Tekad PLN Terangi Papua dan Maluku 2019 

Author : Franki Dibuat : May 16, 2017

Tekad PLN Terangi Papua dan Maluku 2019 
Nicke Widyawati, Direktur Perencanaan Korporat PLN. (Foto: R Akmal)
Listrik Indonesia | PLN terus berusaha melakukan percepatan dalam pembangunan listrik desa dan puskesmas daerah terpencil dalam tiga tahun mendatang. Diharapkan pada 2019 seluruh wilayah Papua dan Maluku sudah terlistriki.

Tekad PLN menerangi Papua, Papua Barat, dan Maluku diungkap  Direktur Perencanaan Korporat PLN, Nicke Widyawati, dalam diskusi di Kementerian BUMN, Jakarta, Senin (15/5). Ia mengatakan selain akan berkontribusi besar pada pergerakan roda ekonomi, tersedianya listrik di malam hari, juga akan membuat anak-anak bisa belajar sehingga kelak mampu bersaing di masa depan. 

“Kami berharap dalam tiga tahun ke depan (2019-red), PLN akan melistriki 1.273 desa di Papua dan Papua Barat, dan 535 desa Maluku-Maluku Utara,” ujarnya. Sepanjang 2016, PLN berhasil melistriki 92 desa di Papua-Papua Barat serta 34 desa di Maluku-Maluku Utara.

Ia mengatakan langkah PLN PLN memulai pembangunan listrik desa untuk tahun ini, dengan perencanaan 365 listrik desa di Papua-Papua Barat serta 197 desa di Maluku-Maluku Utara,  “Ada 1.808 desa di Maluku dan Papua yang akan diterangi PLN dalam 3 tahun ke depan,” tegasnya.

Pada 2017 ini, pembangunan listrik 365 desa di Papua-Papua Barat membutuhkan biaya investasi Rp 1.816 miliar. Sementara untuk 197 desa di Maluku-Maluku Utara butuh anggaran Rp 721 miliar, “Dengan penggolongan desa yang telah masuk Sistem Grid dan desa isolated, ada pun pembangkit listrik yang akan dibangun, yakni PLTD isolated, PLTMH isolated, PLTS hybrid, dan PLTS off grid,” terang dia.

Menurut Nicke, tantangan terbesar dalam melistriki desa terutama untuk Maluku-Papua adalah keterbatasan ketersediaan dan akurasi data, kondisi geografis medan, dan keterbatasan sarana transportasi.

Dari survei langsung PLN di lapangan ada tambahan 1.364 desa yang belum terlistriki. PLN bahkan telah memetakan desa tak berlistrik dengan metode rooftagging, yakni menghitung kelompok pemukiman yang tersebar melalui foto udara. 

Bahkan foto udara bisa yang dibuat PLN sudah bisa membuat perencanaan, desa mana yang dekat Rooftaging seperti Google Earth, “Semua rumah kita tagging, sampai ratusan ribu di Papua dan Papua Barat. Setelah itu ada network planner, dibuat kelompok-kelompok. Kalau terlalu jauh (dari desa lainnya) jadi satu off grid sendiri,” terang Nicke yang didampingi Kadiv Pengembangan Regional Maluku dan Papua Hot Matua Bakara. (AD/f)

Tags : News


0 Komentar

Berikan komentar anda

Top