Terapkan Teknologi Ultra Super Critical, GE Dukung Energi Rendah Emisi

Author : Franki Dibuat : May 20, 2017

Terapkan Teknologi Ultra Super Critical, GE Dukung Energi Rendah Emisi
CEO GE Indonesia, Handry Satriago (kanan), Pascal Radue, Head of Clean Combustion Business GE (tengah), dan Irwan Rachman dari Listrik Indonesia.
Listrik Indonesia | Kebutuhan akan energi semakin tinggi, tentunya hal tersebut harus di dukung dengan teknologi pada mesin pembangkit listrik agar lebih efisien dalam menggunakan bahan bakar, namun menghasilkan daya yang maksimal. General Electric (GE) Power, perusahaan raksasa asal Amerika Serikat, terus mengembangkan teknologi yang diterapkan pada power plant untuk lebih modern dan efisien.

Chief Executive Officer (CEO) GE Indonesia, Handry Satriago mengungkapkan, GE juga mendukung pembangunan pembangkit listrik dalam negeri yang memiliki kemampuan memproduksi boiler pada pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) kapasitas 1.000 Megawatt (MW) yang menggunakan teknologi Ultra-Super Critical (USC) dan Advance Ultra-Super Critical (AUSC) pada pembangkit listrik.

“Dengan teknologi yang sangat terbaru Ultra-Super Critical dan Advance Ultra-Super Critical, kami membuktikan bahwa batu bara bisa terus memainkan peranan penting dalam pemenuhan kebutuhan energi yang bisa diandalkan dan yang berkelanjutan di dalam negeri,” kata Handry saat diskusi dengan media di Jakarta, (18/05).

Sementara, Head of Clean Combustion Business GE Steam Power System, Pascal Radue, menambahkan, pihaknya memfokuskan pada pengembangan teknologi pembangkit listrik advance ultra supercritical tenaga batu bara. Dengan teknologi AUSC, pembangkit listrik tersebut dapat menghemat sekitar 105.000 ton batu bara per tahun, penghematannya bisa sampai US$ 80 juta per tahun.

Ia menerangkan, setiap persen dari tingkat efisiensi tersebut dapat mengurangi emisi karbondioksida hingga 3 persen. “Teknologi pembakaran ultra-supercritical juga bisa mengurangi biaya operasi keseluruhan dari pembangkit listrik,” bebernya.

Sesuai Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN (Persero) 2017-2026, bauran energi untuk batu bara pada 2025 ditargetkan sebesar 50% dari total energi primer, gas ditargetkan sebesar 26%, dan bahan bakar minyak (BBM) diharapkan kurang dari 0,5%, sementara untuk Energi Baru Terbarukan (EBT) sebesar 22,5%.

“Kebutuhan energi di Asia Tenggara terus meningkat dan batu bara tetap merupakan bagian vital dalam rantai pasokan energi,” imbuh Pascal Radue.

Dengan teknologi tersebut, nantinya segala macam kebutuhan dan keperluan pada mesin pembangkit dapat terjawabkan, sebab investasi pada pembangkit listrik merupakan investasi jangka panjang, karena kebutuhan energi listrik akan terus meningkat. (RG)

Tags : News
Terakhir disunting : May 20, 2017


0 Komentar

Berikan komentar anda

Top