Ubah Air Gambut Jadi Listrik

Author : listrikinfo@gmail.com Dibuat : Mar 19, 2020

Ubah Air Gambut Jadi Listrik

Listrik Indonesia | Siapa sangka air gambut dapat diubah menjadi energi listrik hasil penelitian pelajar SMA di Kota Sampit. Hasilnya, air gambut ternyata bisa menyalakan lampu selama 30 jam dengan tegangan sebesar 16 volt.

Luasnya lahan gambut di wilayah Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah memunculkan ide dari tim peneliti SMAN 2 Sampit. Ternyata lahan gambut bisa bermanfaat bagi manusia. ”Peat Water Baterry” demikian judul yang diberikan untuk penelitian tersebut, yang dimulai pada 2016 lalu. Penelitian tersebut tidak serta merta langsung jadi, perlu waktu lama dan proses yang panjang sehingga dapat diperkenalkan. Siapa sangka mereka berinovasi memanfaatkan air gambut untuk dijadikan sumber energi listrik.

Mengapa air gambut bisa menghasilkan energi listrik ? Air gambut adalah air permukaan yang banyak dijumpai di daerah lahan gambut atau dataran rendah terutama di pulau Kalimantan dan Sumatera. Air gambut berwarna coklat tua sampai kehitaman, memiliki kadar organik yang tinggi dan bersifat asam (pH 3,7 - 5,3).

Zat asam inilah sebagai bahan utama pengolahan untuk menjadi energi listrik.  Dijelaskan pembimbing SMAN 2 Sampit Anwar, air gambut memiliki tingkat keasamannya tinggi, yaitu derajat keasaman/pH 3. Setelah digunakan untuk menyalakan lampu, pH air menjadi 6. Air dengan pH di atas 7 maka disebut basa, di bawah 7 disebut asam.

Dalam penelitian itu, alatnya sangat sederhana dengan menggunakan kotak mika, lempeng seng, dan lempeng tembaga. Hasilnya, air gambut yang berada di dalam kotak mika tersebut bisa menyalakan lampu selama 30 jam dengan tegangan sebesar 16 volt.

Dari penelitian itu mengantarkan Siswa-siswi SMAN 2 Sampit yaitu  Tendi dan Wiwied memperoleh prestasi membanggakan. Mereka meraih special award dari Goldtech Resources PTE LTD, Singapore, sebagai Leading Innovation Award yang diberikan pada ajang International Exhibition for Young Scientist (IEYI) di India, 17-20 Oktober 2018 lalu.

Even yang digelar Foundation for Global Science Initiatives (FGSI) tersebut dikuti siswa dari sembilan negara, yakni Taiwan, Filiphina, Thailand, India, singapore, vietnam, Malaysia, Indonesia, dan Rusia. Bidang yang dilombakan di India adalah ecoteknologi. (CR)

 

 

 

 

 


Tags : News


0 Komentar

Berikan komentar anda

Top