AGENDA CORPORATION
Trending

’19 Tahun Geo Dipa’ Jalan Panjang Terangi Negeri Lewat Energi Panas Bumi

’19 Tahun Geo Dipa’ Jalan Panjang Terangi Negeri Lewat Energi Panas Bumi

Listrik Indonesia | 19 tahun sudah PT Geo Dipa Energi (Persero) berdiri menerangi negeri lewat energi panas bumi (geothermal) yang dikelolanya. Cerita panjang tertulis dalam perjalanan perusahaan mulai dari krisis finansial (sulit mendapatkan pendanaan) hingga sukses menjadi raja geothermal di Tanah Air.

Senin, 5 Juli 202, pagi hari, GeoDipa baru saja melaunching Buku Putih Geo Dipa Energi. Buku yang ditulis oleh Dr Marwan Batubara seorang pengamat energi dalam karya tulisnya yang menyiratkan perjalanan GeoDipa dari masa ke masa. Bahwa Indonesia patut berbangga memiliki Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang satu-satunya fokus terhadap pengembangan dan pengelolaan energi panas bumi.

Menjadi BUMN

Buku berjudul ‘Buku Putih Geo Dipa Energi Mempertahankan Aset Negara’ diawali dengan GeoDipa sebagai BUMN Penguasaan negara terhadap sumber daya alam, termasuk panas bumi, ditegaskan dalam UUD 1945. Dalam Pasal 33 Ayat (2) menyatakan, “Cabang-cabang produksi yang penting bagi Negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai olehNegara”, sedangkan Ayat (3) menyatakan. “Bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat”.

 

“Maka dalam hal ini GeoDipa sebagai pengelola kekayaan alam Negara masuk sebagai BUMN,” tegas Marwan dalam acara bedah buku secara daring. Senin, (5/7).

 

Kemudian, pada 5 Juli 2002 PT Pertamina (Persero) dengan PT PLN (Persero) melakukan joint venture mendirikan PT Geo Dipa Energi (Persero) dengan tujuan utama mengelola lapangan panas bumi Dieng dan Patuha, aset yang diperoleh pemerintah, sekaligus menandai hari lahirnya GeoDipa.

 

GeoDipa sendiri diambil dari kata “Geo” (Geothermal) dan "Dipa" kenjangan (Dieng dan Patuha) yang dahulu berkantor pusat di Bandung dengan modal dasar GeoDipa ditetapkan sebesar Rp.2.000.000.000.000,00 (dua triliun Rupiah) dengan pembagian saham Pertamina 66,67% dan PLN 33,33%. Pertamina kemudian menghibahkan seluruh saham yang dimilikinya di GeoDipa kepada pemerintah pada 2010. Dengan adanya hibah saham Pertamina tersebut maka negara menjadi pemegang mayoritas saham GeoDipa, dan kemudian statusnya ditetapkan sebagai Perusahaan Perseroan (Persero).

Bedah Buku Putih GeoDipa yang Dilaksanakan Secara Daring


Perkembangan Proyek

 

Perlu diketahui, berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Indonesia memiliki potensi EBT yang sangat besar, yakni sekitar 432-442 Giga Watt (GW) yang terdiri dari energi surya, air, bayu, biomassa, laut, dan panas bumi. Dibanding kapasitas terpasang listrik nasional baru sekitar 71 GW (status Juni 2020), potensi listrik EBT tersebut baru sekitar 10 GW yang termanfaatkan (2,3 persen). Khusus untuk EBT yang bersumber dari PLTP, kapasitas listrik yang terpasang di seluruh Indonesia masih baru mencapai 2,13 GW (Juni 2020). Padahal Indonesia memiliki potensi listrik panas bumi yang sangat besar, yakni sekitar 23,9 GW.

 

Sejak didirikan pada 5 Juli 2002, GeoDipa mendapatkan hak pengelolaan Wilayah Kuasa Pengusahaan Sumber Daya Panas Bumi (WKP) Area Dieng dan Area Patuha dan beroperasi sejak 4 September 2002 setelah serah terima dari BPDP (Badan Pengelola Dieng Patuha) atau Badan yang melakukan pengelolaan Dieng dan Patuha sebelum berdirinya GeoDipa. Saat itu, GeoDipa mulai mengoperasikan PLTP Dieng Unit 1 dengan kapasitas 60 MW.

 

“Dieng Unit 1 yang sejak awal menghadapi kendala dan hambatan operasi yang sangat serius seperti turbin tua, timbulnya scaling pada pipa penyalur maupun pipa sumur injeksi. Dari sini kita bertekad GeoDipa menyusun program dalam rangka peningkatan produksi uap panas bumi mencapai 55 MW. GeoDipa melakukan optimalisasi PLTP Dieng Unit 1,” ujar Direktur Utama Geo Dipa Riki F Ibrahim.

 

Geo Dipa juga tengah menyelesaikan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Dieng skala kecil berkapasitas 10 megawatt (MW), PLTP Dieng Unit 2 dan 3 dengan kapasitas 2 x 55 MW, PLTP Patuha Unit 2 dan 3 berkapasitas 2 x 55 MW, dan PLTP Candradimuka, Kota Banjarnegara, Jawa Tengah 40 MW.

 

Selain mengembangkan proyek PLTP di wilayah kerja panas bumi yang telah beroperasi, Geo Dipa melanjutkan kegiatan eksplorasi di empat area prospek. Keempat lokasi penjajakan, yakni Candradimuka (Jawa Tengah), Cimanggu Patuha (Kabupaten Bandung, Jawa Barat), Candi Umbul Telomoyo (Jawa Tengah), dan Arjuno Wilerang (Jawa Timur).

 

Riki juga menjelaskan perusahaan energi yang dipimpinnya juga terlibat beberapa aktivitas eksplorasi di beberapa wilayah sebagai special mission vehicle (SMV) Kementerian Keuangan. Bekerja sama dengan beberapa perusahaan di bawah Kementerian Keuangan, seperti PT SMI dan PT PII. Pendanaannya multilateral bank.

 

Lokasinya di area Waesano (Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur), Jailolo (Halmahera barat, Maluku Utara), Nage (Kabupaten Manggarai Timur, NTT), dan Bituang (Kabupaten Tanah Toraja, Sulawesi Selatan).

 

Pengembangan panas bumi juga menemui sejumlah tantangan seperti Terbatasnya lembaga keuangan yang bersedia memberi pinjaman dalam fase eksplorasi, Harga EBT masih harus bersaing dengan pembangkit fosil, Transparansi dan jangka waktu penerbitan izin dapat mempengaruhi keekonomian proyek, Pengembangan VS konservasi hutan, Risiko dalam masa eksplorasi sangat tinggi, Banyak pengembang yang belum memenuhi 5C (character, capacity, capital, condition, dan collateral).

"Belum lagi kecenderungan Capex panas bumi stagnant, sementara Capex EBT lainnya semakin kompetitif. Agar lebih kompetitif perlu relokasi manufaktur PLTP dan implementasi konsep portofolio," terangnya.

 

Untuk mencapai target 24 GW strategi dari GeoDipa ialah melakukan pengembangan dan penerapan teknologi yang efisien: eksplorasi deep slim hole, binary, small scale, kemitraan dengan PLN (open book), mejalin kemitraan dengan swasta, Optimalisasi Dieng 400 MW dan Patuha 400 MW, selanjutnya mengimplementasikan Agency Government Drilling, dan melakukan pengembangan SDM.

 

GeoDipa saat ini berhasil mengoperasikan PLTP dengan total kapasitas terpasang 120 MW dengan target 1,2 GW pada 2075. Dengan begitu, kontribusi GeoDipa dalam pengurangan emisi gas rumah kaca sejauh ini sebesar 5,1 juta tCO2e diproyeksikan pada 2075 turun hingga 138 juta tCO2e.


Related Articles

0 Komentar

Berikan komentar anda

Back to top button