Keluarnya AS dari Perjanjian Paris akan Jadi Bumerang

Minggu, 26 Januari 2025 | 11:13:56 WIB

Listrik Indonesia | Amerika Serikat keluar dari Perjanjian Paris. Benarkah ini bencana bagi akselerasi transisi energi di Indonesia? Di saat negeri ini membutuhkan dana jumbo untuk membangun pembangkit listrik energi terbarukan, Presiden Donald Trump justru mengeluarkan kebijakan Amerika Serikat out dari Paris Agreement.

Sejumlah pihak di Indonesia menyayangkan kebijakan tersebut. Karena biar bagaimana pun, kebijakan tersebut akan mempengaruhi komitmen pendanaan transisi energi di Indonesia.

Menurut Fabby Tumiwa, Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR), dengan keluarnya Amerika Serikat dari Paris Agreement akan bisa memperlambat transisi energi di Indonesia, namun tidak bisa menghentikan transisi energi secara global. “Mungkin Amerika Serikat sendiri yang akan terdampak,” katanya kepada Listrik Indonesia.

Fabby sendiri tidak terlalu mengkhawatirkan keluarnya Amerika Serikat dari Perjanjian Paris. Menurutnya, Amerika Serikat hanya mencabut mandatnya di Paris Agreement, tapi tidak melarang transisi energi di Amerika.

“Saya tidak khawatir keluarnya AS akan mempengaruhi transisi energi secara global. Karena transisi energi global sudah terjadi saat ini,” ucap peraih penghargaan sebagai “A Figure who Persistently Fought for the Development of Solar Energy” pada tahun lalu ini.

Lalu bagaimana nasib Indonesia terhadap keberlangsungan transisi energi jika salah satu negara pendonornya sudah tidak berkomitmen lagi? Secara tegas Fabby berucap bahwa soal mengakselerasi energi baru terbarukan 2030 dengan target bauran 35 persen harus dituangkan dalam roadmap transisi energi yang jelas.

“Untuk transisi energi jika Amerika dirasa susah, beralih saja ke China. Dengan Amerika kerja sama yang lain saja yang sesuai dengan kebijakannya Trump. Misalnya bekerja sama dengan perusahaan minyak Amerika untuk pengembangan CCS (Carbon Capture Storage),” tegas Fabby.

Jadi kata Fabby dengan keluarnya AS ini Indonesia tak perlu terlalu dikhawatirkan. “No worry to much, namun komitmen transisi energi juga jangan hanya omon-omon. Tapi dibuat rencana yang terukur,” imbuhnya.

Tags

Terkini