News
Trending

Seimbangkan Penggunaan Energi

Listrik Indonesia | Energi merupakan sebuah keniscayaan. Energi fosil suatu saat bisa saja habis,lebih menyoroti bagaimana upaya kita dalam mempertaha

Seimbangkan Penggunaan Energi

Listrik Indonesia | Energi merupakan sebuah keniscayaan. Energi fosil suatu saat bisa saja habis,lebih menyoroti bagaimana upaya kita dalam mempertahankan ketahanan energi agar dapat terus tersedia.
 

Perkembangan information and communications techrnology (ICT) yang sangat cepat telah mengubah sistem ketenagalistrikan model tradisional yang dikenal saat ini yakni pembangkit, transmisi, dan distribusi. Itu berubah menjadi grid beyond meter dengan 3 tren Grid Edge yang nendorong revolusi Listrik 4.0, yaitu Elektrifkasi, Desentralisasi, dan Digitalisasi.
 

Menurut Pakar Kelistrikan Andy Noorsaman Sommeng, saat ini Indonesia tengah berada di era Grid Edge, era di mana konsurmer tidak lagi hanya berperilaku mengkonsumsi listrik,melainkan juga memproduksi. Ini biasa disebut dengan prosumen (produsen dan konsumen). Masyarakat dapat menjadi prosumen untuk saling bertukar energi atau jasa satu sama lain dengan dukungan smart meter.
 

Di balik transformasi era kelistrikan tersebut, persoalan pengembangan pembangkitan energi masih menjadi pembicaraan hangat. Menurutnya, energi merupakan sebuah keniscayaan. Berangkat dari energi fosil yang suatu saat bisa saja habis, Andy lebih menyoroti bagaimana upaya kita dalam mempertahankan ketahanan energi agar dapat terus tersedia.
 

“Kita harus semakin memperbanyak portofolio tentang bagaimana menghasilkan energi. Dalam grid edge, baik itu energi fosil, batu bara, maupun EBT, harus saling komplemen. Sebagai teknolog dan regulator, harusnya tidak boleh mendikotomikan antara satu energi dengan yang lain," ujar Andy beberapa waktu lalu.
 

Baginya, dalam meningkatkan ketahanan energi, bukan soal mana energi yang lebih baik, melainkan bagaimana trade off bisa disearahkan dengan baik. "Masing-masing energi punya kelebihan kekurangan. Energi fosil sebenarnya masih dimanfaatkan, hanya soal bagaimana mengelolanya menjadi ramah lingkungan atau tidak. Misalkan batu bara, dengan teknologi ultra super critical, pembakarannya menjadi lebih sempurna dan ramah lingkungan," katanya
.

Lanjut, ia berkata “Ini kan semuanya natural resources, baik EBT maupun non EBT. Jadi tidak perlu terlalu ekstrem seperti orang jatuh cinta. Semua tergantung bagaimana kita mengelola ketahanan energi kita,” tambahnya.
 

Seharusnya peningkatan ketahanan energi tidak dinilai hanya dari satu jenis sumber energi saja, dan juga jangan memaksakan suatu energi. Perlu diperhatikan harga listrik harus terjangkau, seperti yang terkandung dalam Trilemma Energy yakni Energy Security, Energy Equity, dan Enviromental Sustainability. Selain itu, penentuan harga itu sepenuhnya teregulasi.
 

"Di PLN dikenal namanya Merit Order, yaitu menerima pembangkitan dari energi dengan biaya yang murah. Di Jawa misalkan biayanya 6 sen per KWH berupa pembangkitan energi air atau batu bara. Namun kaitannya batu bara ada kendala di isu lingkungan,”jelasnya.
 

Salah satu solusi adalah adanya kesimbangan pembangkitan energi. Misalkan menyeimbangkan menbangun pembangkitan EBT di pembangkitan non EBT. Contoh di PLTU batu bara dibangung pula PLT Solar, sehingga ada keseimbangan antara keduanya.
 

“Kombinasi ini dilakukan dalam rangka meningkatkan persentase pembangkitan EBT,” pungkasnya. (CR)

 


Related Articles

0 Komentar

Berikan komentar anda

Back to top button