Listrik Indonesia | Pemerintah Indonesia akan mengurangi porsi impor minyak dan gas dari kawasan Timur Tengah dan Asia. Kebijakan ini diambil sebagai bagian dari kesepakatan dagang resiprokal dengan Amerika Serikat (AS), khususnya dalam sektor energi.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menjelaskan bahwa langkah ini berkaitan dengan komitmen komersial dalam negosiasi kerja sama dagang dengan AS. Salah satu poinnya adalah pembelian produk energi seperti Liquified Petroleum Gas (LPG), minyak mentah, dan Bahan Bakar Minyak (BBM) bensin dengan nilai estimasi mencapai US$ 15 miliar.
“Mengurangi dari negara lain ya. Ya Timur Tengah lah, Timur Tengah dan Asia,” kata Bahlil, di Kompleks Istana Kepresidenan, dikutip Selasa (29/7/2025).
Bahlil menekankan bahwa peningkatan impor dari AS akan tetap memperhatikan aspek keekonomian dan harga yang kompetitif. Meski begitu, ia belum merinci secara pasti proporsi dan jadwal pengadaan untuk setiap jenis produk energi tersebut.
Saat ini, impor LPG dari AS telah berlangsung dan pemerintah berencana meningkatkan volumenya ke depan. Namun, kepastian waktu peningkatan pengiriman masih dalam proses pembahasan.
“Ya itu kan kalau LPG sudah terjadi, volumenya aja kita tingkatkan, nah volume peningkatannya sekarang kita lagi kerjakan,” ujar Bahlil.
Sebagai informasi, kontribusi BBM asal AS dalam total impor energi Indonesia saat ini masih tergolong kecil, yakni sekitar 4%. Oleh karena itu, rencana peningkatan impor dari Negeri Paman Sam ini menjadi perhatian tersendiri, terutama terkait dengan efisiensi biaya logistik dan ketepatan waktu pengiriman.