PLTA Bengkok Andalan Listrik Bumi Pasundan

Author : listrikinfo@gmail.com Dibuat : Dec 3, 2019

PLTA Bengkok Andalan Listrik Bumi Pasundan
Listrik Indonesia - Bandung | PT Perusahaan Listrik Negara melalui anak usahanya, PT Indonesia Power (IP) saat ini masih terus mengoperasikan PLTA Bengkok berkapasitas 3x1,050 MW. Pembangkit dari energi air Cikapundung ini sudah beroperasi sejak 1923, saat era penjajahan Belanda. Hingga kini produksi listrik dari pembangkit ini masih bisa menerangi sebagian Kota Bandung. Listrik Indonesia dan Rombongan Redaktur berbagai media beruntung diajak oleh Manajemen PLN Disjaya untuk mengunjungi PLTA Bengkok yang hampir berusia 100 tahun dan masih menjadi andalan listrik kota Bandung. 

Supervisor Senior Humas dan Keamanan PLTA Saguling Indonesia Power, Agus Suryana mengungkapkan, pembangkit yang berusia 95 tahun ini merupakan warisan budaya sehingga pihaknya memang tetap mempertahankan mesin dari peninggalan Belanda itu. Meski begitu, jika ada mesin yang rusak tentu saja akan ada rekondisi. "Kami punya program perawatan satu tahunan dan lima tahunan," ungkap Agus.

Dia menambahkan, dengan kapasitas 3x1,050 MW membuat PLTA Bengkok sebagai supporting bagi kelistrikan di daerah Jawa Barat khususnya di Bandung. Listrik dari PLTA Bengkok masuk dalam sistem Jawa-Bali. 

"Sudah masuk interkoneksi, kami support saja. Karena memang operasi kami ini yang mengatur alam karena dari air," tambahnya.

PLTA Bengkok memiliki tiga turbin dengan kapasitas 3 x 1.050 kilowatt (kW) atau 3,15 megawatt (MW). Ketiga mesin tersebut masih dapat beroperasi dengan kapasitas penuh, asalkan debit air memadai, yakni dibutuhkan sebanyak 3,025 m3/detik.

Menurutnya, pembangkit tenaga air merupakan jenis pembangkit yang dapat berumur panjang selama pasokan air tersedia. Oleh karena itu, penting sekali menjaga kelestarian lingkungan dan hutan agar ketersediaan air tetap terjaga.

Pasokan air berasal dari Sungai Cikapundung yang dibendung dan dialirkan ke kolam pengendap Batangawi melalui saluran tertutup sepanjang 2 kilometer. Kemudian dialirkan ke kolam tando (penampung) harian dan disalurkan ke power house PLTA Bengkok dengan pipa 830 meter. Sisa air dari PLTA Bengkok digunakan membangkitkan satu unit turbin PLTA Dago 700 kW atau 0,7 MW yang tak jauh dari PLTA Bengkok.

Di akhir visit, Agus menjelaskan bahwa peralatan, seperti turbin, generator, trafo, hingga sistem kontrol masih asli dan tidak dilakukan penggantian mesin sejak beroperasi pertama kalinya.

Sengaja memang tidak dilakukan modernisasi pada pembangkit yang terletak di Desa Ciburial dan Dago, Bandung ini. Pasalnya, pembangkit tua ini dijadikan warisan budaya untuk tempat pembelajaran bagi generasi penerus. (DH)

Tags : News


0 Komentar

Berikan komentar anda

Top