Saatnya Daerah Tidak Tergantung Sepenuhnya pada PLN

Author : Administrator
Saatnya Daerah Tidak Tergantung Sepenuhnya pada PLN

Sejumlah pemerintah daerah tertarik melaksanakan program energi mandiri. Sebagai ibukota negara, DKI Jakarta merencanakan membangun pembangkit untuk menutupi defisit pasokan listrik dari PLN.

Beberapa tahun yang lalu mungkin belum banyak yang mengetahui apalagi tertarik dengan program listrik mandiri. Akibat pasokan listrik dari PT PLN (Persero) terbatas, banyak daerah yang belum sepenuhnya menikmati aliran listrik. Walaupun listrik bisa dijangkau, namun pemadaman kerap terjadi.

Krisis listrik dialami banyak daerah. Menunggu pasokan listrik terpenuhi sepenuhnya dari PLN jelas membutuhkan waktu lama. Pihak PLN pun memiliki keterbatasan untuk mengembangkan jangkauan. Oleh karena itu, untuk mengatasi persoalan tersebut, program energi atau listrik mandiri menjadi jalan keluar di tengah masih defisitnya pasokan listrik dari perusahaan negara.

Saat ini masih sekitar lebih dari 6.240 desa tertinggal di seluruh Indonesia yang belum memiliki jaringan listrik. Yang menyedihkan, subsidi energi dari tahun ke tahun meningkat tetapi tidak banyak membawa dampak terhadap energi kelistrikan nasional. Bagaimana dengan energi alternatif? Ternyata masih sangat kecil. Potensi energi biomassa Indonesia, misalnya diperkirakan sangat tinggi namun pemanfaatannya masih kurang dari 1%.

Hasil ini tentu saja meresahkan. Tidak mengherankan, kemudian banyak pemerintah daerah (pemda) yang mulai sadar tentang perlunya listrik mandiri dan tidak menggantungkan harapan seluruhnya kepada listrik dari PLN. Salah satunya adalah Pemerintah Provinsi (Pemprov) Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta.

Pemprov DKI berniat membangun pembangkit listrik sendiri untuk memenuhi kebutuhan listrik ibukota sebagai cadangan bagi penyediaan listrik dari PLN. Rekomendasinya telah diberikan oleh DPRD DKI.
Menurut Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, kajian tentang pembentukan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) untuk bidang energi saat ini sedang dilakukan. Kajian termasuk pula mengenai pola suplai energi di Jakarta yang disediakan PLN sehingga nantinya suplai energi dari BUMD tersebut dapat diintegrasikan. Di DKI, suplai listrik tambahan dibutuhkan untuk transportasi massal mass rapid transit (MRT) yang ditargetkan beroperasi pada 2016.

Penyediaan suplai listrik untuk pengoperasian MRT itu merupakan prioritas Pemprov DKI dalam mendirikan pembangkit listrik sendiri sebagai cadangan suplai listrik dari pusat. Saat ini, kebutuhan pasokan listrik untuk MRT memang telah disediakan oleh PLN lewat nota perjanjian kerjasama PLN dan Pemprov DKI, tahun lalu.

Salah satu pemerintah daerah yang sudah berhasil dalam listrik mandiri adalah kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan. Kabupaten yang berjarak 220 km sebelah utara Makasar kini memiliki paling tidak 3.681 rumah di desa-desa terpencil yang bisa menikmati listrik hingga 24 jam tanpa tergantung PLN.
Kisah keberhasilan kabupaten Enrekang berawal di 2003. Saat itu, bupati terpilihnya adalah La Tinro La Turung. Dia adalah seorang kontraktor listrik. Setelah terpilih, sang bupati segera melakukan survei masalah kelistrikan dan kemungkinan pengembangan proyek listrik tenaga mikrohidro (PLTMH). Ternyata 26 desa berpotensi. Namun karena keterbatasan dana, sang bupati mencari dukungan dana ke Gubernur Sulsel, sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) dari Jerman, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), dan beberapa kementerian departemen.

Hasilnya selama kurun waktu 2005-2009 sudah dibangun 12 PLTMH yang memasok listrik untuk 15 desa atau sekitar 2.888 rumah. Total kapasitas terpasangnya 655 kVA. PLTMH ini hasil bantuan dari berbagai instansi. Antara kurun waktu tersebut juga, di Enrekang sudah terbentuk sembilan Desa Mandiri Energi dan pada 2008, di kabupaten ini pula untuk pertama kali di Indonesia terbentuk Kecamatan Mandiri Energi yaitu kecamatan Bungin dengan enam desa.
Rudianto, Kepala Seksi Ketenagalistrikan Dinas Pertambangan dan Energi Enrekang, seperti dikutip dari Kompas, saat ini pembangunan tenaga listrik terus berlangsung dan Pemkab juga terus memacu pembangunan berbagai pembangkit energi terbarukan seperti PLTMH, pemanfaatan energi dari biogas dan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).

Saat ini semua operasional pembangkit dikelola masyarakat sendiri melalui suatu badan usaha desa (BUD). Besarnya tarif satu rumah Rp 20.000 - Rp30.000. Tarif ditentukan dalam musyawarah desa dan BUD juga menggalang dana cadangan untuk pemeliharaan dan perbaikan sewaktu-waktu. Total pembangunan PLTMH, PLTS dan Biogas mencapai Rp 22,5 miliar. Dari angka tersebut kontribusi pemerintah pusat Rp 14 miliar.
Di Jawa Barat, Pemda juga banyak berperan dalam pengembangan listrik mandiri. Pada 2009, pihak pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Jawa Barat, misalnya, memfasilitasi percepatan pengembangan Desa Mandiri Energi Haurngombong, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat melalui dukungan 61 unit Biogas jenis Fiber Individual dan 1 unit Biogas Komunal.
Potensi Jumlah ternak sapi yang cukup besar di desa ini mendorong masyarakat untuk memanfaatkan limbah kotorannya menjadi hal yang bermanfaat. Pemanfaatan kotoran sapi akhirnya berbuah Desa Mandiri Energi Biogas Sapi Perah Desa Haurngombong.

Selain dukungan pemda, proyek listrik mandiri di desa ini didukung oleh Tim Pengabdian Masyarakat Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran, PT. PLN dan Yayasan Cahaya Keluarga Jakarta. Pada 2009 juga, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral juga menyampaikan dukungan melalui Program Desa Mandiri Energi Stimulus Fiskal berupa pengadaan satu paket pengolahan pupuk cair organik.

Menteri Energi Sumber Daya dan Mineral (ESDM) Darwin Zahedy optimistis pelaksanaan kemandirian energi akan berjalan sesuai harapan. Saat ini, kata Darwin, memang pembangkit listrik di Indonesia memang masih menggunakan bahan bakar minyak, namun pelan-pelan akan menggunakan gas dan batu bara. Mengenai pengembangan energi terbarukan, Darwin mendukung untuk ditingkatkan. Apalagi energi dari BBM, batu bara, dan panas bumi lama kelamaan dapat habis. “Sangat bijaksana kiranya apabila kita membangkitkan kemandirian desa menggunakan energi yang ramah lingkungan,” ujar Darwin.

Ke depan, program listrik mandiri cukup prospektif untuk dikembangkan di berbagai daerah dengan dukungan pemda setempat. Bukan hanya daerah-daerah yang kaya akan sumber daya alam yang berpotensi mengembangkan listrik mandiri. Daerah dengan sumber daya alam terbatas tapi memiliki kreativitas tinggi dalam pengolahan energi alternatif diharapkan juga akan mampu menciptakan sumber-sumber listrik mandiri yang sangat dibutuhkan masyarakat.



0 voters

0 Komentar

Loading

Berikan komentar anda

Nama
Email
Website
Komentar
 
Masukkan kode diatas