Pengembangan PLTS Harus Jelas

Author : Franki Dibuat : Mar 5, 2018

Pengembangan PLTS Harus Jelas
Listrik Indonesia | Tak ada dukungan dari hulu industri karena pasar dalam negeri yang belum menjanjikan, hingga kerap berubahnya regulasi membuat pengembangan energi surya dalam negeri terkesan lambat. Apakah pemerintah serius mengejar target 6,4 GW untuk PLTS di 2025?
Sudah tiga tahun segala bentuk usaha telah dijalankan pemerintah, untuk merealisasikan Nawacita kelistrikan nasional mencapai 35.000 MW. Dari banyaknya pembangkit yang telah dibangun, pada kenyataanya energi terbarukan dari tenaga surya masih terkesan lambat perkembangannya. Padahal, negeri ini mempunyai energi sinar matahari yang berlebih. Potensi energi matahari di Indonesia berkisar 4,8 kWh per meter persegi.

Seharusnya, dalam industri panel surya, Indonesia bisa lebih maju, baik dari teknologi maupun jumlah pembangkitnya.

Menurut Ketua Asosiasi Pabrikan Modul Surya Indonesia (APAMSI), Nick Nurrachman, sebagaimana visi dan misi Apamsi yang berperan sebagai mitra strategis pemeritah dalam pengembangan panel surya. Dalam hal ini memproduksi photovoltaic atau panel surya dan menjualnya dengan harga yang relatif terjangkau.

Akan tetapi, untuk memproduksi panel surya masih terganjal beberapa kendala. Lanjutnya, pemerintah harus memikirkan agar market industri panel surya bisa terserap oleh pengguna dalam negeri, terutama pada sektor pembangkit. Selain itu, harus ada law enforcement sebagai kewajiban menggunakan produk dalam negeri.

“Persaingan bisnis di sektor EBT maupun photovoltaic sangat tinggi, produk lokal tak kalah bagus dari produk luar. Jika law enforcement itu dibuat, saya rasa kita akan maju pada industri panel surya,” ujar Nick.

Sejauh ini, bahan baku dari panel surya masih meng­andalkan impor. Nick menjelaskan, industri panel surya dalam negeri, tak diiringi dukungan dari hulu industri karena pasar dalam negeri yang belum menjanjikan. Karenanya, industri panel surya dalam negeri belum kompetitif.

Saat ditemui Listrik Indonesia di kantornya, Nick mengungkapkan, APAMSI yang beranggotakan sembilan perusahaan produsen panel surya, pada habitatnya masih berada di hilir industri. Sejak berdirinya APAMSI delapan tahun yang lalu, pihaknya belum begitu merasakan nikmatnya "kue pembangunan".

Nick mencontohkan pada pembangunan PLTS terbesar di Cirata, Puwakarta, Jawa Barat. Apamsi sebagai pelaku industri photovoltaic, seharusnya dapat dilibatkan dalam pembangunan tersebut.

“Industri hulu hingga hilir harus kita kuasai, agar bisa kompetitif, keberpihakan produk dalam negeri dijadikan komitmen baik pengguna, produsen, maupun pemerintah,” cetusnya. (GC)



1 Komentar

Berikan komentar anda

Top