HDI: Ikuti Kebijakan Transisi Energi China dan India

Selasa, 28 Januari 2025 | 16:44:17 WIB

Listrik Indonesia | Prediksi sejumlah pengamat energi di Tanah Air mulai menjadi kenyataan pasca Amerika Serikat keluar dari Perjanjian Paris.  Sebelumnya banyak analis memperkirakan kembalinya Trump ke Gedung Putih dapat memicu perang dagang. Tak hanya itu, Trump juga akan memberi dampak lainnya terutama ke sektor energi.

Trump menyatakan Amerika Serikat dari Perjanjian Paris yang dihasilkan dari Konferensi Perubahan Iklim 2015. Pernyataan Trump tersebut tertulis dalam Perintah Eksekutif setelah Trump dilantik pada Senin, 20 Januari 2025 lalu. Bahkan Trump menyebut aksinya tersebut guna menghentikan 'tipuan perjanjian iklim Paris yang tidak adil dan sepihak.'

Trump memang dikenal sebagai orang yang pro fossil fuel dan pro terhadap pemanfaatan batu bara. Trump kemungkinan akan mendorong kembali minyak dan gas untuk menggerakkan ekonomi AS. Lantas apakah keluarnya AS dari Paris Agreement ini akan mengancam jalannya transisi energi di Indonesia?

Menurut Herman Darnel Ibrahim, Ketua Dewan Pakar Majalah Listrik Indonesia, keluarnya AS dari Perjanjian Paris tak hanya memengaruhi jalannya transisi energi di Indonesia, tapi juga dunia.

“Tentu akan mengganggu jalannya transisi energi dunia. Karena konsumsi energi primer Amerika Serikat itu sekitar 25 persen dari konsumsi dunia,” terang Herman yang akrab disapa HDI. Dia juga mengatakan gangguan itu sepanjang masa kepemimpinan Trump saja dan berharap nanti AS akan kembali masuk dalam Perjanjian Paris.

Menurutnya jika Amerika tidak melakukan transisi dan terus membakar BBM (bahan bakar miyak) dan batu bara tentunya akan menghasilkan emisi yang lebih besar. Jumlahnya bisa mencapai 5 miliar ton per tahun.  Karena emisi yang dihasilkan AS besar, maka akan mempengaruhi secara psikologis secara global.

“Kebijakan Trump ini tampaknya mengutamakan pengamanan pasok dan harga energi agar serendah mungkin. Transisi energi Indonesia juga mendahulukan keamanan pasok dan ‘keterjangkauan’ harga,” katanya kepada LIstrik Indonesia.

Mengingat penerima manfaat transisi energi adalah global dan emisi energi Indonesia hanya sekitar sepersepuluh dari Amerika Serikat, Herman merujuk Indonesia untuk mengikuti langkah China dan India.

“Dalam kondisi seperti saat ini, bijaknya adalah sikap Indonesia mengikuti kebijakan dan langkah negara seperti Cina dan India dalam bertransisi energi,” tegasnya.

Tags

Terkini