Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif menjadi pembicara kunci pada International Energy Agency (IEA) Global Summit on People-Centred Clean Energy Transitions di Paris, Perancis. Dalam sesi pertama bertajuk Responding to Shifting Labour Dynamics, Arifin menyoroti tantangan Indonesia sebagai penghasil batubara dalam hal pergeseran peluang pekerjaan baru bagi para pekerja tambang dan pembangkit listrik tenaga fosil.
Indonesia, sebagai negara kepulauan, membutuhkan sumber energi yang besar untuk memenuhi kebutuhan energi yang tergolong rendah per kapita. Saat ini, energi fosil masih mendominasi kebutuhan energi di Indonesia, dengan batubara sebagai yang paling dominan di samping minyak dan gas bumi.
Arifin mengungkapkan, "Ketergantungan ini menciptakan banyak pekerja yang bergantung pada industri bahan bakar fosil." Namun, komitmen global untuk mengurangi penggunaan batubara menjadi tantangan bagi Indonesia sebagai negara penghasilnya.
Lebih dari 267 ribu pekerja industri pertambangan batubara dan sekitar 32 ribu pekerja pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) membutuhkan peluang pekerjaan baru. Dalam konteks ini, Pemerintah Indonesia telah mengimplementasikan berbagai program untuk memastikan adanya peluang pekerjaan berkualitas tinggi selama transisi dari energi fosil menuju energi baru terbarukan.
Salah satu program yang ditekankan adalah pemanfaatan lahan bekas tambang sebagai sumber energi, seperti perkebunan biomassa dan lokasi pembangkit listrik tenaga surya, serta pendidikan dan pelatihan teknologi Energi Baru Terbarukan (EBT) bagi pekerja industri batubara.
Arifin juga menyoroti pentingnya program pengembangan masyarakat, seperti pendidikan, keterampilan berwirausaha, dan pembangunan infrastruktur, yang diterapkan oleh perusahaan tambang melalui regulasi untuk mendukung masyarakat lokal.
Dengan langkah-langkah ini, Pemerintah berharap dapat menjaga lapangan kerja dan memastikan transisi energi yang berkelanjutan serta inklusif bagi semua pemangku kepentingan di Indonesia.