Sektor Batu Bara Masih Penopang Utama Proyek Kelistrikan

Author : Franki Dibuat : Oct 9, 2017

Sektor Batu Bara Masih Penopang Utama Proyek Kelistrikan
(Foto: R Akmal)
Listrik Indonesia | Sektor pertambangan batu bara saat ini bisa dibilang masih menjadi sektor penunjang program kelistrikan yang sedang berjalan (35.000 Megawatt). Pasalnya, lebih dari 50% proyek kelistrikan 35.000 MW masih membutuhkan batu bara sebagai bahan bakar utamanya.

Direktur eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI), Hendra Sinadia mengatakan, hal tersebut sejalan dengan visi dan misi APBI yakni untuk menjadikan batubara sebagai sumber energi primer yang utama dalam merealisasikan program ketenagalistrikan yang tengah berlangsung.

Beberapa waktu lalu, APBI mengadakan suatu acara pisah sambut Direktur Eksekutifnya. Hendra Sinadia, Direktur Eksekutif terpilih menggantikan Direktur Eksekutif sebelumnya yakni Supriatna Suhala.

Hendra mengungkapkan, tupoksinya yaitu saat ini meneruskan yang sudah dirintis oleh pendahulu. "Memperjuangkan bukan hanya aspirasi anggota APBI, tetapi secara umum kita dapat memerjuangkan batubara sebagai penopang program kelistrikan nasional (sumber energi primer)," ungkap Hendra kepada listrikIndonesia.com di Jakarta, seperti yang dituliskan, Senin (09/10).

Ia menambahkan, sejalan dengan menjadikan batu bara sebagai penopang program kelistrikan pada pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).

Terkait dengan Energi Baru Terbarukan (EBT), dirinya menyadari bahwa enegi masa depan itu berbasis EBT, akan tetapi pihaknya menyadari bahwa potensi batu bara Indonesia sangat berlimpah.

"Kita mempunyai pemikiran bahwa batu bara masih menjadi sumber yang paling tepat untuk menopang ketahanan energi. Karena isu sekarang ini Ketahanan energi. Batubara Indonesia masih cukup, dan bagaimana agar tetap berkelanjutan. Tentunya ini butuh dorongan mengenai kebijakan, regulasi yang mendukung, dan lainnya," terangnya.

"Nah, disitulah APBI bukan hanya mewakili anggota melainkan sebagai mitra Pemerintah untuk menjembatani antara pelaku usaha dengan sistem dan regulasi yang dikeluarkan Pemerintah," sambung Hendra.

Terkait soal harga acuan batu bara yang berfluktuasi, dirinya melihat, pergerakan harga komoditas masih rentan dipengaruhi oleh faktor-faktor atau sentimen elsternal. "Seperti, geo politik; kebijakan domestik dari negara-negara importir; kemudian faktor lingkungan (perubahan iklim, itu yang berpengaruh.," tambahnya.

Tapi disatu sisi yang sangat berpengaruh adalah kebijakan. APBI dalam hal ini dapat menjadi wadah yang menjembatani asosiasi dengan Pemerintah untuk mendorong perbaikan kebijakan (regulasi), dan juga advokasi ke masyarakat bahwa kegiatan pertambangan batubara ini memberikan manfaat dan kontribusi penting bagi pemerintah, masyarakat dan juga bertanggung jawab terhadap pelestarian lingkungan," imbuhnya.

Ia mengatakan, regulasi perlu disusun dengan mempertimbangkan karakteristik sektor pertambangan batubara.

Ia melihat, banyak regulasi yang terbit dari sektor-sektor lain, didorong hanya untuk kepentingan terhadap penerimaan negara. "Mestinya kedepan regulasi juga harus memperhatikan karakteristiknya apa dan juga bagaimana investasi batu bara dapat meningkat? Di situlah peran advokasi APBI," paparnya.

Pihaknya optimis ke depan sektor pertambangan batu bara dapat menjadi sektor yang dapat meningkatkan penerimaan negara. (RG)

Tags : News


0 Komentar

Berikan komentar anda

Top