Meretas Jalur Energi di Nusa Tenggara

Author : Administrator Dibuat : Jul 25, 2011

Meretas Jalur Energi di Nusa Tenggara
Perbandingan antara rumah tangga yang sudah mendapat aliran listrik terhadap total kebutuhan listrik rumah tangga atau disebut rasio elektrifikasi di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Nusa Tenggara Barat (NTB) masih relatif rendah. Rasio elektrifikasi di dua wilayah tersebut pada akhir 2010, tercatat masih di bawah 40%. Bahkan pada  tahun 2009, rasio elektrifikasi di dua daerah tersebut masing-masing tercatat hanya sebesar 24,24% dan 31,99%. Artinya, masih banyak sekali masyarakat yang belum diterangi listrik.

Inilah pokok persoalan yang terus-menerus berupaya dicarikan solusinya. Padahal, sebagai salah satu daerah yang sering disebut sebagai daerah yang memiliki potensi pariwisata unggul, Nusa Tenggara jelas sangat membutuhkan dukungan infrastruktur kelistrikan. Sebut saja Pantai Lombok di NTB yang telah banyak dikenal oleh wisatawan mancanegara. Demikian juga Pantai Kalbano, di Kupang NTT yang memiliki pantai dengan batu berwarna dan sangat diminati oleh wisatawan. Tanpa dukungan infrastruktur listrik, tentu akan sulit mengembangkan pariwisata di wilayah-wilayah tersebut.

Tetapi faktanya, daerah dengan kondisi alam nan elok tersebut, masih terus mengalami kekurangan pasokan daya listrik. Itu sebabnya, pemerintah daerah setempat dan PLN terus berupaya memenuhi kebutuhan pasokan listrik di daerah tersebut. Tentunya tujuannya untuk mengurangi jumlah rumah tangga di sana yang masih belum mendapat penerangan listrik. Apalagi, pada tahun ini, wilayah operasional PLN di Indonesia Timur yang di dalamnya termasuk NTT dan NTB ditargetkan rasio elektrifikasinya dapat meningkat hingga mencapai 70%.
Tentu saja, target tersebut tidak mudah diwujudkan.

Namun, selaku BUMN yang bertanggungjawab ter­ha­dap pemenuhan pasokan listrik bagi masyarakat, PLN bertangungjawab terhadap hal tersebut. Demikian juga dengan pemerintah daerah setempat. Itu sebabnya, ada beberapa solusi alternatif yang akan diupayakan agar dua daerah tersebut kondisi kelistrikannya tidak lagi tertinggal dari daerah lain.

Salah satu solusi yang ditawarkan untuk meningkatkan rasio elektrifikasi di Nusa Tenggara adalah pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Menurut Direktur Operasi lndonesia Timur PLN, Vickner Sinaga, dari rencana penyambungan listrik untuk 340.000 pelanggan listrik baru, sekitar 240.000 diantaranya akan dialokasikan di wilayah NTT dan NTB. Masing-masing, sebanyak 120 ribu untuk NTB dan 120.000 buat NTT. Itu belum termasuk sambungan melalui jaringan listrik yang sudah tersedia dari pembangkit yang sudah ada di kawasan itu yang totalnya sebanyak 730.000 sambungan. Nantinya, para pelanggan PLTS PLN tersebut akan mendapatkan peralatan panel tenaga surya satu unit yang akan menyediakan daya 20 Megawatt (MW).

Apa yang dilakukan PLN untuk mendongkrak rasio elektrifikasi di wi­layah operasional PLN Indonesia Timur termasuk di dalamnya Nusa Tenggara memang tidak setengah-setengah. Sedikitnya, PLN harus menyediakan anggaran sekitar Rp 840 miliar. Karena, PLN akan memberikan masing-masing pelanggan sebanyak tiga unit lampu SEHEN (super hemat energi) tiga watt, kabel, serta tiang besi. Masing-masing biaya keseluruhan perangkat tersebut nilainya sebesar Rp 3,5 juta.

Dengan biaya per pelanggan tiap bulan yang hanya ditetapkan sebesar Rp35 ribu plus deposit di salah satu bank di sana,  atau jangka waktu pe­ngembalian modal tersebut dapat diperoleh dalam kurun waktu 8 tahun kemudian. Tetapi, perangkat PLTS tersebut diyakini memiliki daya tahan selama 20 tahun. Selain itu, untuk peningkatan rasio elektrifikasi melalui PLTS di wilayah Indonesia Timur, PLN setidaknya bisa berhema pemakaian listrik sekitar 440 kilowatt.

Walaupun rasio elektrifikasinya masih rendah, sebenarnya Nusa Tenggara khususnya NTT memiliki jenis-jenis pembangkit listrik yang sangat beragam mulai dari PLTS, Pembangkit Listrik Tenaga Disel (PLTD), Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), hingga sejumlah energi alternatif seperti minihydro. Salah satunya di Pulau Sumba yang menjadi pulau pertama di Tanah Air yang memakai pembangkit minihydro.Di Bolok, tidak jauh dari Kupang, NTT, PLN juga tengah membangun PLTU dengan kapasitas sebesar 2 x 16,5 MW, dan menyusul di tempat yang sama akan dibangun juga PLTU berkapasitas 2 x 15 MW. Itu belum termasuk PLTU Atambua berkapasitas 2 x 6 MW yang rencananya juga akan terkoneksi dengan PLTU Bolok.

Selain energi mikrohydro, sejumlah daerah di Nusa Tenggara beberapa desa di NTT dan NTB juga dikembangkan listrik terbarukan, yakni dengan menjadikan desa-desa tersebut sebagai Desa Mandiri Energi. Beberapa diantaranya melalui pengembangan bioethanol, biogas melalui kotoran sapi. Bahkan, NTB berencana mengembangkan konsep Desa Mandiri Energi dengan biogas melalui kotoran sapi. Seperti diketahui, selama ini NTB dikenal sebagai daerah yang populasi sapinya cukup besar di Indonesia.

Banyaknya potensi energi terbarukan di wilayah Nusa Tenggara, membuat PLN berencana akan mengoptimalkan energi terbarukan sebagai sumber utama pembangkit listrik di wilayah tersebut. Beberapa rencana pengembangan energi terbarukan yang akan dilakukan di Nusa Tenggara diantaranya rencana pembangunan Pembangkit Listrik Panas Bumi (PLTP) berkapasitas 5 MW di Flores. Sebelumnya, sudah ada PLTP berkapasitas 1,8 MW. Itu sebabnya,  Vickner Sinaga berharap agar Flores bisa menjadi pulau panas bumi.

Energi Arus Laut dan Listrik Pra­bayar

Hal lain yang tak kalah meng­gem­bira­kan adalah kemungkinan dikembangkannya Pembangkit Listrik Tenaga Arus Laut (PLTAL) di daerah Nusa Tenggara. Hasil penelitian Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menyebutkan, selat-selat di perairan NTT dan NTB masing-masing memiliki potensi menghasilkan listrik berkekuatan 300 MW. Paling tidak, ada 10 selat yang memiliki arus deras dan berpotensi menghasilkan energi listrik. Yakni, Selat Alor, Selat Alas, Selat Boleng, Selat Flores, Selat Linta, Selat lamakera, Selat Molo, Selat Pantar, dan Selat Sape.

Kalau masing-masing selat tersebut potensi energinya dapat dioptimalkan hingga 300 MW, maka dapat di­ba­yangkan berapa besar energi arus laut yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat di Indonesia. Secara keseluruhan, diperkirakan potensi energi arus laut yang ada di selat-selat di Indonesia totalnya mencapai 6 ribu MW.

Khusus di Nusa Tenggara, BPPT sejak 2009 dan pada 2011 ini mencoba membuat prototipe PLTAL sebesar 10 KW di Selat Flores. Jika hasilnya dapat dioptimalkan, tentunya rasio elektrifikasi di Nusa Tenggara dapat terus meningkat.

Selain itu, solusi lain yang juga dicoba untuk dikembangkan PLN di daerah Nusa Tenggara adalah pengembangan listrik prabayar. Sejak pencanangan Gerakan Sehari Satu Juta sambungan Oktober tahun lalu, PLN sampai Februari 2011 telah menyambung listrik baru untuk sekitar 6.240 pelanggan listrik prabayar di wilayah NTT.

Targetnya, pada akhir tahun ini jumlah pelanggan baru listrik prabayar di NTT bisa mencapai 25 ribu pelanggan.  
Pengembangan listrik prabayar di Nusa Tenggara khususnya NTT, tak hanya membantu masyarakat. Kalangan pebisnis di NTT juga mengaku sangat terbantu dengan listrik prabayar. Terutama pelaku bisnis perumahan. Para pengembang di NTT yang menggunakan listrik prabayar untuk perumahan yang mereka bangun, tidak harus dipusingkan dengan soal pembayaran listrik konsumen. Konsumen sendiri yang nantinya harus memikirkan pemasangan listrik mereka.

Memang listrik prabayar menjadi target PLN untuk terus dikembangkan. Pada 2011, PLN menetapkan target untuk melakukan sambungan kepada 2 juta pelanggan listrik prabayar. Termasuk di dalamnya pelanggan yang melakukan migrasi dari listrik pascabayar ke prabayar. Berbeda dengan listrik pascabayar, melalui listrik prabayar pelanggan dapat mengendalikan pemakaian listriknya sesuai kebutuhan, sekaligus bisa mengetahui pemakaian listrik secara harian. 

Di sisi lain, berdasarkan perhitungan PLN, dalam kurun waktu 2010-2019, wilayah Nusa Tenggara dan Sulawesi diperkirakan memiliki kebutuhan listrik sebesar 28 TWh. Artinya, rata-rata per tahun, pertumbuhan listrik di wilayah-wilayah tersebut setidaknya harus mencapai 10,6%. Inilah tantangan besar yang harus dihadapi untuk meningkatkan rasio elektrifikasi di daerah Nusa Tenggara. ■



0 Komentar

Berikan komentar anda

Top