Penggunaan Produk Industri Lokal di Sektor Ketenagalistrikan Masih Rendah

Author : Franki Dibuat : Jul 11, 2018

Penggunaan Produk Industri Lokal di Sektor Ketenagalistrikan Masih Rendah
Listrik Indonesia | Pemerintah terus melakukan berbagai upaya Untuk meningkatkan penggunaan produks dalam negeri di sektor ketenagalistrikan. Pasalnya, hingga saat ini penguuaan produk industri dalam negeri di sektor ketenagalistrikan masih rendah.

Direktur Jenderal Industri Logam Mesin Alat Transportasi dan Elektronika Kementerian Perindustrian RI, Harjanto mengatakan, pihaknya terus mendorong para industri dalam negeri untuk terus meningkatkan produksinya.

Saat ditemui di acara pameran Indosolar Expo Forum 2018 yang dilaksanakan di JIExpo Kemayoran, Jakarta, ia mengatakan Indonesia merupakan pengguna energi primer terbesar di Asia Tenggara yakni sekitar 36%.

Pameran tersebut dilaksanakan bersamaan dengan pameran lainnya yaitu Indonesia Lift Escalator Expo; Indonesia HVACR Energy and Efficiency Expo; Pameran Inachem 2018; Indonesia Facility Management Security and Safety; Indonesia Building Mechanical and Electrical; dan Smart Security Fire and Rescue. Selain itu, Indo Steel Building dan Metal Structure Indonesia Expo; Indonesia Cable Wire; Indonesia Steel Alimunium; Indonesia Tube Pipe.

Harjanto kembali mengatakan, produk domestik bruto Indonesia pada tahun 2000-2015 naik dua kali lipat dan kebutuhan listrik meningkat tajam yakni sebesar 150%. Hal ini menggambarkan bahwa pertumbuhan ekonomi mendorong kebutuhan energi Indonesia.

Ia menuturkan, Indoneisa memiliki komitmen untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sebanyak 26% pada tahun 2020, antara lain melalui penghematan penggunaan energi dan transportasi, penggunaan teknologi pendingin yang lebih efisien, implementasi penggunaan bangunan hijau, manajemen proses produksi, pengelolaan limbah dan lain-lain.

"Dengan adanya komitmen tersebut efisiensi sangat penting dilakukan menghemat energi dan mengurangi emisi. Salah satu usaha yang dilakukan Pemerintah dalam mengurangi emisi gas rumah kaca adalah menempatkan energi baru dan terbarukan (EBT) sebagai kekuatan sumber enegi nasional di masa depan, sehingga Pemerintah dalam rencana umum energi nasional (RUEN) menetapkan target EBT sebesar 23% pada 2025 mendatang," jelas Haryanto di JIExpo Kemayoran, Rabu, (11/07).

Ia mengungkapkan, pemerintah terus mendorong penggunaan EBT, salah satunya adalah melalui penggunaan energi surya agar dapat dimanfaatkan secara maksimal.

"Pemerintah telah menargetkan pembangunan pembangkit lostrik tenaga surya sebesar 6 Gigawatt (GW) samapai dengan 2025, seluruh stakeholders baik Pemerintah, swasta, asosiasi, industri, akademisi, lembaga riset, pengguna dan lainnya, telah melakukan koordinasi agar target tersebut dapat tercapai," jelasnya.

"Bagi industri dalam negeri kebijakan ini telah menciptakan pasar untuk produk modul surya dan kelengkapannya. Kmau yakin kebutuhan akan produk surya terus meningkat," sambungnya.

Dikatakan olehnya, industri panel surya dalam negeri saat terus berkembang dan tergabung dalam asosiasi pabrikan panel surya Indonesia.

"Saat ini pabrikan panel surya memiliki kapasitas produksi mencapai 515 Megawatt (MW), namun demikian industri panel surya dalam negeri sejauh ini baru sebatas merakit sel surya di modul surya, belum ada industri yang memproduksi panel surya secara utuh. Ini menjadi tantangan seluruh stakeholders terkait dengan industri PLTS," terangnya.

Untuk itu, lanjutnya, Kementerian Perindustrian telah menyusun RIPIN (Rencana Induk Pengembangan Industri Nasional) didalamnya ditentukan 10 industri prioritas, salah satunya adalah industri pembangkit energi.

Dalam RIPIN 2015-2035, memuat kebijakan terkait pemanfaatan energi surya yang mencakup mengenai pengembangan roadmap, memfasilitasi pendirian pabrik, pengolahan material menjadi komponen PLTS, memfasilitasi ahli teknologi sel surya melalui pendirian atau akuisisi, memfasilitasi penelitian pengembangan solar sel untuk implementasi dan pengembangan masyarakat, mengembangkan kebijakan pemanfaatan listrik perumahan dari solar sel untuk menambah kapasitas daya listrik nasional.

Kemenperin melalui Dirjen Ilmate sedang menyusun road map pengembangan photovoltaic yang akan memberikan arah dan target pengembangan industri tersebut. Dalam waktu selamat pihaknya akan mendorong agar ada industri dalam negeri yang mampu memproduksi sel surya dengan bahan baku wafer.

Dalam rangka memberikan kesempatan industri dalam negeri, Kementrian bersama seluruh pemangku kebijakan akan selalu mendorong persyaratan tingkat komponen dalam negeri dalam setiap pengadaan PLTS oleh Pemerintah, melalui Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 4 tahun 2017 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemilihan Tingkat Komponen Dalam Negeri Untuk Pembangkit Listrik Tenaga Surya.

Kemudian melalui Peraturan Menperin nomor 5 tahun 2017 tentang perubahan atas Permenperin nomor 54 tentang Pedoman Penggunaan Produk Dalam Negeri Untuk Pembangunan Infrastruktur Ketenagalistrikan.

"Saya berharap industri lainnya dapat meningkatkan produksi ditengah-tengah menurunnya nilai tukar rupiah terhadap dollar. Kita diminta untuk mendorong ekspor dan pada kesempatan ini adalah ajang yang sangat kita perlukan untuk mendorong ekspor tidak hanya di tenaga surya tapi di produk-produk material building, kimia," tandas Harjanto.

Seperti diketahui pameran tesebut diikuti oleh sekitar 200 perusahaan dari dalam dan luar negeri seperti China, Taiwan, Malaysia, India, dan lainnya yang berlangsung hingga 13 Juli mendatang. (RG)

Tags : News


0 Komentar

Berikan komentar anda

Top