NEWS
Trending

2019, Rasio Elektrifikasi Maluku Capai 91,6 persen

2019, Rasio Elektrifikasi Maluku Capai 91,6 persen
Haryanto WS, Direktur Bisnis PT PLN (Persero) Regional Maluku dan Papua (berbatik). (Foto: Dedy Hassan)
Listrik Indonesia | PT PLN Maluku-Maluku Utara mencatat hingga rasio elektrifikasi di Provinsi Maluku hingga 2016 mencapai 77,44 persen.

"Kami terus berupaya untuk melistriki semua ibu kota kecamatan dan terus meningkatkan rasio elektrifikasi di Maluku. Tinggal 17 ibu kota kecamatan lagi yang akan dilistriki oleh PLN," kata Direktur Bisnis PT PLN Regional Maluku dan Papua Haryanto WS di sela-sela media brifing di Kantor Pusat PLN(25/4).

Ia mengungkapkan pada 2017 pihaknya akan melistriki 91 desa dan tujuh ibu kota kecamatan. Pada 2018 akan melistriki 121 desa dan 10 ibu kota kecamatan, dan 2019 akan melistriki 45 desa sehingga ditargetkan 384 desa akan terlistriki sampai dengan 2019 untuk mencapai rasio elektrifikasi 91,6 persen.

"Berbagai upaya kami lakukan untuk meningkatkan pelayanan kelistrikan di Maluku sebagai salah satu upaya mewujudkan program Nawacita pemerintah melalui program 35.000 MW," jelasnya

Khusus di Maluku dan Papua, PLN bertekad untuk menjadikan Maluku Papua Terang pada 2020 sebagai wujud kerja nyata PLN untuk menerangi negeri.

Haryanto menjelaskan peningkatan RE senada dengan target peningkatan jumlah pelanggan PLN di Maluku pada 2016 mencapai 274.273 pelanggan, diharapkan 2017 akan meningkat hingga mencapai 291.773 pelanggan.

Pihaknya terus berupaya mewujudkan Program Maluku Terang 2020 yang juga menjadi pendukung Program Indonesia Terang dari pemerintah.

"Saat ini kami fokus untuk terus meningkatkan keandalan sistem dan pelayanan kelistrikan di Maluku. Mulai dari membangun beberapa infrastruktur kelistrikan, penambahan jumlah mesin dan jaringan hingga melistriki desa-desa dan pulau terluar yang belum berlistrik," ujarnya.

Sementara itu, PLN berhasil menambah pasokan listrik di Ambon setelah Kapal Pembangkit Listrik MVPP Yasin Bey beroperasi secara komersial (COD). Untuk tahap pertama, pembangkit listrik apung ini mampu menambah pasokan hingga 54 MW, selanjutnya suplai listrik yang dihasilkan akan meningkat sesuai kontrak hingga 60 MW yang tersambung melalui sistem 70kV.

Masuknya aliran listrik dari kapal apung lanjutnya, ditandai dengan penandatanganan berita acara Commercial Operation Date (COD) pihak PLN Wilayah Maluku dan Maluku Utara (M2U) dan pihak PT Kar Powership Indonesia, selaku operator dan pemilik kapal MVPP.

Diakuinya, sebelum kapal pembangkit beroperasi, kemampuan suplai pembangkit di Ambon sebesar 62 MW dari total beban puncak yang mencapai 54 MW. Dengan adanya tambahan daya 60 MW dari MVPP Yasin Bey, maka akan ada cadangan daya sebesar 68 MW untuk sistem kelistrikan Ambon.

MVPP tersebut akan menyalurkan daya melalui jaringan transmisi 70 kV ke Gardu Induk (GI) Passo dan GI Sirimau yang sudah selesai dibangun tahun 2016 sebelum akhirnya disalurkan ke jaringan distribusi menuju rumah pelanggan.

Saat ini, PLN juga sedang membangun beberapa proyek infrastruktur ketenagalistrikan di Pulau Ambon,yaitu pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Tulehu berkapasitas 2x10 MW yang saat ini sedang dalam tahap IPM Drilling (pengeboran) dan ditargetkan beroperasi (Commercial Operation Date/COD) tahun 2020.

"Selain itu Pembangkit Listrik Tenaga Minyak dan Gas PLTMG Ambon Peaker berkapasitas 30 MW (COD 2018) serta PLTMG Ambon 2 berkapasitas 2x50 MW (COD 2020)," pungkas Haryanto WS. (DH) 

Related Articles

0 Komentar

Berikan komentar anda

Back to top button