Sertifikat Kompetensi Wajib Dimiliki Oleh Setiap Teknisi Ketenagalistrikan

Author : Franki Dibuat : Jul 13, 2018

Sertifikat Kompetensi Wajib Dimiliki Oleh Setiap Teknisi Ketenagalistrikan
Listrik Indoneisa | Sebuah badan usaha yang bergerak di sektor ketenagalistrikan tentunya harus mempunyai sertifikat badan layak usaha, begitupun dengan para teknisinya, meraka juga harus mempunyai sertifikat kompetensi kelistrikan yang di keluarkan oleh asosiasi maupun lembaga terkait.

Menurut Sekertaris Jenderal (Sekjen) Asosiasi Kontraktor dan Mekanikal Ketenagalistrikan Indonesia (AKLI), Nick Nurrachman, saat mengisi seminar tentang ketenagalistrikkan mengangkat dua topik penting dalam sektor tersebut. Pertama tentang sertifikasi kompetensi tenaga teknik ketenagalistrikan, bagaimana proses atau cara untuk mendapatkan sertifikat kompetensi tersebut.

"Itu kita paparkan ke publik khususnya untuk para anak-anak muda (mahasiswa teknik elektro) yang hadir, agar mereka aware (sadar) proses sertifikasi di negeri ini bahwa seorang sarjana yang lulus teknik itu tidak bisa serta merta langsung bekerja di sektor ketenagalistrikan," jelas Nick saat ditemui listrikindonesia.com di JIExpo Kemayoran, (11/07).

Sama seperti profesi dokter yang setelah lulus harus ada izin praktek. Kalau dalam tenaga listrik itu teknisinya harus mempunyai sertifikasi kompetensi, proses sertifikasi itulah yang dipaparkan kepada peserta sebagai sebuah kompetensi secara standar yang diakui oleh negara.

"Anak-anak muda itu kita pacu agar dalam proses belajar setelah lulus dan untuk dapat masuk ke sektor ketenagalistrikkan untuk mengurus sertifikat kompetensinya," jelasnya.

Selanjutnya yang kedua, AKLI juga dalam seminar kali ini membahas memasyarakatkan lagi bagaimana sebagai sebuah asosiasi kontraktor listrik yang profesional yang modern yang melayani masyarakat dan anggotanya itu dengan berbasis layanan digital. Ini yang kami garisbawahi bahwa AKLI susah siap melayani kontraktor atau badan usaha jasa penunjang ketenagalistrikan untuk masuk menjadi anggota AKLI, kemudian memproses izin-izin usahanya melalui AKLI dengan sarana digital .

"Ini kan sejalan dengan program Pemerintahan Pak Jokowi (Joko Widodo) untuk memundahkan perizinan dengan menyederhanakan melalui digitalisasi secara online, kita respon hal ini dengan meluncurkan layanan e-services," katanya.

Selanjutnya dalam materi seminar tersebut AKLI juga tengah mengembangkan e-marketprice yang disebut Aladin, sebagai pasar elektronik, pasar digital bagi produsen mekanikal dan elektrikal bertemu dengan konsumen secara elektronik.

Bagaimana cara generasi muda memperoleh sertifikat kompetensi ketenagalistrikan tersebut?

Diungkapkan olehnya, pada prinsipnya sertifikasi kompetensi itu berbasis pada kemampuan teknis, selanjutnya berbasis pada pengalaman kerja. Yang disebut kompeten itu adalah memiliki kemampuan di bidangnya yang dikehendaki dengan standar-standar kompetensi yang sudah ditetapkan oleh Pemerintah.

Bagi mahasiswa teknik yang sekarang masih belajar itu dimungkinkan tidak perlu menunggu lulus terlebih dahulu untuk memperoleh sertifikat.

"Mereka di mungkinkah untuk menggunakan ijazah SLTA, SMK sederajat untuk mengajukan sertifikasi kompetensi yang cukup mensyaratkan ijazah SLTA atau SMK sederajat," ungkapnya.

Ia mengatakan, ketika mereka magang di perusahan kontraktor kelistrikan sehingga memperoleh pengalaman, karena salah satu syarat memperoleh sertifikasi kompetensi itu adalah mempunyai portofolio pengalaman kerja. Dengan syarat tersebut maka mereka dapat memperoleh sertifikasi kompetensi sebelum lulus.

"Setelah lulus menjadi sarjana (baik muda maupun penuh), mereka bisa meng-upgrade sertifikatnya yang menggunakan syarat sarjana penuh. Jadi, tidak perlu menunggu mereka (mahasiswa) lulus dulu untuk memperoleh sertifikasi kompetensi," jelasnya.

Tujuan membuat sertifikasi dikatakan olehnya agar asosiasi dapat mendorong meraka yang telah memiliki sertifikasi menjadi enterpreneur-enterpreneur muda dibidang ketenagalistrikan, baik jasa penunjang maupun penyediaan listrik.

Enterpreneur muda itu syaratnya seperti halnya dokter praktek yang harus memiliki izin usaha. Karena setelah lulus nanti jangan sampai tergantung pada perusahaan-perusahaan yang berorientasi menjadi pegawai saja.

"Akan tetapi dengan pengalaman yang ada, mereka dapat melihat peluang usaha, sehingga diharapkan mereka bisa membuat usaha sendiri," terang Nick.

Di era millenial ini (era digital Internet Of Things) sangat jarang para generasi muda yang tertarik untuk mengambil jurusan teknik Elektro. Bagaimana menurut Anda mengenai hal ini ?

"Saya melihat bahwa peluang lapangan pekerjaan itu tidak terbatas di dunia maya saja, melainkan untuk pekerjaan infrastruktur listrik yang lebih banyak kongkritnya (pekerjaan fisik, instalasi jaringan dan sebagainya), tentu di era modern ini bisnisnya kurang lebih sama hanya saja modelnya kemungkinan akan berbeda," ungkapnya.

"Contohnya kalau dulu kontraktor listrik itu mereka nunggu ada pekerjaan dari PLN dan kemudian dapat SPK dari PLN baru mereka bekerja," sambung Nick.

Dengan model yang baru sekarang ini misalnya pendaftaran listrik pasang baru, tambah daya dan sebagainya oleh PLN yang sudah didigitalisasikan, jadi para generasi millenial diharapkan menjadi tenaga teknik untuk bisa menangkap peluang digital tersebut, sehingga layanan ke masyarakat bisa lebih mudah dan lebih cepat.

Listrik Go Untuk Kemudahan Masyarakat
Salah satunya adalah AKLI sedang bekerjasama dengan sebuah badan usaha yang akan mengembangkan aplikasi Listrik Go. Listrik Go ini seperti aplikasi ojek online ataupun taksi online tapi dibidang kelistrikan.

"Nantinya masyarakat yang membutuhkan layanan kelistrikan dapat mengakses aplikasi itu, lalu teknisi terdekat datang kerumah masyarakat yang membutuhkan bantuan kelistrikan tersebut. Intinya sama seperti aplikasi ojek dan taksi online," katanya.

Seperti contoh tiba-tiba dirumah ketika pasang AC listrik turun dan si penghuni rumah tidak mengerti soal listrik, otomatis yang pertama kali dalam pikiran itu pasti PLN, karena PLN berkaitan dengan listrik, tapi hal itu sebenarnya salah.

Pasalnya, PLN bertugas hanya sampai kepada penyambungan pelanggan APP instalasi rumah, jadi jika ada permasalahan listrik dirumah bukan kewenangan dan tanggung jawab PLN lagi, kecuali fasilitas umum.

Untuk masyarakat yang tidak paham dengan listrik mereka itu dapat mengakses aplikasi Listrik Go ini, dalam aplikasi nantinya tertera apa aja yang keluhkan masyarakat. Selanjutnya teknisi yang ada dalam aplikasi tersebut yang terdekat dengan rumah masyarakat langsung mengambil datang kerumahnya, setelah di cek oleh teknisi ternyata penyebabnya entah karena kabelnya ada yang gosong, MCB nya tidak kuat menahan beban pemakaian, dan sebagainya.

"Katakan lah jika MCB nya harus di tambahkan dengah kapasitas yang lebih besar, teknisi akan segera mengatakan kepada pelangan bahwa MCB nya harus diganti. Selanjutnya masih didalam aplikasi, nantinya akan tertera berapa biaya untuk penggantian MCB beserta pemasangannya. Setelah itu, teknisi segera mengambil MCB yang telah dipesan sebelumnya melalui aplikasi tersebut, setelah MCB didapatkan barulah teknisi melakukan pergantian MCB yang lama dengan MCB yang baru. Kira-kira semacam itulah konsepnya," imbuhnya.

Ia memberi bocoran bahwa aplikasi Listrik Go ini akan diluncurkan pada saat hari listrik nasional Oktober 2019 mendatang. "Diharapkan dengan diluncurkannya aplikasi Listrik Go ini masyarakat dapat mengakses apabila terjadi permasalahan terhadap listrik dirumah, sebab hal itu bukan mejadi tugas dan kewenangan PLN lagi, melainkan tanggung jawab yang punya rumah," tandasnya. (RG)


 

Tags : News


0 Komentar

Berikan komentar anda

Top