Listrik Indonesia | Menjelang libur perayaan Idul Adha 1446 H, PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI), selaku subholding dari PLN, memastikan ketersediaan pasokan energi primer seperti batu bara, gas, dan BBM untuk seluruh pembangkit dalam kondisi stabil dan aman.
Direktur Utama PLN EPI, Iwan Agung Firstantara, menyampaikan bahwa data terkini per 4 Juni 2025 menunjukkan rata-rata Hari Operasi Produksi (HOP) batu bara di PLTU PLN pada berbagai wilayah masih berada dalam batas aman. Hal ini memungkinkan antisipasi dini terhadap potensi gangguan pasokan listrik selama libur panjang Idul Adha.
“Kami menjamin pasokan listrik tetap stabil saat Hari Raya Idul Adha, agar masyarakat bisa beribadah dan berkumpul bersama keluarga tanpa gangguan. Kenyamanan masyarakat dalam merayakan hari besar keagamaan menjadi prioritas kami,” ujar Iwan.
Ia menambahkan, PLN EPI terus memperkuat ketahanan rantai pasok energi primer agar seluruh unit pembangkit memperoleh pasokan yang mencukupi. Saat ini, cadangan batu bara berada pada level yang sangat aman.
"Secara rata-rata, HOP untuk batu bara mencapai 25 hari. Untuk BBM berada di kisaran 11,20 hari. Sementara pengiriman gas dan LNG berlangsung sesuai rencana," jelasnya.
Secara lebih rinci, HOP batu bara tercatat sebagai berikut: wilayah Jawa, Madura, dan Bali sebesar 24,7 hari; Sumatera dan Kalimantan (Sumkal) 26,1 hari; serta wilayah Sulawesi, Maluku, Papua, dan Nusa Tenggara (Sulmapana) mencapai 28,2 hari.
“PLN EPI tetap siaga penuh guna memastikan keandalan pasokan energi primer bagi seluruh pembangkit listrik dalam naungan PLN Grup,” lanjut Iwan.
Sebagai bagian dari sinergi untuk menjaga keandalan kelistrikan nasional, PLN EPI juga aktif berkoordinasi dengan subholding lain yaitu PLN Indonesia Power dan PLN Nusantara Power. Tujuannya adalah memastikan distribusi energi primer tetap lancar selama masa libur Idul Adha.
Tak hanya menjaga kontinuitas pasokan, Iwan menekankan bahwa PLN EPI turut berperan dalam upaya Pemerintah mengurangi emisi karbon menuju target Net Zero Emission (NZE) pada 2060, dengan mendorong pemanfaatan biomassa dalam bauran energi primer.
“Biomassa merupakan bagian dari Energi Baru Terbarukan (EBT) yang tidak hanya membantu menurunkan emisi karbon, tetapi juga lebih ekonomis dan memberikan manfaat ekonomi berlapis (multiplier effect) bagi masyarakat dan daerah,” tutup Iwan.