Universal Robots Lirik Peluang dari Roadmap “Making Indonesia 4.0”

Author : Franki Dibuat : Dec 6, 2018

Universal Robots Lirik Peluang dari Roadmap “Making Indonesia 4.0”
Listrik Indonesia | Universal Robots (“UR”), perusahaan yang mengembangkan robot kolaboratif (collaborative robot/cobot) yang berbasis di Denmark, berinvestasi secara besar-besaran di Indonesia dengan menawarkan solusi otomasi, mengembangkan jaringan mitra dan mempromosikan pemahaman akan dunia robotik, yang sejalan dengan roadmap Indonesia bertajuk "Making Indonesia 4.0", yang bertujuan untuk menjadikan Indonesia salah satu dari 10 negara dengan ekonomi terkuat di dunia pada 2030.

Industri manufaktur di Indonesia merupakan tulang punggung ekonomi negara, yang berkontribusi sebesar 20 persen dari PDB di 2017, atau sekitar US$203 miliar (Rp 2.930 triliun). Sektor ini telah mengalami pertumbuhan enam hingga tujuh persen setiap tahunnya selama beberapa tahun terakhir ini dan mampu menyerap lebih dari 25 juta tenaga kerja.

Sakari Kuikka, General Manager Asia Tenggara dan Oseania di UR mengatakan, Indonesia masih berada di tahap baru dalam hal penerapan Industri 4.0. Meskipun demikian, adopsi teknologi otomasi cukup signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Kami melihat potensi besar untuk meningkatkan kesadaran dan adopsi otomasi robot sebagai pemacu bangsa yang mendorong Indonesia menjadi pusat manufaktur terkemuka di kawasan Asia Tenggara dan masuk dalam 10 negara dengan ekonomi terkuat di dunia pada 2030.

Telah hadir di Indonesia sejak tahun 2013, UR mendistribusikan cobot-nya melalui distributor teknologi Indonesia dan mitra integrator sistem, yaitu PT Citra Niaga Cemerlang, PT. Dharma Precision Tools, PT Surya Sarana Dinamika dan yang terbaru, PT Handal Yesindo Sejahtera. Di Indonesia, cobot digunakan di industri-industri, seperti otomotif, FMCG, teknik presisi, plastik dan polimer, serta kemasan.

Turut mengambil bagian dalam meningkatkan pemahaman akan teknologi robot dan kompetensi teknis di Indonesia, UR menjalin kerja sama dengan para mitranya untuk menyediakan lokakarya langsung dan seminar cobot bagi masyarakat luas. Perusahaan juga memiliki platform Akademi UR, yang menawarkan pelatihan robotik berkelas, dengan sembilan modul yang disediakan online tentang pelatihan pemrograman dasar untuk robot UR.

Cobot, yaitu robot yang dirancang untuk dapat bekerja berdampingan dengan manusia secara aman, adalah segmen otomasi industri yang paling cepat berkembang, yang diperkirakan akan meningkat sepuluh kali lipat menjadi 34 persen dari semua penjualan robot industri di 2025, menurut Federasi Internasional Robotika (International Federation of Robotics/IFR).

Cobot yang ringan, ringkas dan fleksibel dapat bekerja di ruang kecil dan di berbagai industri. Dengan fitur keamanan built-in, robot-robot ini aman untuk bekerja dari jarak dekat dengan manusia tanpa perlu memasang pembatas keamanan (tergantung pada penilaian risiko). Cobot juga memiliki harga yang    kompetitif dan jika dibandingkan dengan robot industri tradisional, lebih murah dalam hal pengaturan. Cobot membuat otomasi dapat diakses oleh semua bisnis dari berbagai skala.

Teknologi Otomasi yang Semakin Diperlukan di Indonesia Penerapan otomasi dan robotik di Indonesia masih berada dalam tahap awal. IFR menempatkan Indonesia di peringkat ke-41 secara global dalam hal adopsi otomasi dengan tingkat densitas robot sebanyak lima robot industri per 10.000 karyawan di tahun 2016, jauh di bawah rata-rata standar dunia sebanyak 74 robot industri. 5 Indonesia juga tertinggal dibandingkan negara-negara ASEAN lainnya dalam Global Innovation Index 2017, menduduki peringkat 87 dari 120 negara. Hambatan dalam hal inovasi di negara ini mencakup tingkat pendidikan yang rendah secara keseluruhan dan investasi yang kecil di bidang penelitian dan pengembangan (R&D). Indonesia hanya menginvestasikan 0,2 persen dari PDB dalam hal R&D dibandingkan dengan Singapura dan Vietnam yang berinvestasi sekitar 2,5 persen dari PDB.

Dalam upaya untuk mempersempit kesenjangan adopsi inovasi yang semakin meluas, pemerintah meluncurkan roadmap “Making Indonesia 4.0” untuk mengadopsi otomatisasi dan mempersiapkan negara ini menuju Industry 4.0. Roadmap tersebut telah mengidentifikasi lima teknologi utama untuk mendukung pengembangan Industry 4.0, yaitu internet of things, artificial intelligence (kecerdasan buatan), human-machine interface, robotik dan teknologi sensor, serta 3-D printing. Frost & Sullivan memperkirakan bahwa total pasar otomasi dan kontrol di Indonesia akan mencapai US$246,9 juta (Rp 3,57 triliun) pada 2021. (GC)

Tags : News


0 Komentar

Berikan komentar anda

Top