Memiliki Potensi Ratusan Triliun, Bisnis Karbon RI Menjanjikan?

Senin, 20 Mei 2024 | 16:38:10 WIB
Bisnis karbon. (Dok: @sunenergyid)

Listrik Indonesia | Menteri Koordinator Maritim dan Investasi (Marves), Luhut B. Panjaitan mengungkapkan berdasarkan penelitian dari berbagai lembaga, Indonesia berpotensi meraih pendapatan sekitar Rp112,5 triliun dari bisnis penjualan karbon. Hal tersebut ia ungkapkan melalui keterangan tertulis yang disiarkan Kementerian Energi Sumber Daya dan Mineral (Kementerian ESDM), Senin (20/5/2024).

"Indonesia diberkati dengan sumber daya alam yang sangat besar yang dapat digunakan untuk mengatasi perubahan iklim. Berdasarkan beberapa penelitian, termasuk McKinsey pada tahun 2023, Indonesia memiliki potensi Nature Based Solutions (NBS) atau Ecological Based Approach (EBA) yang sangat besar dari upaya mitigasi hingga 1,5 GT CO2eq per tahun, sekitar Rp 112,5 triliun atau USD 7, 1 miliar," ungkapnya.

Indonesia saat ini sedang berupaya menuju Net Zero Emission 2060. Berdasarkan Konsensus COP28 UEA, semua pihak berkomitmen untuk beralih dari bahan bakar fosil, mempercepat pengurangan emisi NDC yang ambisius dan berskala ekonomi, serta mendorong tiga kali lipat energi terbarukan dan dua kali lipat efisiensi energi pada tahun 2030.

Luhut menilai Indonesia memiliki potensi besar untuk memanfaatkan sumber daya alamnya secara berkelanjutan dan menghasilkan pendapatan dari penjualan karbon melalui mekanisme carbon pricing yang berstandar internasional. 

"Indonesia diberkati dengan sumber daya alam yang sangat besar yang dapat digunakan untuk mengatasi perubahan iklim," tambahnya.

Luhut juga membahas inisiatif Indonesia di sela-sela KTT G20, yaitu Global Blended Finance Alliance (GBFA), yang menurutnya bisa menjadi solusi menghadapi tantangan global perubahan iklim.  

"Melalui GBFA, kami meletakkan dasar bagi perubahan transformatif, memanfaatkan keuangan campuran dan pengetahuan masa depan untuk mempercepat penciptaan nilai dan investasi di sektor-sektor ekonomi utama seperti energi, hutan, ekonomi biru, termasuk hutan bakau dan lamun, kesehatan infrastruktur, dan keberlanjutan. pariwisata," jelasnya.

Dia menambahkan bahwa GBFA bukan hanya solusi untuk mengatasi transisi energi, tetapi juga menunjukkan kepemimpinan Indonesia dalam bidang hutan dan bakau sebagai bagian dari solusi berbasis alam untuk aksi iklim.

Tags

Terkini