Listrik Indonesia | Sebuah studi dari Jerman mengungkapkan bahwa kendaraan listrik menjadi pilihan yang lebih ramah lingkungan dibandingkan kendaraan berbahan bakar gas atau diesel setelah menempuh perjalanan sejauh 200.000 km. Pada tahap awal penggunaan, kendaraan listrik perlu membayar utang ekologis terkait produksi baterai yang mempengaruhi lingkungan.
Studi ini menunjukkan bahwa seiring berjalannya waktu, kendaraan listrik menjadi lebih ramah lingkungan. Setelah mencapai jarak 200.000 km, kendaraan listrik diperkirakan akan menghasilkan 24,2 ton emisi CO2. Kendaraan listrik diharuskan membayar utang ekologisnya hingga jarak 90.000 km.
Dalam perbandingan, kendaraan diesel menghasilkan emisi sebesar 33 ton, atau 36 persen lebih banyak daripada kendaraan listrik. Sementara itu, kendaraan hybrid diperkirakan mengeluarkan 24,8 ton CO2 dalam jangka waktu yang sama, hanya 0,6 ton lebih banyak dari kendaraan listrik.
Walaupun kendaraan listrik diakui sebagai pilihan yang lebih ramah lingkungan, studi juga menyoroti beberapa aspek yang perlu diperbaiki. Sebagai contoh, kendaraan listrik yang ditenagai oleh listrik dari bahan bakar fosil memerlukan waktu hingga 160.000 km untuk menjadi lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan kendaraan dengan pembakaran internal.
Studi ini memberikan beberapa rekomendasi untuk industri transportasi, termasuk pentingnya penggunaan jaringan listrik ramah lingkungan, produksi baterai kendaraan listrik yang lebih berkelanjutan, dan mendukung produksi lokal dan daur ulang. Selain itu, studi juga mendorong penggunaan bahan bakar elektronik, mempromosikan kendaraan Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV), dan meningkatkan transportasi kereta api di wilayah perkotaan.