Pengembangan Renewable Energy Terkendala Keekonomian dan Feed in Tariff

Author : Franki Dibuat : Sep 14, 2017

Pengembangan Renewable Energy Terkendala Keekonomian dan Feed in Tariff
Listrik Indonesia, Jakarta | Dewan Pakar Listrik Indonesia Dr Ir Milton Pakpahan tampil sebagai pembicara dalam even Renewable Energy Investment Opportunities and Challenges in Indonesia mengungkapkan, tantangan pengembangan pembangkit energi terbarukan di Indonesia adalah masalah harga keekonomian dan feed in tariff. Seperti diketahui, pemerintah telah mengeluarkan PP Nomor 79 tahun 2014 mengenai Kebijakan Energi Nasional (KEN), menekankan kebutuhan untuk mempercepat pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT).

Menurut dia, KEN telah menargetkan porsi EBT dalam bauran energi nasional pada 2025 hingga sebesar 23% atau hampir empat kali lipat dari target yang berhasil dicapai saat ini. Karena itulah EBT mutlak dikembangkan.

“Target yang harus dicapai dari bauran energi dari EBT setara dengan 45.000 MW dari 135 GW ketersediaan kebutuhan listrik pada tahun pada 2025. Hambatannya adalah nilai keekonomian dan feed in tariff,” ungkap Milton di sela-sela acara Renewable Energy Investment Opportunities and Challenges in Indonesia, di Balai Kartini Jakarta, (14/9).

Indonesia memprioritaskan percepatan pengembangan EBT untuk mendukung ketrersediaan energi dalam jangka panjang, ketahanan energi, dan kemandiriaan energi.

Terobosan baru yang masif dan nyata di pemerintah dan semua pemangku kepentingan perlu dilakukan, baik dari sisi kebijakan, pendanaan, teknologi, dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM).

“Perkembangannya cukup signifikan, sampai hari ini tercatat 700 MW EBT telah ditandatangani dalam sepuluh bulan terakhir. Sebagai Dewan Pakar IRES, tentunya sangat optimis target bauran energi akan tercapai pada tahun 2025,” pungkas Milton Pakpahan. (DH)

Tags : News
Terakhir disunting : Sep 14, 2017


0 Komentar

Berikan komentar anda

Top