Listrik Indonesia | Gelaran Formula E Jakarta 2025 menjadi panggung penting bagi ABB Indonesia bukan hanya sebagai mitra teknologi, tetapi juga sebagai simbol komitmen kuat perusahaan terhadap keberlanjutan dan transisi energi. Gerard Chan, President Director & Country Holding Officer ABB Indonesia, mengungkapkan bahwa partisipasi ABB dalam ajang balap mobil listrik ini mencerminkan visi perusahaan dalam mendorong inovasi, efisiensi energi, dan masa depan bebas emisi karbon.
"Formula E bukan sekadar balapan. Ini adalah platform untuk menunjukkan teknologi masa depan yang nyata, yang bisa diadopsi masyarakat luas dalam kehidupan sehari-hari. Kami ingin menginspirasi konsumen, bisnis, dan pemerintah untuk bergerak menuju solusi energi yang lebih efisien," ujar Gerard dalam siaran wawancara.
Komitmen ABB untuk Indonesia
ABB Indonesia memandang Formula E sebagai ajang strategis untuk memperlihatkan solusi elektrifikasi dan digitalisasi mutakhir yang mendukung pengurangan emisi di sektor transportasi. Melalui ajang ini, ABB ingin membuktikan bahwa teknologi ramah lingkungan tak hanya milik negara maju, tetapi juga relevan dan aplikatif di negara berkembang seperti Indonesia.
“Indonesia punya potensi besar dari energi terbarukan mulai dari surya, panas bumi hingga biomassa. Dengan teknologi efisiensi energi kami seperti motor hemat energi dan sistem manajemen daya digital, kami membantu industri di Indonesia untuk tumbuh secara berkelanjutan tanpa memperbesar konsumsi energi,” tambah Gerard.
Menurut Gerard, peluang terbesar untuk mempercepat transisi energi di Indonesia terletak pada efisiensi energi industri dan modernisasi jaringan listrik (grid). Sekitar 60% konsumsi listrik industri masih berasal dari motor listrik konvensional yang boros energi. "Dengan menggantinya menggunakan teknologi motor dan drive ABB, efisiensi bisa meningkat drastis dan biaya energi berkurang," ungkapnya.
ABB juga menghadirkan solusi penyimpanan energi dan manajemen energi digital yang sangat cocok untuk wilayah-wilayah terpencil dan belum sepenuhnya teraliri listrik.
Produksi Lokal dan Kemandirian Teknologi
ABB Indonesia saat ini telah memiliki dua pabrik lokal yang memproduksi perangkat MCB dan produk tegangan menengah. Dengan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) mencapai 60%, ABB memperkuat jejak lokalnya sambil mengurangi ketergantungan pada impor. Perusahaan juga aktif menjalin kerja sama dengan sekolah vokasi dan universitas untuk menyiapkan SDM masa depan di bidang teknologi berkelanjutan.
“Kami percaya bahwa transisi energi yang berkelanjutan harus inklusif secara ekonomi. Maka dari itu, kami juga melibatkan pelaku usaha kecil-menengah dan mendukung mereka dengan pelatihan serta lokalisasi komponen,” jelas Gerard.
Target ABB Hingga 2030
Menjelang 2030, ABB Indonesia menargetkan:
- Mengurangi konsumsi energi pada motor industri hingga 25%
- Memperluas penerapan solusi elektrifikasi tegangan rendah dan menengah
- Mendukung pertumbuhan infrastruktur pengisian kendaraan listrik dengan teknologi fast-charging modular
- Meningkatkan kapasitas rekayasa dan layanan lokal untuk proyek-proyek berkelanjutan
Teknologi yang dikembangkan di ajang Formula E, seperti pengisian daya super cepat hingga 600kW, kini telah mulai diterapkan di jalanan Indonesia dengan charger 120kW dan segera 180kW. “Teknologi yang terbukti di lintasan balap akan diterjemahkan ke solusi komersial untuk transportasi publik dan logistik di kota-kota Indonesia,” kata Gerard.
ABB juga tengah mendorong pengembangan infrastruktur pengisian daya di kota lapis kedua dan wilayah luar Jawa, memastikan bahwa mobilitas bersih tidak hanya dinikmati Jakarta, tetapi juga seluruh Indonesia.
Jakarta dikenal dengan iklim panas dan kelembaban tinggi. Untuk itu, ABB mengadaptasi teknologi pendinginan, manajemen beban, dan sistem monitoring real-time guna memastikan performa optimal selama balapan. “Teknologi kami sudah teruji di medan ekstrem seperti Papua dan Kalimantan, jadi kami siap menghadapi tantangan logistik dan lingkungan,” tegas Gerard.
Ajang Formula E telah menjadi laboratorium hidup bagi inovasi teknologi kendaraan listrik. Gerard mengungkapkan, mobil balap generasi terbaru kini menggunakan ban dengan 30% material berkelanjutan dan baterai yang lebih ringan hingga 100 kilogram dari generasi sebelumnya.
“Inovasi ini akan mengalir ke kendaraan komersial, membuatnya lebih efisien, cepat, dan hemat energi. Walau kita tidak perlu mobil harian yang melaju 300 km/jam, teknologi dari lintasan bisa membuat kendaraan kita lebih hemat energi dan tetap bertenaga,” pungkasnya.