Waspada Bencana Alam Akibat Curah Hujan Tinggi

Author : Franki Dibuat : Feb 8, 2018

Waspada Bencana Alam Akibat Curah Hujan Tinggi
Listrik Indonesia | Curah hujan yang tinggi pada beberapa hari belakangan ini, memicu terjadinya gerakan tanah berupa tanah longsor di Kabupaten Bogor, Cianjur, dan Underpass Jalan Perimeter Bandara Soekarno Hatta.

Pusat Vulkanologi Dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi, Kementerian Energi Dan Sumber Daya Mineral (ESDM) meminta kepada masyarakat untuk selalu waspada terjadinya pergerakan tanah tang menyebabkan longsor, tentu hal ini sewaktu-waktu bisa saja terjadi, khususnya kepada yang tinggal di wilayah kawasan rawan bencana.

Kepala Bidang Mitigasi Gerakan Tanah PVMBG, Badan Geologi, Kementerian ESDM, Agus Budianto mengatakan, gerakan tanah longsor merupakan perpindahan material pembentuk lereng, berupa batuan, timbunan tanah atau material campuran yang bergerak kearah bawah dan keluar lereng.

Ia melanjutkan, beberapa faktor yang mengontrol terjadinya gerakan tanah di antaranya kelerengan maupun morfologi, kondisi geologi, kondisi keairan/hidrologi lereng, perubahan tata guna lahan maupun kegagalan konstruksi.

"Pemicu terjadinya gerakan tanah longsor yaitu umumnya dari curah hujan yang tinggi, gempa bumi dan aktivitas manusia (pemotongan lereng, peledakan pada area tambang)," jelas Agus beberapa waktu lalu, seperti yang dituliskan, (08/02).

Agus menjelaskan, Indonesia merupakan daerah yang beriklim tropis sehingga pelapukan akan berjalan sangat efektif. Selain itu, morfologi di Kabupaten Bogor umumnya berupa perbukitan dan pegunungan dengan lereng yang terjal yang dibangun oleh endapan dan tanah pelapukan batuan gunung api.

"Aktifitas yang kurang terkontrol juga menyebabkan potensi longsoran atau gerakan tanah akan meningkat jika curah hujan tinggi. Di samping itu akibat gempabumi juga menyebabkan lereng menjadi berkurang kekuatannya sehingga jika musim hujan daerah rawan longsor menjadi semakin banyak," terang Agus, seperi dikutip situs resmi esdm.go.id.

Lebih lanjut, Agus mengatakan, untuk memitigasi bencana gerakan tanah longsor, Badan Geologi secara rutin pada awal bulan membuat Buku Prakiraan Wilayah Potensi Terjadi Gerakan Tanah di Indonesia yang memuat peta dan informasi umum wilayah yang berpotensi terjadinya gerakan tanah dan banjir bandang di Indonesia.

Peta perkiraan tersebut berdasarkan hasil tumpang susun antara peta zona kerentanan gerakan tanah yang diterbitkan oleh Badan Geologi dengan Peta Prakiraan Curah Hujan yang diterbitkan oleh Badan Meteorologi Klimatologi Dan Geofisika (BMKG), sehingga peta potensi terjadi gerakan tanah tersebut akan berubah, tergantung peta prakiraan curah hujan bulanan.

"Peta Prakiraan Terjadinya Gerakan Tanah ini dapat digunakan sebagai acuan peringatan dini gerakan tanah saat curah hujan di atas normal, di Kabupaten/Kota yang rawan gerakan tanah/longsor," tandasnya. (RG)

Tags : News


0 Komentar

Berikan komentar anda

Top