IFHE dan CAST Foundation Jalin Kolaborasi di GHES 2025 untuk Desa Hidrogen Hijau

Senin, 21 April 2025 | 10:27:14 WIB
Penandatanganan kerjasama antara CAST Foundation dan IFHE dalam mengembangkan inovasi dan teknologi Desa Hidrogen Hijau pada Agenda GHES) 2025. (Dok: IFHE)

Listrik Indonesia | CAST Foundation dan IFHE menandatangani perjanjian kerjasama untuk mengembangkan inovasi dan teknologi Desa Hidrogen Hijau. Penandatanganan tersebut dilaksanakan pada Agenda Global Hidrogen Energi Summit (GHES) 2025 beberapa waktu yang lalu, dikutip pada Selasa (15/04/2025).

Perjanjian tersebut ditandatangani oleh Ilham A. Habibie, selaku Ketua dan Dewan Pengurus CAST Foundation, bersama Hary Devianto, Deputi I IFHE, dengan disaksikan langsung oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia, Bahlil Lahadalia.

Nota kesepahaman ini bertujuan membentuk kerangka kolaborasi antara IFHE dan CAST Foundation dalam mempromosikan penelitian dan pertukaran akademis di bidang inovasi hidrogen, baik dengan lembaga dalam negeri maupun luar negeri. Salah satu bentuk awal dari kerja sama ini adalah pembangunan prototipe Desa Hidrogen Hijau di Desa Serangan, Bali. Lokasi ini dipilih karena karakter masyarakatnya yang kuat dalam mempertahankan budaya lokal dan keterbukaan terhadap inovasi.

Menurut Ilham A. Habibie, program Desa Hidrogen Hijau sangat penting untuk dikembangkan.

“Program Desa Hidrogen Hijau sangat penting untuk dikembangkan, karena masyarakat desa, masyarakat desa pesisir di Bali misalnya, adalah kelompok yang tepat untuk membangun kesadaran tentang energi terbarukan. Langkah ini harus segera dimulai. Kita bersama kelompok masyarakat pedesaan perlu mengembangkan keterampilan khusus agar siap menghadapi masa depan dalam bidang energi terbarukan. Program ini akan memberikan akses pada inovasi dan teknologi untuk membantu mereka menjaga keberlanjutan potensi alam dan budaya, sekaligus siap menghadapi tantangan perubahan iklim,” ungkapnya.

Sementara itu, alasan pemilihan desa pesisir sebagai lokasi awal juga dijelaskan oleh Wan Zaleha, Founding Partner CAST Foundation. Desa pesisir cenderung rentan terhadap dampak iklim, seperti misalnya, kenaikan permukaan laut, penurunan stok ikan, dan polusi. 

“Desa pesisir cenderung rentan terhadap dampak iklim, seperti misalnya, kenaikan permukaan laut, penurunan stok ikan, dan polusi. Desa pesisir juga merupakan daerah yang kaya akan warisan budaya lokal. Salah satu contohnya adalah Desa Serangan, yang merupakan desa pesisir, yang bukan hanya sebuah lokasi; tapi desa ini adalah komunitas hidup yang berakar pada adat Bali, tradisi Banjar, sekaligus juga memiliki warisan muslim Bugis. Setiap transisi energi berkelanjutan di Indonesia harus menghormati dan menyelaraskan dengan keragaman budaya di masing-masing lokasinya,” jelasnya.

Dukungan juga datang dari Eniya Listiani Dewi, Direktur Jenderal EBTKE-ESDM. Dalam pernyataannya, ia menilai pendekatan CAST Foundation melalui kolaborasi budaya dan teknologi sebagai langkah yang memberi dampak positif. 

“Creativity bermula dari blending culture. CAST Foundation juga perpaduan berbagai negara dan pengalaman, ini akan membentuk improvement yang dahsyat. Sedahsyat energi hidrogen guna mendulang masa depan yang lebih cerah," tuturnya.

IFHE dan CAST Foundation akan mengembangkan bersama pemanfaatan hidrogen sebagai energi terbarukan. Hidrogen dapat diproduksi dari sumber energi terbarukan seperti tenaga surya dan elektrolisis air, dua potensi energi yang cukup melimpah di Indonesia.

Menurut Hary Devianto dari IFHE, pembentukan ekosistem low carbon hydrogen harus dimulai sejak dini dengan melibatkan banyak stakeholder.

“Pembentukan ekosistem low carbon hydrogen harus dimulai sejak dini dengan melibatkan banyak stakeholder, diantaranya adalah IFHE dan CAST Foundation, untuk membuka cakrawala dan kesadaran masyarakat terkait H2 dan fuel cell. Kerja sama ini bisa mendorong lahirnya startup berbasis teknologi hijau yang menghubungkan inovasi energi dengan industri kreatif, membuka peluang ekonomi baru di Indonesia,” jelasnya.

CAST Foundation mengambil pendekatan berbeda dibanding praktik industri hidrogen pada umumnya. Mereka mengutamakan keterlibatan masyarakat akar rumput, memberikan ruang partisipasi dalam pemenuhan kebutuhan energinya sendiri. Sementara IFHE, yang beranggotakan para ahli dan ilmuwan di bidang fuel cell dan hidrogen, telah memperkenalkan teknologi ini sejak tahun 2007. Organisasi ini mendukung agenda SDG 7 (energi bersih dan terjangkau) serta SDG 13 (aksi iklim).

Implementasi lokal dari program ini dilakukan bersama FabLab Bali, sebuah laboratorium inovasi terbuka yang bekerja langsung dengan masyarakat Desa Serangan. FabLab Bali menjadi fasilitator dalam mengembangkan intervensi berbasis komunitas yang mengarah pada pertumbuhan ekonomi regeneratif di wilayah tersebut.

Tomas Diez, Founding Partner & Direktur Meaningful Design Group: Fab Lab Bali, menjelaskan bahwa Desa Hidrogen Hijau merupakan proyek inisiatif unggulan dari Meaningful Design Group. 

Melalui inisiatif ini, Meaningful Design Group merintis prinsip-prinsip inti untuk pembangunan desa berkelanjutan di Indonesia. Teknologi, khususnya melalui penerapan prinsip Fab Lab dan Fab City, menjadi katalis penting untuk pemberdayaan masyarakat lokal. Di saat yang sama, Meaningful Design Group juga mendapatkan wawasan berharga dari banjar-banjar lokal tentang bagaimana cara berkolaborasi secara efektif dengan komunitas di Bali, dengan menghormati warisan budaya dan tradisi yang ada. Meaningful Design Group mengadopsi prinsip open-source dan inovasi terdistribusi yang telah terbukti berhasil di ranah digital, dan kini Meaningful Design Group terapkan ke dalam ranah fisik pada skala yang nyata: desa.

Program Desa Hidrogen Hijau yang dirintis oleh CAST Foundation adalah bagian dari Koalisi Bali Emisi Nol Bersih (Koalisi Bali ENB) 2045, yang juga melibatkan organisasi lain seperti World Resources Institute (WRI) Indonesia, Institute for Essential Services Reform (IESR), dan New Energy Nexus (NEX) Indonesia.

Tags

Terkini