Listrik Indonesia | Langit cerah menyambut kedatangan rombongan wisatawan di Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah. Di antara mereka, tampak sosok Herman Darnel Ibrahim seorang tokoh energi nasional, Ketua Dewan Pakar Majalah Listrik Indonesia. Tapi kali ini, ia bukan datang sebagai pembicara seminar atau ahli kelistrikan. Ia datang sebagai wisatawan yang membawa bibit pohon dan semangat peduli lingkungan.
“Tadinya saya hanya ingin berwisata. Tapi begitu tahu kawasan ini menjadi pusat rehabilitasi orangutan, saya merasa perlu melakukan sesuatu,” ujar pria yang akrab disapa HDI itu, sesaat setelah menanam pohon Belangiran sejenis pohon buah yang menjadi makanan favorit orangutan.

Tidak banyak yang tahu, bahwa selain sebagai kawasan konservasi, Tanjung Puting juga menyimpan kisah perjuangan melindungi hutan dari ancaman konversi lahan.
“Sungai Sekonyer itu batas alami taman nasional di sebelah barat. Dulu, hampir saja sepanjang bantaran sungai ditanami sawit,” kisahnya.
Beruntung, kata HDI, tanah selebar 200 meter di sisi barat sungai berhasil dibeli oleh para pencinta lingkungan, termasuk dari Orangutan Foundation International (OFI). “Tanah itu sekarang diselamatkan, dan jadi benteng terakhir sebelum sawit masuk lebih jauh.”
Kegiatan penanaman pohon ini bukan sekadar seremoni. Di balik itu ada pesan yang kuat. HDI menanam dua pohon satu atas nama pribadi, dan satu lagi atas nama Majalah Listrik Indonesia. “Saya lihat Ibu Siti Nurbaya, mantan Menteri LHK, juga punya pohon di sini. Jadi saya ikut berpartisipasi. Ini bentuk tanggung jawab kita sebagai warga negara,” katanya.
Menariknya, lokasi penanaman itu bukan sembarang tempat. Dulu, kawasan tersebut sempat menjadi area pemukiman dan mengalami kerusakan akibat penebangan liar. Kini, berkat upaya rehabilitasi, kawasan itu kembali menjadi habitat alami, bahkan tempat pelepasliaran anak orangutan.
Tak hanya soal kegiatan menanam pohon, HDI juga menyoroti rendahnya jumlah wisatawan lokal yang berkunjung ke kawasan ini. “Katanya, tahun 2024 ini sudah ada lebih dari 62.000 wisatawan yang datang. Tapi yang berasal dari Indonesia jumlahnya kurang dari 1.000 orang, dengan total pendapatan kawasan ini mencapai Rp46 miliar,” ujarnya.
HDI juga menilai perlunya perbaikan infrastruktur di kawasan tersebut. “Jalan dan jembatan kayu di sini sudah ada yang rapuh. Harusnya sebagian anggaran bisa dialokasikan untuk perbaikan itu. Ini kan taman nasional kita sendiri,” katanya dengan nada prihatin.
Sebagai pembelajaran tentang alam. Karena itulah, dalam kunjungan kali ini, ia juga membawa keluarganya, termasuk cucu-cucunya.
“Saya ingin mereka belajar sejak kecil. Lihat sendiri bagaimana hutan itu harus dijaga, bagaimana satwa dilindungi. Ini pendidikan yang tak bisa didapat dari buku,” ucapnya sambil menatap lebatnya pepohonan.
Tanjung Puting memang istimewa. Di sinilah harmoni antara manusia dan alam berusaha dijaga. Hutan tropis yang menjadi rumah bagi ribuan orangutan, kini menjadi simbol perjuangan ekowisata dan konservasi di Indonesia. Dan dari sekian banyak nama yang ikut meninggalkan jejak di sana, ada nama Herman Darnel Ibrahim yang tak hanya menanam pohon, tapi juga menanam harapan.