara Di DUNIA Penyumbang Limbah

Aktivitas pembakaran bahan bakar fosil seperti dari batubara, minyak bumi, gas bumi me­rupakan penyumbang terbesar emisi gas  rumah kaca, khususnya karbondioksida (CO2). Itu sebabnya, sektor energi akan terkena dampak langsung kesepakatan dunia mengenai manajemen perubahan iklim yang tertuang dalam ratifikasi Protokol Kyoto.

Indonesia, melalui Forum Go­vernment - 20 (G-20) di Pittsburgh, Ame­rika Serikat pada September 2009 lalu, berkomitmen untuk menurunkan sekitar 26% emisi karbondioksida da­ri level biasa di 2020 mendatang. Se­men­tara, Amerika Serikat menyatakan ber­komit­men untuk menurunkan sekitar 17% emisi gas rumah kaca dari level 2005 pada 2020 mendatang.

Pada saat yang sama, China juga meng­umumkan untuk menurunkan  emisi gas rumah kaca sebesar 40-45 per­sen dari level tahun 2005 ber­dasarkan produk domestik bruto (PDB). Demikian juga dengan India yang menyatakan akan mengurangi 20-25 persen emisi gas rumah kaca mereka pada tahun 2020. Namun India tidak akan menandatangani kesepakatan apa pun yang berdaya ikat hukum dalam KTT Iklim Kopenhagen. Sebenarnya, Amerika Serikat, China, dan India adalah tiga negara penghasil emisi karbon terbesar di dunia, sehingga komitmen penurunan emisinya ditunggu oleh semua negara peserta konferensi perubahan iklim.

Dampak negatif dari efek emisi gas rumah kaca tersebut juga tercermin dari hasil Survey Risiko Global 2012 yang dilakukan oleh Forum Ekonomi Global (World Economic Forum). Hasil survey forum ini menyatakan bah­wa peningkatan efek rumah kaca akan menjadi sumber utama kerusakan ling­kungan dalam 10 tahun ke depan. Sejalan dengan itu, salah satu sumber risiko lain yang akan menyebabkan kerusakan lingkungan adalah bencana akibat ulah manusia seperti polusi dan eksploitasi sumber daya alam.

Selain itu, risiko-risiko tersebut juga akan diperparah dengan kegagalan pe­merintah dalam pengendalian har­ga energi sehingga akan membuat terjadinya peningkatan konsentrasi gas rumah kaca secara langsung maupun tidak langsung.

Apa konsekuensi dari komitmen negara-negara di dunia untuk me­nurun­kan emisi gas rumah kaca? Pada sektor energi, komitmen negara-negara di dunia untuk mengurangi efek emisi gas rumah kaca berarti menurunkan penggunaan bahan bakar fosil yang dianggap sebagai penyumbang terbesar emisi gas  rumah kaca. Dengan demikian, sebagian besar negara-negara di dunia harus melakukan konversi energi melalui energi alternatif yang ramah lingkungan.

Sejum­lah negara, sejauh ini memang sudah melakukan antisipasi dengan meningkatkan penggunaan energi alternatif dalam menggali sumber-sumber energi dan sistem kelistrikan mereka.
Pencemaran lingkungan memang menjadi isu dunia. di Italia misalnya baru-baru ini tenggelamnya kapal Costa Concordia menyebabkan kebocoran sekitar 2.300 ton bahan bakar dan akan menyebar di wilayah itu.

Wilayah tenggelamnya kapal itu berada di lepas pantai Pulau Giglio yang dikenal memiliki air yang jernih, beragam koral dan kehidupan laut. Kawasan ini menjadi salah satu tempat favorit bagi para penyelam.

Menurut Corrado Clini, Menteri Lingkungan Italia, sedang diupayakan untuk mencegah agar bensin tidak bocor ke luar dari kapal.

Namun ada juga negara yang mampu mengop­timalkan penggunaan energi ramah lingkungan. Sebut saja Norwegia. Negara di Eropa Barat yang dikenal sebagai negeri Viking tersebut berdasarkan data dari Badan Energi Internasional, 95,7% listrik­nya dipasok dari Pembangkit Li­strik Tenaga Air (PLTA).

Norwegia memiliki banyak pe­gu­nungan dengan tingkat curah hujan yang sangat tinggi, yakni rata-rata 1.500 milimeter (mm) per tahun. Selain itu, Norwegia mengganggap bahwa air merupakan bahan baku listrik terbersih, hijau, dan ramah lingkungan karena tidak menghasilkan gas rumah kaca. Produksi listrik dari PLTA di Norwegia terus mengalami peningkatan. Dari sebesar 27 terra watt hours (TWh) pada tahun 2000 menjadi sebesar 141 TWh pada 2008.  

Pengembangan PLTA di Norwegia yang sangat dominan, pada akhirnya mendapat apresiasi dari Badan Energi Internasional (IEA). Direktur Eksekutif IEA, Nobuo Tanaka, medio Maret 2011, di Oslo, Tanaka mengatakan bahwa kebijakan energi Norwegia melalui  PLTA yang sangat menonjol, patut menjadi contoh positif bagi negara-negara lain. Tanaka mengungkapkan, target kebijakan energi Norwegia pada 2020 adalah mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 30% dibandingkan tahun 1990. “Hal tersebut tidak sulit dicapai mengingat listrik dan energi di negara tersebut pada dasarnya sudah bebas karbon melalui pemanfaatan PLTA,” tandas Tanaka.

Selain Norwegia, di akhir 2010, China juga berhasil memasok sekitar 200 GW listrik dari PLTA. Sayang, sumber utama energi listrik di China bukan berasal dari PLTA tetapi PLTU melalui pemanfaatan batu bara. Selain Norwegia, Kanada, Brazil-Paraguai juga tercatat sebagai negara yang memanfaatkan PLTA paling besar. Berdasarkan catatan Wikipedia, Amerika Serikat (AS) saat ini memiliki sekitar 2000 PLTA yang kontribusinya terhadap energi terbarukan di negeri Paman Sam tersebut sebesar 49%. Bahkan Hoover Dam di AS sempat tercatat sebagai PLTA terbesar di dunia sebelum kemudian terlewati oleh Itaipu Dam. Lalu, kemudian terlewati lagi oleh PLTA  yang membentang di Sungai Yangtze, China.  

Beberapa negara lain yang sangat begantung dengan PLTA adalah Brazil, Paraguai, Kanada, dan Kongo. PLTA di negara-negara tersebut menjadi sumber sistem kelistrikan utama. Brazil dan Paraguai bahkan melakukan penandatanganan sistem kelistrikan melalui PLTA yang disebut “Kesepakatan Itaipu”, yakni pengembangan sumber listrik tenaga air dari sungai Parana. 80% lebih sumber tenaga listrik di Brazil, Kanada, dan Kongo berasal dari PLTA.

Negara lain yang berupaya mengem­bangkan energi rendah karbon adalah Prancis. Kendati kontroversi akibat beberapa kasus yang menjadi tragedi internasional seperti kasus  tahun 1986 dan kebakaran reaktor Fukushima pada Maret 2011, namun nuklir tercatat sebagai salah satu energi yang rendah karbon.  Namun demikian, jika dilihat dari potensi risiko yang bisa muncul, nuklir justru sangat berbahaya. Radiasi zat radio aktif, jika timbul kebocoran, akan berbahaya terhadap lingkungan, baik bagi manusia maupun hewan dan tumbuhan di sekitarnya yang terlihat dari kasus Chernobyl dan Fukushima.

Kota Ramah Lingkungan

Kesadaran masyarakat untuk meng­gunakan energi hijau ramah lingkungan, dapat dikatakan sebagian besar sudah terbentuk. Hal ini terlihat dari adanya beberapa kota yang menggunakan energi ramah lingkungan dalam sistem kelistrikan mereka.

Salah satu kota terhijau dan terkenal sebagai Kota Ramah Lingkungan adalah Reykjavik, Ibukota negara Islandia seka­ligus kota terbesar  di negara ter­sebut. Bagi sebagian masyarakat Indonesia, nama kota yang memiliki populasi penduduk 120.165 jiwa, nama Reykjavik memang kurang akrab terdengar di telinga. Namun Reykjavik merupakan kota yang sangat ramah lingkungan.

Reykjavik yang memiliki luas wilayah 274,5 km2, memanfaatkan panas bumi dan hidropower (listrik tenaga air) sebagai sumber energi listrik mereka.Masyarakat Reykjavik memanfaatkan melimpahnya air dan aktivitas vulkanik dari gunung di negara tersebut sebagai sumber kelistrikan secara tepat guna.Sekitar 70% listrik Reykjavik berasal dari pembangkit listrik tenaga air, dan 30% lagi berasal dari pembangkit listrik panas bumi.

Reykjavik disebut-sebut sebagai kota dengan sistem penghangat geothermal terbesar di dunia. Sekitar 50% lebih energi panas bumi tersebut dipakai sebagai penghangat oleh masyarakat setempat karena Islandia memang dikenal sebagai negara yang bersuhu dingin. Dalam World Geothermal Energy Forum di Bali, Maret 2011 lalu, wakil dari negara  Islandia mendorong negara-ne­gara di dunia yang memiliki potensi panas bumi untuk mengoptimalkan pemanfaatan geothermal.

Kota Reykjavik sejak 2003 tercatat sebagai kota yang memiliki stasiun pengisian bahan bakar tenaga air. Mes­kipun jumlah kendaraan di Reykjavik sa­ngat banyak, namun angkutan umum yakni bus di kota tersebut se­mua­­nya menggunakan tenaga air sebagai bahan bakarnya. Sehingga keberadaan  stasiun pengisian bahan bakar tenaga air secara optimal dapat dimanfaatkan. Bus berbahan bakar air yang di desain sejak 2001, secara operasional performanya tidak kalah dengan bus yang menggunakan bahan bakar diesel dan biaya perawatannya terbilang sangat  efisien dan murah.

Kota lain yang di kenal sebagai kota ramah energi adalah Kota Malmo di Swedia. Malmo memiliki sumber energi terbarukan yang diproduksi 100% secara lokal dan memiliki sebuah distrik yang 100% menggunakan energi terbarukan dari energi matahari. Kontruksi rumah dan bangunan di Malmo didesain sedemikian rupa sebagai sebuah bangunan ramah energi. Kota Malmo berkomitmen untuk terus mengembangkan energi surya yang secara keuangaan dianggap sangat layak dan merupakan reneweble energi ramah lingkungan. Dari 2008 sampai 2012 ini, target pengurangan emisi karbon di Malmo sebesar 25% dapat dikatakan sudah tercapai.

Kota-kota di dunia lain yang di­anggap sangat ramah lingkungan dari sisi energi adalah Vancouver di Kanada dan Sidney di Australia. Vancouver yang memiliki sekitar 200 buah taman kota besar tersebut, sekitar 90% listriknya berasal dari energi terbarukan, yakni energi angin, energi pasang surut, dan energi matahari.

Sementara Sydney di Australia, me­­rupakan kota pertama yang men­jadi pionir “Earth Hour”. Sydney kini sedang melakukan kampanye untuk menjadi kota bebas karbon se­penuhnya. Sejumlah energi listrik yang awalnya berasal dari batu bara kini telah dikonversi menjadi energi-energi terbarukan. Kini Sydney sedang mengembangkan energi generasi ke tiga secara terpadu yang berasal dari energi terbarukan.

Keberadaan kota-kota di dunia yang masyarakatnya sadar untuk bersahabat dengan lingkungan, tentu saja di­harap­kan bisa menjadi inspirasi bagi masyarakat di kota-kota negara lainnya untuk bersama-sama mengembangkan energi listrik yang ramah lingkungan. Termasuk tentu saja di Indonesia.■

Author :

Tags : Fokus Utama

1 Komentar

Berikan komentar anda

Top