Memahami Efek Ekonomi Berkat Kehadiran Kendaraan Listrik di Jakarta

Jumat, 08 Agustus 2025 | 14:44:47 WIB
Mobil listrik. (Dok: @giias_id)

Listrik Indonesia | Jakarta, sebagai ibu kota negara, mencatat pertumbuhan ekosistem kendaraan listrik (EV) yang berdampak pada perekonomian daerah, termasuk penyerapan tenaga kerja.

Berdasarkan riset tim ekonom LPEM FEB UI dalam Labor Market Brief Volume 6 Nomor 7, aktivitas manufaktur dan transportasi terkait EV pada 2024 telah berkontribusi sekitar 10,5% terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jakarta.

"Dari angka tersebut, subsektor alat transportasi memiliki kontribusi dominan sebesar 5,8%, disusul oleh subsektor kimia dan farmasi sebesar 1,6%, serta transportasi darat sebesar 2%," dikutip dari riset LPEM FEB UI bertajuk Transformasi Ekonomi Jakarta dan Tantangan Ketenagakerjaan Inklusif, Jumat (8/8/2025).

Meski demikian, pertumbuhan ekosistem EV di Jakarta cenderung pesat di sektor jasa. Sementara itu, sektor manufaktur pendukung EV, seperti produksi komponen elektronik, produk logam, dan transportasi rel, kontribusinya relatif kecil, hanya berkisar antara 0,1% hingga 0,4%.

Riset tersebut juga menyebutkan bahwa pertumbuhan EV mendorong permintaan terhadap layanan perdagangan, jasa bisnis, teknologi informasi dan komunikasi (TIK), serta jasa keuangan. Tingkat keterkaitan antarsektor mencapai 1,40, yang menandakan adanya efek spillover cukup besar terhadap perekonomian lokal.

Dalam hal ketenagakerjaan, data 2023 menunjukkan sebagian besar pekerja sektor EV berada di subsektor transportasi penumpang darat non-bus. Kelompok ini didominasi laki-laki dengan jumlah lebih dari 300 ribu pekerja.

Subsektor lain, seperti pembangkitan listrik, instalasi kelistrikan, dan manufaktur baterai serta akumulator, mulai menunjukkan kontribusi terhadap penyerapan tenaga kerja. Namun, jumlah pekerjanya masih jauh lebih rendah dibanding subsektor transportasi penumpang darat.

Dari keseluruhan pekerja di sektor EV, proporsi perempuan hanya 5%, baik pada pekerjaan berorientasi hijau (green jobs) maupun non-hijau. Secara absolut, hanya sekitar 4,8 ribu perempuan yang terlibat di pekerjaan hijau, dan 17,6 ribu di sektor non-hijau.

"Kondisi ini jelas menunjukkan bahwa sektor EV masih menjadi sektor yang memiliki kecenderungan mempekerjakan pekerja laki-laki dan cenderung belum memiliki ruang partisipasi yang luas bagi perempuan," ungkap tim ekonom LPEM FEB UI.

Tags

Terkini