Harga bahan bakar minyak (BBM) dipastikan ditunda kenaikannya. Pemerintah akhirnya juga menerima hasil rapat paripurna DPR RI untuk menunda kenaikan harga BBM bersubidi serta memungkinkan adanya penyesuaian apabila harga rata-rata minyak mentah mengalami deviasi lebih 15 persen dalam enam bulan terakhir.
Tetapi harga barang sudah terlanjur naik. Imbasnya adalah meningkatnya harga yang harus dibayar masyarakat. Terutama mereka yang berada dalam ekonomi menengah ke bawah. Kebijakan menaikkan harga BBM sebenarnya sudah lama.
Sebenarnya, pemerintah memang ingin mengurangi secara bertahap subsidi BBM. Ditambah lagi kondisinya saat ini adalah melonjaknya harga minyak dunia. Kenaikan harga BBM rencananya juga akan diikuti kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL), yang selama ini banyak disebut pemerintah sebagai tarif termurah di Asia. Tentu saja gabungan kedua hal tersebut sangat berpotensi memiskinkan masyarakat.
Menurut Mantan Gubernur Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak Bumi (OPEC), Maizar Rahman, harga minyak dunia akan terus berfluktuasi akibat pengaruh berbagai faktor seperti ketidakpastian ekonomi dunia, kemampuan pasokan minyak dunia dan spekulasi. Dan memang, sudah saatnya Indonesia mengambil langkah pengurangan subsidi minyak.
Menurutnya, pengubahan sistem subsidi juga akan menghapus perilaku boros pemilik kendaraan. Indonesia dikenal sebagai salah satu negara boros energi. Bahkan perilaku pemilik kendaraan di Indonesia diperkirakan empat kali lebih boros dari negara Tiongkok atau Jepang. Selain itu, dengan menaikkan BBM, ketahanan dan kemandirian energi akan lebih mudah ditingkatkan. Sebab energi lainnya, terutama energi terbarukan akan menjadi lebih kompetitif.
Pro kontra kebijakan kenaikan BBM tidak akan berujung. Apa yang bisa dilakukan masyarakat? Rasa-rasanya untuk protes atau sekadar demonstrasi tidak akan banyak membantu memecahkan persoalan. Pemerintah sepertinya akan tetap mengeluarkan sejumlah kebijakan. Salah satu yang bisa dilakukan masyarakat adalah melakukan langkah penghematan terhadap energi (saving energy).
Isu ini sebenarnya sudah lama. Naik atau tidaknya BBM seharusnya kesadaran akan saving energy sudah harus ditempuh. Energi fosil yang selama ini mendominasi penggunaan energi, sudah dapat ditakar, kapan akan habisnya.
Kondisi ini sebenarnya bukan hanya terjadi di Indonesia tetapi juga di dunia. Kelangkaan sumber daya alam harus disadari juga akan berdampak pada kondisi lingkungan di mana kita tinggal. Apalagi dampak krisis lingkungan sudah seringkali dirasakan. Perubahan iklim seperti udara yang sangat panas, banjir, air pasang, musim yang tidak jelas adalah sedikit dari banyak dampak yang bisa kita rasakan.
Menurut Wikipedia, penghematan energi atau konservasi energi pada dasarnya adalah tindakan mengurangi jumlah penggunaan energi. Penghematan energi dapat dicapai dengan penggunaan energi secara efisien di mana manfaat yang sama diperoleh dengan menggunakan energi lebih sedikit, ataupun dengan mengurangi konsumsi dan kegiatan yang menggunakan energi. Penghematan energi dapat menyebabkan berkurangnya biaya, serta meningkatnya nilai lingkungan.
Efisiensi energi di lingkungan perkantoran misalnya biasanya dilakukan dengan cara behaviour change (perilaku yang efisien dan perawatan alat elektronik) dan retrofitting. Menurut Green Building Council Indonesia behavior change, mampu menghemat sampai 5-10% dari total biaya listrik. Sedangkan Retrofitting adalah proses merombak ulang atau sebagian dari sebuah gedung untuk meningkatkan performanya dan potensi penghematan energi bisa mencapai 40%. Proses ini meliputi analisa kondisi gedung pada saat ini dan implementasi solusi-solusi yang memungkinkan gedung untuk beroperasi lebih maksimal.
Dalam konteks yang lebih luas, melakukan gerakan penghemat energi tentu saja tidak seperti membalik telapak tangan. Hal yang tentu tidak mudah. Di sebuah negara, penghematan energi hanya akan berhasil jika pemerintah memang merancang sebagai kota atau negara yang pro terhadap hemat energi. Manajemen hemat energi akan dengan sendirinya melahirkan budaya dan kebiasaan hemat energi di masyarakat.
Menurut Bambang Setiabudi, pakar tata kota ITB, di banyak negara maju, upaya menghemat energi sudah diawali sejak merancang sistem penataan kota. Misalnya dalam upaya membangun kota hemat energi dilakukan perencanaan transportasi dan manajemen lalu lintas. Kemudian membangun dan menyediakan sarana dan prasarana transportasi publik/masal yang efisien.
Sejarah Saving Energy
Saving energy, cepat atau lambat memang harus menjadi gaya hidup di masyarakat. Sejarah penghematan energi sendiri tidak lepas dari sejarah perkembangan perlampuan sampai ditemukannya lampu hemat energi
Bermula pada puluhan abad yang lalu, di mana manusia membutuhkan penerangan untuk malam hari. Cara yang mereka lakukan adalah dengan cara menggosok-gosokan batu hingga mengeluarkan api/cahaya. Kemudian dari api ini dikembangkan dengan membakar benda-benda yang mudah menyala hingga membentuk sekumpulan cahaya.
Dalam periode selanjutnya, ditemukan pula bahan bakar minyak dan gas yang dapat digunakan sebagai bahan penyalaan untuk lampu obor, lampu minyak maupun lampu gas. Teknologi kemudian makin berkembang dengan ditemukannya lampu listrik oleh Thomas Alpha Edison pada tanggal 21 Oktober 1879 di laboratorium Edison-Menlo Park, Amerika.
Prinsip kerja dari lampu listrik ciptaan Edison adalah dengan melakukan hubungan singkat listrik pada filamen carbon sehingga terjadi arus hubungan singkat yang mengakibatkan timbulnya panas. Dengan panas yang terjadi dibuat sampai mencapai suhu tertentu dapat mengeluarkan cahaya, dan cahaya yang didapat pada waktu itu baru mencapai 3 Lumen/W (Lumen = satuan arus cahaya).
Pada 1933, filamen carbon diganti dengan filamen ungsten atau Wolfram yang dibuat membentuk lilitan kumparan sehingga dapat meningkatkan Eficacy lampu menjadi + 20 Lumen/W.
Sistem pembangkitan cahaya buatan ini kemudian dikenal dengan sistem pemijaran (Incondescence). Revolusi teknologi perlampuan berkembang dengan pesatnya. Pada tahun 1910 pertama kali digunakan lampu luah (discharge) tegangan tinggi. Media gas yang digunakan dapat berbagai macam.
Tahun 1932 ditemukan lampu luah dengan gas Sodium tekanan rendah, dan tahun 1935 dikembangkan lampu luah dengan gas Merkuri, dan kemudian tahun 1939 berhasil dikembangkan lampu Fluorescen, yang biasa dikenal dengan lampu neon. Selanjutnya lampu Xenon tahun 1959. Khusus lampu sorot dengan warna yang lebih baik telah dikembangkan gas Metalhalide (Halogen yang dicampur dengan Iodine) pada tahun 1964, sampai pada akhirnya lampu Sodium tekanan tinggi tahun 1965.
Prinsip emisi elektron ini yang dapat meningkatkan efficacy lampu diatas 50 Lumen/W, jauh lebih tinggi dibanding dengan prinsip pemijaran. Hal ini jelas karena rugi energi listrik yang diubah menjadi energi cahaya melalui proses emisi elektron dapat dihemat banyak sekali dibanding dengan cara pemijaran di mana energi listrik yang diubah menjadi energi cahaya banyak yang hilang terbuang menjadi energi panas (sebelum menjadi energi cahaya). Distribusi energi yang diubah menjadi energi cahaya.
Teknologi memang makin berkembang. Pengembangan lampu pijar dengan sistem induksi magnit yang mempunyai umur paling lama dari lampu-lampu jenis lain + 60.000 jam dalam pengembangan terus menerus. Pada dekade 90-an yang banyak digunakan oleh masyarakat umum saat ini adalah jenis lampu Fluorescen kompak model SL atau PL dan ini yang dikenal lampu hemat energi (LHE).
Pengembangan lampu hemat energi memang hanya salah satu cara dalam penghematan. Masih banyak cara yang bisa dilakukan. Misalnya melakukan penghematan bahan bakar dengan lebih banyak menggunakan sepeda untuk bepergian dengan jarak tempuh yang tidak terlalu jauh. Masa lalu, orang lebih banyak menggunakan transportasi seperti sepeda. Contohnya bila kita lihat kota Yogyakarta 30 tahun lalu, masih banyak yang menggunakan sepeda. Tapi kalau kita perhatikan saat ini, sangat jarang pengguna sepeda di kota pelajar tersebut apalagi di kota besar seperti Jakarta.
Gerakan hemat energi tetap harus dimulai dari pemerintah. Berbagai gerkan yang digulirkan pemerintah mulai dari Demand Side Management (DSM), kampanye energi hijau dan program-program lainnya tidak akan berjalan bila kesadaran masyarakat masih kurang.
Padahal dengan berhemat bukan hanya diperoleh keuntungan dalam hal material dan finansial saja, bahkan juga dalam hal spritual. Misalnya, berarti kita tidak melakukan terjadinya sesuatu yang mubajir. Program ini akan berjalan bila sosialisasi sudah berjalan.
Kenaikan harga BBM memang masih akan ditunda pemerintah. Tetapi kenaikan harga tidak bisa ditawar-tawar dan tentu saja menimbulkan masalah yaitu bertambahnya beban yang harus ditanggung masyarakat. Cara penghematan di masa lalu tentu harus dijadikan pelajaran di masa depan.
Kebijakan mengenai subsidi bahan bakar minyak segera diumumkan peme-rintah. Pemerintah juga membuka opsi pencabutan subsidi BBM bagi orang mampu. Pasalnya, selama ini, 70 % lebih BBM subsidi dinikmati oleh orang yang mampu atau dengan kata lain tidak tepa
Berikan komentar anda