PLTU Cilacap Ekspansi 2 Siap Beroperasi dan Peran reCOnsult dalam Proses Engineering & Konstruksi.

Author : listrikinfo@gmail.com Dibuat : Sep 18, 2019

PLTU Cilacap Ekspansi 2 Siap Beroperasi dan Peran reCOnsult dalam Proses Engineering & Konstruksi.
Listrik Indonesia - Jakarta | PT Pembangkitan Jawa-Bali (PJB) bersama PT Sumberenergi Sakti Prima (SSP) tengah mengembangkan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berteknologi ultrasupercritical pertama di Indonesia.

Diperkirakan, pembangkit listrik yang dinamakan PLTU Cilacap Ekspansi Fase 2 ini sudah bisa beroperasi secara komersial (commercial operation date/COD) pada Oktober 2019 mendatang.

Direktur Utama PT PJB, Iwan Agung menyatakan  bahwa ultra supercritical merupakan teknologi pembangkit listrik yang memiliki tingkat efisiensi yang lebih baik dalam menghasilkan energi listrik apabila dibandingkan dua teknologi pembangkit listrik lainnya, yaitu teknologi subcritical dan supercritical. "Kalau misalnya teknologi yang lama 1 kg batu bara mampu menghasilkan mampu menghasilkan 2 Kwh, maka untuk yang ultrasupercritical ini 1 kg batu bara bisa menghasilkan 3 Kwh," kata Iwan Senin, (16/9).

Sebagai perbandingan, teknologi ultrasupercritical diklaim memiliki tingkat efisiensi hingga sekitar 42%. Angka tersebut lebih besar apabila dibandingkan dengan tingkat efisiensi yang dimiliki oleh dua teknologi pembangkit listrik lainnya, yakni supercritical (36%) dan subcritical (32%). Saat ini, pengembangan proyek PLTU Cilacap Ekspansi Fase 2 berada pada tahap sinkronisasi setelah sebelumnya melalui tahap commissioning. Ke depannya, PJB dan SSP akan melakukan serangkaian uji performa agar PLTU Cilacap Ekspansi Fase 2 bisa mendapatkan sertifikat laik operasi (SLO) dan beroperasi (COD) pada Oktober 2019 mendatang. 

Pada nantinya, PLTU Cilacap Ekspansi Fase 2 akan memiliki kapasitas sebesar 1000 MW. Dengan kapasitas tersebut, PLTU ini diklaim akan mensuplai sebanyak 3,5% dari kebutuhan listrik pada sistem Jawa-Bali.

Menurut Iwan, pengembangan proyek PLTU Cilacap Ekspansi Fase 2 membutuhkan dana investasi sebesar US$ 1,4 miliar. Sebanyak US$ 900 juta dari dana tersebut digunakan untuk keperluan engineering, procurement, and construction (EPC). Sementara itu, sekitar US$ 500 juta sisanya digunakan untuk mendanai biaya-biaya lain seperti interest during construction, perizinan, pengadaan lahan, dan lain-lain.

PLTU Cilacap Ekspansi Fase 2 ini melibatkan banyak pihak, baik asing maupun lokal. Kontraktor EPC-nya adalah China National Chemical Engineering Co. Ltd. (CNCEC).

Ada hal yang sangat membanggakan, yaitu adanya perusahaan lokal yang memiliki peran penting dalam kegiatannya, yaitu reCOnsult.

Menurut Dirut PT Rekadaya Elektrika Consult ( reCOnsult) Adang Sudrajat, reCOnsult terlibat langsung dalam pekerjaan supervisi desain engineering
Supervisi konstruksi.

Supervisi desain Engineering & supervisi kontruksi adalah untuk memastikan Kontraktor melaksanakan pekerjaan sesuai dengan kriteria yang disyaratkan.
Adang Sudrajat menyampaikan bahwa  PT. Rekadaya Elektrika Consult (reCOnsult) merupakan anak  perusahaan dari PT. Rekadaya Elektrika (RE), dimana RE adalah anak perusahaan PT. PJB.

PLTU Cilacap Ekspanse Fase 2 merupakan bagian dari pengembangan PLTU Cilacap yang dioperasikan sejak tahun 2006. Sebelumnya, PJB melalui S2P telah mengembangkan tiga PLTU di Cilacap yang meliputi PLTU Unit 1 (300 MW) yang beroperasi pada 6 April 2006, PLTU Unit 2 (300 MW) pada 2 September 2006, serta PLTU Cilacap Ekspansi fase 1 dengan kapasitas 660 MW yang beroperasi pada 10 Juni 2016. Dengan demikian, pada nantinya akan terdapat sebanyak 4 PLTU dengan total kapasitas sebesar 2260 MW di Cilacap apabila PLTU Cilacap Ekspansi Fase 2 sudah beroperasi nanti. (DH)

Tags : News


0 Komentar

Berikan komentar anda

Top