Jejak ‘Wanita Listrik’ Menyulut Asa, Menyalakan Desa

Kamis, 29 Mei 2025 | 16:08:47 WIB
Tri Mumpuni/Dok.Wikipedia

Listrik Indonesia | Tri Mumpuni, tokoh yang dijuluki "wanita listrik" semangatnya tak peranah surut menghadirkan energi bukan hanya dalam bentuk listrik, tetapi juga semangat keadilan sosial bagi masyarakat yang hidup di wilayah 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal).

Tri Mumpuni, anggota Dewan Pengarah BRIN dan Ketua Yayasan IBEKA, telah dikenal luas atas kiprahnya menghadirkan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) di puluhan desa terpencil di Indonesia. Ia bukan sekadar menghadirkan cahaya, tapi juga membuka jalan bagi peningkatan kualitas hidup dan kegiatan ekonomi masyarakat yang selama ini tersisih dari pembangunan.

Dalam sebuah forum internasional yang dihadirinya baru-baru ini di Brasil, ia berdiskusi tentang keadilan energi bersama suku-suku asli Amazon. “Membuat saya senang sekaligus sedih,” ucapnya. “Masih banyak hak dasar yang belum dipenuhi, bukan hanya di Indonesia tapi juga di seluruh dunia.”

Awalnya, bukan Tri Mumpuni yang mempelajari teknologi mikrohidro melainkan suaminya di Swiss. Ia sendiri mengaku hanya “ikut ngintil” dan melihat langsung bagaimana air sungai bisa diubah menjadi energi listrik. Tapi justru dari pengamatan dan pengalaman langsung itu, ia menyadari: energi adalah pintu masuk pembangunan desa.

“Begitu desa punya listrik, semuanya berubah. Anak-anak bisa belajar malam hari, puskesmas bisa simpan vaksin, ibu-ibu bisa produksi anyaman rotan di malam hari,” katanya dalam siaran podcast ICDX, dikutip  Kamis (29/5/2025).

 “Energi itu bukan cuma soal cahaya. Ini soal ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan martabat manusia.”

Gotong Royong dan Modal Sosial

Cerita Bu Puni begitu ia akrab disapa bukanlah tentang teknologi tinggi yang rumit, tapi tentang gotong royong, kepercayaan, dan akal sehat. “Waktu bangun PLTMH di Jawa Barat tahun 1996, dana dari Jepang hanya cukup separuh. Sisanya ya gotong royong. Pasir, batu, semuanya dari warga. Barang-barang berat diangkut malam-malam pakai bambu dan iringan musik!” kenangnya sambil tertawa.

Di sinilah ia menekankan pentingnya modal sosial satu dari lima pilar pembangunan menurutnya, bersama modal manusia, sumber daya alam, spiritual, dan terakhir modal finansial. “Sayangnya dunia sekarang kebalik. Semua diukur dari uang. Padahal, dulu kita bisa merdeka pakai bambu runcing, bukan dolar IMF.”

Energi untuk Membangun Masa Depan

Bu Puni bukan hanya membangun pembangkit. Ia memperjuangkan agar masyarakat bisa menjual listriknya ke PLN. “Di Swiss, petani punya 13 kW bisa jual listrik ke grid. Itu jadi tabungan pensiunnya. Kenapa di Indonesia enggak bisa?” katanya. Perjuangan itu membuahkan hasil lewat skema PLTMH tersebar dan peraturan pembelian listrik oleh PLN dari pembangkit kecil.

“Kalau desa bisa menjual listrik, mereka punya fresh money. Bisa untuk pendidikan, kesehatan, modal usaha. PLN juga untung karena enggak perlu bangun jaringan sampai pelosok. Listrik bersih, masyarakat mandiri, PLN hemat. Semua diuntungkan.”

Di tengah maraknya solar panel, Bu Puni tetap percaya pada kekuatan mikrohidro. “Dia menyala 24 jam, stabil, dan murah. Ini bukan hanya soal sekarang, tapi masa depan. Mikrohidro bisa bertahan 300 tahun kalau dirawat, seperti di Jepang.”

Kini, IBEKA telah membangun puluhan mikrohidro di seluruh Indonesia, menerangi ratusan ribu jiwa. Di Sumatera Selatan, sebuah desa dengan pembangkit 224 kW kini menghasilkan pendapatan sendiri dari menjual listrik. “Itu baru satu desa. Bayangkan kalau seribu desa seperti itu,” ujarnya penuh harap.

Di balik kerja teknis dan advokasi regulasi yang tak pernah putus, Bu Puni percaya bahwa yang ia kerjakan adalah energi kemanusiaan. Bukan sekadar listrik, tapi semangat, keberdayaan, dan keadilan. “Kita tidak hanya menyalurkan energi dalam arti listrik, tapi energi yang membangkitkan ekonomi, pendidikan, bahkan harga diri masyarakat desa.”

Tak heran jika mantan Presiden AS, Barack Obama, pernah menyebut nama Tri Mumpuni dalam pidatonya sebagai sosok yang inspiratif. Pengakuan serupa juga datang dari Majalah Listrik Indonesia yang menganugerahkan Tanda Kehormatan kepada Tri Mumpuni sebagai 'Tokoh Penggerak Industri Mikro Energi'."

Tapi bagi Bu Puni, pengakuan terbesar adalah ketika ia melihat anak-anak bisa belajar malam hari, ibu-ibu bisa berkarya, dan desa menjadi hidup kembali. “Ini bukan mimpi,” katanya. “Ini Indonesia yang seharusnya.”

Tags

Terkini